JOGJA - Pemprov DIY menjajaki kerja sama dengan Selandia Baru untuk mendatangkan sperma sapi sebagai upaya meningkatkan pasokan daging dan susu di tengah keterbatasan lahan peternakan. Sperma sapi tersebut nantinya dikembangkan melalui persilangan dengan sapi lokal.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY Ghofar Ismail mengatakan, telah dibahas sejumlah peluang kerja sama bersama Duta Besar Selandia Baru terutama di bidang agrikultur. Kerja sama tersebut mencakup sektor pertanian, termasuk upaya memenuhi kebutuhan daging dan susu di Jogja.
"Dari New Zealand (Selandia Baru, Red) tidak boleh mengirimkan sapi hidup jadi bolehnya sperma sapi laki-laki untuk bisa disuntikan ke sapi perempuan," katanya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Jumat (11/9/2026).
Baca Juga: Aksi Heroik Bittu Tabahi, Mahasiswa Asal India Bersihkan Sungai Ajnar Seorang Diri Setiap Sore
Dia menjelaskan, kerja sama ini mempertimbangkan keterbatasan lahan yang ada di DIJ untuk mengembangkan peternakan sapi. Meskipun permasalahan ini juga terjadi umum di Jawa dan Indonesia. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi cukup tinggi sehingga pasokan sapi perlu didatangkan dari daerah maupun negara lain.
"Untuk mewujudkan itu diperlukan suatu payung kerja sama berupa sistem profit," ujarnya.
Selama ini, DIY telah membentuk sistem profit dengan China, Korea, Jepang, dan Australia. Ke depan, dia menilai akan lebih baik apabila sistem profit juga dibangun dengan salah satu provinsi di Selandia Baru. "Target kalau kapan dan pelaksana secara teknis belum. Karena ini masih menjajakan awal," terangnya.
Baca Juga: NTT Jajaki Investasi Telekomunikasi DIY, HB X: Internet Jangan Jadi Mahal: Ini Tarifnya!
Dengan keterbatasan lahan yang ada, pengembangan sapi melalui pengiriman sperma menjadi salah satu pilihan yang memungkinkan. Hal ini karena pengiriman sapi hidup dari Selandia Baru tidak memungkinkan karena tidak diperbolehkan, biaya pengirimannya juga sangat mahal.
Pengiriman melalui jalur laut membutuhkan waktu lama dengan risiko sapi mati dalam perjalanan. Sedangkan pengiriman melalui pesawat membutuhkan biaya yang tinggi.
"Tidak masuk dalam hitungan ekonomi maka itu jalan keluar melalui pengiriman sperma sapi." sambungnya.
Sperma sapi tersebut nantinya akan digunakan untuk dikembangkan bersama sapi lokal sehingga menghasilkan sapi persilangan. "Nanti di mix, dengan sapi blasteran," tambahnya. (cin/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita