Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas PUPESDM DIY Bangun Jaringan Irigasi di 8 Embung

Kusno S Utomo • Dipublikasikan Rabu, 10 Juni 2026 | 06:16 WIB
RIGASI: Saluran irigasi di lahan persawahan di Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY bakal membangun  infrastruktur irigasi yang berada di sejumlah embung.
RIGASI: Saluran irigasi di lahan persawahan di Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY bakal membangun infrastruktur irigasi yang berada di sejumlah embung.

 

 

 

Dukung Penguatan Ketahanan Pangan dan Ketersediaan Sumber Daya Air

Keberadaan embung dinilai cukup strategis dalam rangka mendukung ketahanan pangan. Terutama ketersediaan air yang dibutuhkan bagi irigasi pertanian. Menyadari itu, Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY bakal membangun  infrastruktur irigasi yang berada di sejumlah embung. “Kegiatan yang kami lakukan berupa peningkatan konstruksi jaringan irigasi embung,” terang Kepala Bidang SDAD Dinas PUPESDM DIY Subarja kemarin (10/6).

Diterangkan, infrastruktur jaringan irigasi yang ditingkatkan itu berada di delapan embung. Lokasinya tersebar di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Gunungkidul. “Tujuh di Sleman dan satu di Gunungkidul,” lanjut Subarja. Pertimbangan untuk meningkatkan konstruksi jaringan irigasi embung itu karena selama ini infrastruktur fisiknya belum terbangun.

Baca Juga: Kepala BKN Ingatkan Pemprov DIY Aja Dibaleni Meneh, DPRD DIY Minta Ketua Baperjakat Bicara Terbuka

Karena itu, dibutuhkan peningkatan konstruksi jaringan irigasinya. Menurut dia, ketersediaan air di delapan embung itu selama ini cukup mencukupi untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian.

“Peningkatan konstruksi jaringan irigasi ini dalam rangka memperkuat ketahanan pangan di sektor pertanian,” paparnya. Adapun delapan lokasi yang akan ditingkatkan konstruksi jaringan irigasi itu berada di Embung Tegaltirto, Berbah, Sleman, Embung Bimomartani, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Embung Gatep Purwobinangun, Pakem, Sleman dan Embung Pakembinangun, Pakembinangun, Pakem, Sleman. Selanjutnya, Embung Jurangjero, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Embung Jetis Suruh Donoharjo, Ngaglik, Sleman, serta Embung Kaliaji, Wonokerto, Turi, Sleman.

“Satu lagi Embung Bejiharjo, di Karangmojo, Gunungkidul,” ungkap Subarja.

SUMBER DAYA AIR: Pimpinan dan anggota Komisi C DPRD DIY mengadakan kunjungan dalam daerah (KDD) ke Embung Kaliaji, Wonokerto, Turi, Sleman, pada Rabu (3/6).
SUMBER DAYA AIR: Pimpinan dan anggota Komisi C DPRD DIY mengadakan kunjungan dalam daerah (KDD) ke Embung Kaliaji, Wonokerto, Turi, Sleman, pada Rabu (3/6).

 

Rencananya pengerjaan fisik akan dimulai Juli mendatang. Itu setelah detail engineering desaign telah rampung dikerjakan pada Juni ini. Adapun sumber pembiayaan peningkatan jaringan irigasi embung itu berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DIY Tahun Anggaran (TA) 2026. Nilainya sekitar Rp 4,4 miliar.

Pentingnya pembangunan konstruksi peningkatan jaringan irigasi di delapan embung itu sempat disinggung saat pimpinan dan anggota Komisi C DPRD DIY mengadakan kunjungan dalam daerah (KDD) ke Embung Kaliaji, Wonokerto, Turi, Sleman, pada Rabu (3/6).

“Pembangunan embung merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketersediaan air bagi masyarakat, terutama di wilayah yang membutuhkan dukungan infrastruktur sumber daya air,” ucap Amir.

Dia menyebut peningkatan jaringan irigasi di delapan embung tahun ini diharapkan menjadi satu instrumen yang mendukung program ketahanan pangan di DIY. “Terutama sektor pertanian,” jelasnya.

