JOGJA – Di tengah menguatnya wacana optimalisasi kembali Bandara Adisutjipto, Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan, bandara tersebut tidak pernah berhenti beroperasi. Sehingga tidak tepat jika disebut akan direaktivasi.
Ni Made sapaan akrabnya itu mengatakan, Bandara Adisutjipto masih melayani penerbangan pesawat baling-baling atau propeller hingga saat ini. Karena itu, istilah reaktivasi dinilai kurang tepat untuk menggambarkan kondisi bandara tersebut.
"Sebenarnya begini, bukan reaktivasi. Bandara Adisutjipto yang sekarang itu kan juga sudah berjalan, dengan pesawat baling-baling. Ya sebenarnya itu aja," ujarnya, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga: Hadapi Libur Sekolah, Pemkot Jogja Gelar Dua Kali CFD di Malioboro hingga Besih-Bersih Massal
Menurutnya, keterbatasan Bandara Adisutjipto untuk melayani pesawat berbadan besar sudah menjadi alasan utama perpindahan penerbangan komersial dialihkan ke YIA sejak beberapa tahun lalu.
Terdapat sejumlah hambatan atau obstacle di sekitar kawasan Bandara Adisutjipto yang membuat operasional pesawat besar sulit dilakukan secara optimal.
"Karena kan ada obstacle. Kenapa pindah dulu, ya obstacle. Ada jembatan layang, ada Boko juga kan. Jadi sebenarnya pesawat besar juga enggak akan bisa," katanya.
Selain melayani penerbangan pesawat baling-baling, Bandara Adisutjipto juga masih digunakan untuk aktivitas penerbangan lainnya, termasuk penerbangan latihan.
Kondisi tersebut membuat ruang pengembangan operasional bandara dinilai memiliki keterbatasan.
Saat dikonfirmasi soal kemungkinan optimalisasi lebih lanjut, Ni Made menilai operasional Adisutjipto saat ini pada dasarnya sudah berjalan dan dapat dimanfaatkan masyarakat yang membutuhkan layanan penerbangan dari bandara tersebut.
"Ya, optimalnya kan juga terbatas. Itu saja. Kalau mau jalannya ya udah jalan kok, udah banyak juga, tinggal mau bayar mahal atau tidak," ucapnya.
Sebelumnya, Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X turut membuka peluang Bandara Adisutjipto kembali dioptimalkan untuk mendukung konektivitas udara di DIY.
Namun, HB X menyebut pengoperasian bandara tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku saat ini. Yakni penerbangan pesawat jet dipusatkan di YIA sementara Adisutjipto melayani pesawat baling-baling.
Baca Juga: Fasilitasi Calon Siswa Yang Kebingungan, MAN 2 Sleman Sediakan Akses Lab Komputer dan Pendamping
Raja Keraton itu menegaskan, Adisutjipto tidak pernah benar-benar berhenti beroperasi karena masih melayani penerbangan sipil, militer, maupun penerbangan VIP.
Oleh karena itu, optimalisasi Adisutjipto tidak dimaksudkan sebagai pengganti YIA, melainkan sebagai fasilitas yang saling melengkapi dalam mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita