“Dengan bilik ini tenaga kesehatan tidak memerlukan alat pelindung diri saat melakukan tes swab pada pasien,” kata pengembang bilik swab, Jaka Widada, Jumat (17/4).
Dosen Departemen Mikrobiologi Pertanian Fakultas Pertanian UGM ini menjelaskan, tenaga kesehatan tidak perlu menggunakan APD karena berada di dalam bilik. Proses pengambilan sampel lendir dari dalam hidung maupun tenggorokan pasien menggunakan sarung tangan yang menonjol keluar.
Dia berharap bilik tersebut tidak hanya membantu dan menghemat APD saat pengujian swab. Bilik ini juga dapat memberikan kenyamanan bagi petugas kesehatan saat melakukan uji swab. Namun tetap memperhatikan keamanan tenaga kesehatan dan pasien.
“Tenaga kesehatan tidak perlu pakai APD hanya cukup mengunakan masker, sehingga nyaman tidak terbebani dengan hazmat yang berat dan panas,” papar pria yang meraih gelar doktor di University Tokyo ini.
Bilik ini juga dapat mengurangi limbah alat medis serta menyiasati kekurangan perlengkapan medis. Menjadi solusi alternatif bagi petugas kesehatan di tengah keterbatasan APD.
Bilik tersebut berukuran 90x90 cm dengan tinggi 2 meter. Bodi bilik terbuat dari bahan alumunium panel composit (APC) dengan ketebalan 3 mm. Dilengkapi dengan pintu pada bagian belakang dan di bagian depan terdapat kaca setebal 6 mm dengan dua lubang yang dipasang sarung tangan panjang berstandar medis. Dilengkapi handscoon sekali pakai untuk tangan petugas kesehatan memeriksa pasien.
Idealnya, lanjut Jaka, bodi bilik menggunakan bahan stainless steel, tetapi terkendala harga yang mahal. Sementara penggunaan kayu tidak memungkinkan. Sedangkan bahan GRC Board kurang cocok apabila dibersihkan dengan disinfektan. Kendati menggunakan bahan murah, tetapi kualitas bilik swab tetap terjaga dan sesuai dengan standar medis.
Bilik turut dilengkapi dengan HEPA filter yang biasa dipakai untuk membuat ruangan bersih dan steril layaknya di laboratorium. Di dalam blik juga diberi lampu pencahayaan dan blower. Selain itu dilengkapi amplifier dengan speaker sebagai sarana komunikasi dengan pasien.
Desain bilik bersifat dinamis, dapat bergerak dengan empat roda di bawahnya. Dengan desain seperti itu, bilik mudah dipindah dan dipakai diberbagai tempat.
Melalui bilik swab ini petugas kesehatan dapat merasakan kenyamanan saat melakukan uji swab pada pasien. Sementara kemanan baik petugas medis maupun pasien juga terjaga. Disinfeksi dilakukan pada sarung tangan sekali pakai dan permukaan luar bilik sebelum siap dipakai oleh pasien berikutnya.
“Jadi saat ada pasien baru datang untuk di swab kondisinya sudah bersih, sudah disemprot dan diganti dengan sarung tangan yang baru,” terang Jaka yang menekuni kajian bioteknologi lingkungan ini.
Jaka menuturkan, pembuatan bilik terinspirasi dari video petugas kesehatan di Korea Selatan yang melakukan uji swab di bilik untuk memeriksa pasien. Dia pun berdiskusi dengan istrinya yang merupakan dokter spesialis THT dan telah terbiasa menguji swab saat memeriksa pasiennya. Di samping itu, Jaka memiliki latar belakang keilmuan mikrobiologi sehingga memiliki pengetahuan yang cukup tentang bakteri, virus serta ruangan yang bebas kuman.
“Background saya mikrobiologi, lebih dari 35 tahun belajar tentang bakteri, jamur, virus dan lainnya sehingga familiar tentang karakteristik virus seperti apa dan membuat ruang bebas kuman seperti apa,” tuturnya.
Dia menyampaikan, dana pembuatan bilik ini berasal dari donasi masyarakat. Dihimpun melalui melalui grup Whatsapp Sambatan Jogja (Sonjo) yang diinisiai koleganya dari FEB UGM, Rimawan Pradiptyo. Dalam proses produksi Jaka juga menggandeng dua UMKM di Jogjakarta. Biaya produksi satu unit bilik swab sekitar Rp 8 juta. Sementara ini kapasitas produksi masih terbatas 10-15 unit per minggu.
“Saat ini kami akan segera membuat 5 bilik swab lagi yang nantinya akan didistribusikan ke sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19,” tambahnya.
Jaka mengaku bilik swab ini telah dilirik Gugus Tugas Covid-19 Nasional untuk kerja sama produksi secara masal.
“Harapannya bilik swab ini mampu menginspirasi generasi muda untuk berinovasi mengembangkan yang lebih bagus lagi untuk bersama-sama menanggulangi Covid-19,” tandasnya. (sky/tif) Editor : Editor News