Keren! Anugerah Inovasi Gunungkidul Diikuti 149 Karya, 39 Jadi Nominator: Ini Dia Karya Terbaiknya..

Dzika Fajar • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 20:15 WIB
KOMPAK: Para pemenang Anugerah Krenovamaskat Pelita Indah 2026 berfoto bersama usai penganugerahan di Gunungkidul, Rabu (16/9/2026). Dzika Fajar/Radar Jogja
KOMPAK: Para pemenang Anugerah Krenovamaskat Pelita Indah 2026 berfoto bersama usai penganugerahan di Gunungkidul, Rabu (16/9/2026). Dzika Fajar/Radar Jogja

GUNUNGKIDUL - Sebanyak 149 karya mengikuti Anugerah Krenovamaskat Pelita Indah 2026. Setelah melalui penjurian selama tujuh hari tujuh malam, 39 karya yang ditetapkan sebagai nominator.

Plt Kepala Baperida Gunungkidul M Johan Wijayanto mengatakan, peserta tahun ini berasal dari berbagai kalangan. Mulai aparatur sipil negara (ASN), tenaga kesehatan, guru, masyarakat umum hingga pelajar.

“Proses penjurian dilakukan secara maraton selama tujuh hari tujuh malam oleh tim juri independen,” kata Johan, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga: Susul TPR Baron, Lima TPR di Gunungkidul Ini Disiapkan Segera Terapkan Tiket Cashless

Sebanyak 14 karya masuk kategori inovasi daerah ASN/OPD, enam karya tenaga kesehatan dan medis, 24 karya tenaga pendidik dan guru, serta 18 karya masyarakat umum. Sedangkan dari kalangan pelajar, terdapat 48 karya penelitian dan karya ilmiah SMA/SMK bidang olahan makanan singkong, 15 karya bidang sains teknologi atau teknologi tepat guna ketahanan pangan, serta 24 karya pelajar SMP sederajat kategori Lestari Handayani.

Tim juri berasal dari sejumlah unsur, di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), akademisi, pelaku UMKM dan tokoh masyarakat.

Dari proses tersebut, salah satu karya yang mendapat nilai terbaik ialah Smart Green Irrigation System karya siswa SMKN 1 Ponjong. Karya itu meraih juara pertama kategori Sains dan Teknologi.

Baca Juga: Kasus Korupsi HGB di ATR/BPN Libatkan Mantan Bupati Kebumen, Dinilai Buntut Abuse of Power

Salah satu pemenang, Faiz Miftarica El Barqy mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari persoalan air yang mereka temui di Saptosari. “Di musim kemarau, pertanian hampir berhenti total karena masyarakat takut menanam sesuatu karena keterbatasan akses air. Ditambah tidak ada sumur bor maupun sumur timba,” ujarnya.

Selain Smart Green Irrigation System, terdapat karya lain yang mengangkat persoalan air dan pertanian. Di antaranya sistem irigasi kabut sekaligus pemanen air hujan, teknologi galon sumbu untuk hortikultura, serta pemanfaatan lahan kapur kosong di Rongkop untuk budi daya cabai jawa.(cr1)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Guru pelajar tenaga kesehatan ASN anugerah inovasi