JOGJA - Tim Juri Kompetisi Budaya Pemerintahan 2026 mengadakan penilaian lapangan ke Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD DIY. Visitasi itu dipimpin Ketua Tim Juri Sumaryono. Penilaian dilakukan menyusul keberhasilan Setwan DPRD DIY masuk lima besar nomine Kompetisi Budaya Pemerintahan 2026 kategori perangkat daerah. Empat nomine lainnya adalah biro tata pemerintahan, biro umum dan protokol, dinas kesehatan serta dinas pertanahan dan tata ruang.
“Setwan DPRD DIY merupakan tulang punggung yang mendukung kami bekerja. Ada tiga fungsi dan tugas dewan. Mulai dari pembentukan peraturan daerah, anggaran, dan pengawasan,” ungkap Ketua DPRD DIY Nuryadi memberikan sambutan di depan Tim Juri Kompetisi Budaya Pemerintahan 2026 di gedung dewan, Senin (12/10/2026).
Nuryadi mengungkapkan, praktik budaya Satriya dan Berakhlak selama ini sudah berjalan baik. Ukurannya bisa dirasakan dalam pelayanan Setwan DPRD DIY. Nuryadi mewanti-wanti agar dalam menciptakan budaya pemerintahan bertindak wajar. Apa adanya. Catatan dipakai untuk pembenahan. Kesempatan untuk bercermin.
“Wajar dan apa adanya itu dilakukan setiap hari. Bukan hanya hari ini (saat ada penilaian tim juri, Red),” pinta Nuryadi.
Baca Juga: Status Gunung Merapi Turun Level Dipastikan Hoaks, BPPTKG Jogjakarta Tegaskan Masih Siaga
Kunjungan ketua tim juri juga disertai anggota tim seperti Lailatul Munawaroh dan Sigit Alifianto. Begitu datang, mereka disambut empat staf Setwan DPRD DIY yang menyampaikan pidato dalam empat versi. Bahasa Jawa, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, dan Bahasa Arab. Ditampilkannya empat bahasa itu membuat acara terasa gayeng. Beberapa kali aplaus terdengar.
Sekretaris DPRD DIY Yudi Ismono mengakui antara DPRD DIY dengan Setwan DPRD DIY bukanlah lembaga terpisah. Yang membedakan, satu lembaga politik dan satu lagi lembaga eksekutif. Yudi menambahkan, masuk lima besar dalam Kompetisi Budaya Pemerintahan merupakan kali pertama.
Bersamaan dengan itu, Setwan DPRD DIY juga lolos lima besar pembangunan zona integritas (ZI) menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) di lingkungan Pemprov DIY.
Baca Juga: DPRD Bantul Nilai Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bisa Jaga Standar Akademik
“Ini bukan hasil kerja satu atau dua orang. Tapi kerja bersama seluruh keluarga besar Sekretariat DPRD DIY,” ungkapnya. Dia mengingatkan agar kolaborasi seluruh elemen itu terus DIYaga. Demikian pula dengan perilaku Satriya. Ketika itu tidak dijaga, dampaknya bukan hanya di Setwan DPRD DIY. “Efeknya Jogja yang kena,” ingatnya.
Yudi juga menyebutkan Setwan DPRD DIY termasuk instansi yang paling banyak dikunjungi tamu-tamu se-Indonesia. Terbuka bagi semua kampus. Dia juga membuka pintu terbuka bagi kampus. “Kami ingin menjadi laboratorium akademis. Tidak pernah menolak bila ada mahasiswa yang ingin magang,” tandasnya.
Mantan sekretaris Inspektorat DIY itu juga mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih atas dukungan dari pimpinan dewan. Khususnya Ketua DPRD DIY Nuryadi. “Alhamdulillah selama dua tahun ini tidak ada temuan BPK. Ini bagian dari kami menjaga marwah nilai-nilai Satriya,” tandasnya.
Baca Juga: KAI Daop 6 Jogja Catat Tonase Angkutan Barang Naik 12 Persen, Angkutan BBM Mendominasi
Diingatkan, keberhasilan tersebut bukanlah tujuan akhir. Namun motivasi untuk terus meningkatkan kualitas budaya kerja. Memperkuat integritas, dan menghadirkan pelayanan yang semakin baik. Pembangunan zona integritas menjadi proses perubahan berkelanjutan. Nilai-nilai Satriya menjadi budaya keseharian. “Kita harus menjaga konsistensi ini agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ajak Yudi. (kus)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja