JOGJA - Pelestarian bahasa dan aksara Jawa menghadapi tantangan baru di tengah perkembangan teknologi digital. Generasi muda kini tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan gawai dan arus informasi. Karena itu, upaya menjaga budaya tidak cukup hanya dilakukan lewat cara-cara konvensional.
Kondisi itu turut mendorong Pemda DIY mengemas pelestarian bahasa dan aksara Jawa dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Salah satunya, melalui penyelenggaraan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa 2026.Tahun ini memasuki penyelenggaraan keempat.
Program itu menjadi salah satu bentuk pemanfaatan dana keistimewaan (Danais) mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan di DIY. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak. Mulai dari Paniradya Kaistimewan, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, guru bahasa Jawa, hingga para pegiat aksara Jawa.
Baca Juga: Angkat Isu Peningkatan UMKM, Polres Kulon Progo Terima Kunjungan MC Sespimmen Polri Angkatan ke-67
"Kita sangat bersyukur karena di Jawa bahasa dan aksaranya ada. Itu yang perlu dikembangkan lagi. Kita ingatkan dan sampaikan kepada anak-anak didik agar bisa tetap meneruskan dan mengembangkannya," ungkap Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan Nugraha Wahyu Winarna pada Kamis (13/08/2026).
Nugraha mengemukakan itu saat berbicara dalam Rembag Kaistimewan bertajuk “Generasi Digital, Budaya Abdi: Semangat Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa #4.
Dikatakan, bahasa dan aksara merupakan bagian dari objek kebudayaan yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan. Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Tapi membutuhkan keterlibatan masyarakat lintas generasi.
Baca Juga: Pemprov Jateng Uji Bata Interlock, Bangun Rumah Lebih Cepat dan Hemat
Pelestarian budaya tidak berhenti pada upaya mempertahankan peninggalan masa lalu. Generasi muda perlu dipersiapkan agar mampu menjadi penerus yang dapat mengembangkan kebudayaan. “Sesuai dengan perkembangan zaman,” tandasnya.
Dikatakan, keterlibatan peserta didik dalam Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa dinilai menjadi bagian penting dari investasi kebudayaan. Pembelajaran bahasa dan aksara Jawa diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas. Namun berkembang menjadi bagian dari identitas dan keseharian masyarakat.
"Kebudayaan itu luas. Dari tempo dulu, sejarah, sampai masa depan itu masuk ranah kebudayaan. Kami perlu menyiapkan masa depan itu, generasi-generasi muda yang kemudian perlu disiapkan dari sekarang," ujar Nugroho.
Baca Juga: DPRD Kota Jogja Desak Pemkot Salurkan Bansos Tepat Sasaran
Perencana Ahli Muda Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Andita Wahyu Wijayanti mengatakan, penyelenggaraan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa dirancang tak sekadar sebagai kompetisi. Format lomba digunakan untuk membangun motivasi. Sekaligus menumbuhkan ketertarikan peserta didik terhadap bahasa dan aksara Jawa.
Pendekatan tersebu dipadukan dengan teknologi digital. Langkah ini dinilai penting karena generasi muda saat ini memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan perangkat digital.
"Memang kata kuncinya tidak boleh meninggalkan teknologi dalam rangka pelestarian budaya Jawa, tapi bagaimana memanfaatkannya. Baik dari pembelajaran maupun kegiatan-kegiatan lainnya," kata Andita.
Baca Juga: Momentum Kemerdekaan, Dua Bendera Merah Putih Raksasa Bakal Dibentangkan di Gunung Andong Magelang
Pemanfaatan teknologi telah diterapkan dalam proses pembelajaran bahasa Jawa. Salah satunya, penggunaan Google Maps untuk mengenalkan aksara Jawa kepada siswa. Guru dapat memberikan tugas kepada peserta didik untuk menambahkan penanda atau tagging beraksara Jawa pada sejumlah lokasi.
Cara tersebut membuat aksara Jawa hadir di ruang digital yang sehari-hari digunakan anak muda. Dengan begitu, aksara Jawa tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masa lalu.
"Kami perlu menanamkan ke para siswa bahwa bahasa dan aksara Jawa, budaya Jawa itu juga dapat dibuat nuansa modern. Bisa mengikuti perkembangan zaman," ujarnya.
Penuturan lain datang dari, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMK DIY Sinar Indra Krisnawan. Dia mengungkapkan, gagasan penyelenggaraan olimpiade muncul dari kebutuhan menghadirkan bentuk pembelajaran bahasa dan aksara Jawa yang lebih sesuai dengan karakter peserta didik saat ini.
Baca Juga: Berikan Sesuatu yang Berbeda, Carrick Ingin Marcus Rashford Tetap di Manchester United
Alih-alih menggunakan pola perlombaan manual, penyelenggara memilih memanfaatkan teknologi digital. Format tersebut memungkinkan kompetisi menjangkau peserta dalam jumlah besar.
"Kalau manual kami kerepotan di satu tempat. Kedua waktunya. Nah, akhirnya kami manfaatkan yang paling dekat dengan anak, teknologi. Makanya aksara Jawa kamibuat yang digital," ujar Sinar.
Penyelenggaraan keempat, materi olimpiade juga dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas. Peserta tidak hanya diuji mengenai kemampuan membaca atau menulis aksara Jawa. Namun juga mendapatkan materi berkaitan dengan unggah-ungguh atau tata krama, bahasa dan sastra, kearifan lokal DIY, serta paramasastra.
Baca Juga: Dampak PP Nomor 16/2026: Gaji Lurah dan Pamong Kulon Progo Terancam Dipangkas Hingga Rp 800 Ribu
Kearifan lokal yang diangkat antara lain berkaitan dengan Sumbu Filosofi, garis imajiner, gastronomi, kuliner, hingga wisata budaya. Dengan pendekatan tersebut, bahasa dan aksara Jawa sekaligus menjadi pintu masuk mengenalkan berbagai aspek kebudayaan Ngayogyakarta kepada generasi muda.
Sinar menjelaskan, penggunaan istilah "olimpiade" juga berkaitan dengan target jumlah peserta yang diharapkan terus berkembang. "Kami target pesertanya banyak. Kalau seribu, dua ribu mungkin bukan olimpiade. Nah, ini kan nanti puluhan ribu. Harapannya memang layak dinamakan olimpiade," katanya.
Transformasi digital dalam pelestarian aksara Jawa tidak terlepas dari peran pegiat teknologi. Rony Agung Rahmanto, kreator digital aksara Jawa, telah mengembangkan berbagai perangkat untuk membantu penggunaan aksara Jawa di dunia digital sejak era komputer awal. Ketertarikannya bermula ketika aksara Jawa belum memiliki dukungan teknologi seperti saat ini.
Baca Juga: Desak Manchester City, Chelsea: Ingin Enzo Fernandez? Rp 2,8 Triliun atau Tidak Sama Sekali
Pada masa tersebut, penulisan aksara Jawa di komputer masih menggunakan pendekatan berbasis gambar. Perkembangan teknologi kemudian membawa perubahan besar setelah aksara Jawa masuk dalam standar Unicode pada 2009. Perkembangan itu membuka peluang lebih luas untuk menghadirkan aksara Jawa dalam berbagai platform digital.
"Saya ingin bikin alat yang bisa membantu guru biar murid-muridnya bisa belajar dengan mudah. Dan anak-anak sekarang sangat tergantung dengan HP, sehingga ya sudah, saya bikin aplikasi," katanya.
Bagi Rony, teknologi dapat menjadi sarana untuk mendekatkan kembali aksara Jawa dengan generasi yang semakin akrab dengan perangkat digital. Kehadiran aksara Jawa di ruang digital juga membuka kemungkinan lebih besar bagi masyarakat untuk menggunakannya dalam konteks kekinian.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat penyelenggaraan Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa keempat yang mengusung tema "Generasi Digital, Budaya Abadi: Semangat Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa #4". (iza/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita