Harga Singkong Rendah, DPKP DIY Dorong Jadikan Olahan dan Perluas Pasar

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 21:21 WIB
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho. Cintia Yuliani/Radar Jogja

JOGJA - Singkong memiliki peluang besar dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan alternatif pengganti beras di DIY. Tanaman yang relatif mudah dibudidayakan itu juga menjadi pilihan masyarakat, khususnya di Gunungkidul yang selama ini dihadapkan pada keterbatasan air.

Namun, pengembangan singkong masih menghadapi sejumlah persoalan. Salah satunya harga jual di tingkat petani yang belum sesuai harapan. “Itu yang masih menjadi bagian PR kami,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Aris Eko Nugroho, Senin (14/9/2026).

Aris mengatakan, harga yang diharapkan petani maupun pemerintah bisa lebih dari Rp 3.000 per kilogram. Kenyataannya, masih ada singkong yang dihargai sekitar Rp 1.000 per kilogram. Disebut, persoalan harga berkaitan dengan pola tanam dan keseimbangan produksi dengan kebutuhan pasar.

Baca Juga: HMI Jogja Kawal Kasus Pemerkosaan Eks Santriwati di Sleman, Desak Polisi Segera Tahan Tersangka

Singkong membutuhkan waktu sekitar delapan sampai sembilan bulan hingga siap dipanen. Karena itu, penanaman perlu direncanakan agar produksi tidak berlebihan pada waktu tertentu. Sebab, ketika pasokan melimpah, harga berpotensi turun.

Kondisi tersebut, lanjut Aris, menjadi bagian dari transformasi budaya dalam pengembangan pertanian singkong. Perubahan tidak hanya menyangkut pemasaran, tetapi juga cara petani menanam dan mengatur produksi.

“Yang dimaksud transformasi budaya salah satunya adalah cara menanam,” ujarnya.

Baca Juga: Dorong PKJ Bentuk Karakter Jalmo Kang Utomo, Disdikpora Petakan Ketersediaan Pengajar Bahasa Jawa

Di sisi budi daya, singkong memang relatif mudah ditanam. Namun, tanaman ini juga dikenal rakus hara karena banyak menyerap unsur hara dari tanah. Karena itu, pengelolaan tanah dan pemenuhan kebutuhan hara menjadi bagian yang perlu diperhatikan sekaligus diberikan dalam pelatihan kepada petani.

Selama ini, bantuan pemerintah, baik dari pusat melalui DPKP maupun pemerintah daerah, banyak menyasar pengembangan singkong di Gunungkidul. Tahun ini DIY juga memiliki target produksi singkong. Namun, Aris mengaku tidak hafal angka target tersebut. Sementara pemerintah pusat saat ini masih berkonsentrasi pada komoditas padi dan tebu. Untuk singkong, belum ada kebijakan khusus.

Padahal, potensi singkong DIY cukup besar. Dari sekitar 50-an varietas yang ada, sebanyak 34 jenis ditargetkan didaftarkan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pasarnya pun tidak hanya di DIJ. Konsumsi produk singkong telah menjangkau luar daerah, bahkan luar negeri. Salah satunya melalui Putri 21, produk binaan DPKP DIY berbahan dasar singkong.

Baca Juga: Dulu Bukan Ayam tapi Daging Kijang, Sate Ambal Kebumen Jadi WBTb Indonesia

Menurutnya, singkong memiliki kadar gula relatif rendah dan serat tinggi sehingga berpeluang menjadi alternatif sumber karbohidrat. Namun, manfaat tersebut belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Karena itu, sosialisasi dan promosi diperlukan untuk meningkatkan minat konsumsi.

Upaya peningkatan nilai tambah juga dilakukan melalui pengembangan produk olahan. Aris mencontohkan kimpul di Bantul yang sebelumnya kurang diminati. Setelah viral dan diolah menjadi berbagai jenis makanan, minat masyarakat terhadap kimpul meningkat. “Harapannya singkong demikian,” ujarnya.

Guna mendukung pemasaran, DPKP DIY telah memiliki pasar tani yang menyediakan ruang bagi masyarakat menjual produk secara online maupun offline. Konsep serupa nantinya akan dicoba untuk produk singkong, meski dengan pendekatan berbeda. “Singkong harus diolah menjadi apa dulu agar minat masyarakat tinggi,” tambahnya. (cin/wia)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Perluas Pasar Harga Singkong Rendah DPKP DIY harga jual Olahan