Menurut Amir, pembangunan infrastruktur tak hanya berhenti pada aspek fisik semata. Tapi juga diikuti dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Itu agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Dia juga mewanti-wanti pemerintah kalurahan perlu mengoptimalkan keberadaan embung yang telah dibangun. Salah satunya dengan membentuk atau memperkuat BUMKal maupun koperasi agar pemanfaatan embung dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga: Dinas PUPESDM DIY Bangun Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengelolaan Kawasan Rawan Longsor

Tak hanya itu, dia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, dan masyarakat dalam menjaga serta memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun. Keberhasilan program sumber daya air tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Namun juga oleh tata kelola dan partisipasi masyarakat.

Dalam kunjungan itu Amir didampingi beberapa anggota Komisi C seperti Ispriyatun Katir Triatmojo, Haris Sugiharta, Timbul Suryanto, Suwardi, dan R. Inoki Azmi Purnomo. Kepala Bidang SDAD Dinas PUPESDM DIY Subarja serta Lurah Wonokerto Riyanto Sulistyo Budi juga ikut hadir.

Pimpinan dan anggota Komisi C juga melihat secara langsung kondisi Embung Kaliaji. Mereka mendengarkan berbagai aspirasi masyarakat terkait kebutuhan penanganan infrastruktur sumber daya air. Selain berfungsi sebagai cadangan air, embung dinilai memiliki peran mendukung sektor pertanian dan penguatan ketahanan pangan di Wonokerto.

Lurah Wonokerto Riyanto Sulistyo Budi mengapresiasi perhatian Komisi C DPRD DIY dan Pemda DIY terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat Kalurahan Wonokerto. Dia berharap kunjungan tersebut dapat menghasilkan tindak lanjut yang konkret. Utamanya yang berhubingan dengna penanganan infrastruktur Embung Kaliaji. (kus)

Rutin  Koordinasi dengan Perkumpulan Petani Pemakai Air

​Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas PUPESDM DIY juga melaksanakan beberapa kegiatan lainnya. Di antaranya, pekerjaan konstruksi peningkatan Saluran Irigasi Daerah Irigasi (DI). Sapon di Kalurahan Wahyuharjo, Lendah, Kulon Progo. Pekerjaan ini dibiayai dana keistimewaan (danais) dan sudah dimulai sejak Juni lalu. Pengerjaan membutuhkan waktu 120 hari. Direncanakan pada 1 Agustus 2026 DI. Sapon sudah dapat mengalir untuk mendukung kebutuhan pertanian musim tanam I (MT I).

“Kegiatan peningkatan saluran irigasi ini sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan infrastruktur sumber daya air dan keberlanjutan sektor pertanian masyarakat yang didukung dengan dana keistimewaan,” papar Kepala Bidang SDAD Dinas PUPESDM DIY Subarja.

Sedangkan aliran air di saluran irigasi DI Trini, Trihanggo, Gamping, Sleman, dilakukan pekerjaan konstruksi rehabilitasi. Ini diperlukan untuk mendukung kelancaran proses rehabilitasi yang akan dilakukan di sembilan titik lokasi saluran irigasi.

Selain saluran irigasi, pemeliharaan juga dilakukan untuk saluran drainase di Simpang MM UGM  Jalan Argo, Barek, Caturtunggal, Sleman. Kegiatan ini dilakukan melalui pembersihan rumput liar serta penggalian waled atau sedimen yang menumpuk dan berpotensi menghambat aliran air.

Dengan saluran yang kembali bersih, risiko genangan dapat ditekan. Dengan demikian, lingkungan menjadi lebih nyaman dan tertata. Menurut Subarja, langkah ini dalam rangka menjaga fungsi infrastruktur drainase agar tetap optimal. “Sekaligus mendukung kualitas hidup masyarakat,” terangnya. Drainase di perempatan MM UGM itu termasuk di antara sekian drainase yang dibangun Bidang SDAD Dinas PUPESDM DIY. Drainase itu dialirkan ke Sungai Code yang menghubungkan dua wilayah, Kabupaten Sleman dan Kota Jogja.

Baca Juga: DIY Punya Gunung Merapi dan Sesar Opak, Eko Suwanto Desak Pemda Tingkatkan Anggaran Mitigasi Bencana

Pemeliharaan rutin juga diadakan di drainase di Kalurahan Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Dikatakan, perawatan berkala menjadi kunci utama agar fungsi hidrolis saluran tetap optimal. “Terutama dalam mengalirkan debit air hujan menuju pembuangan akhir,” ucap Subarja. Drainase Ngestiharjo aliran airnya dibuang ke Sungai Bedog yang melintasi wilayah Sleman dan Bantul.

​Dalam pemeliharaan itu diadakan pemotongan rumput liar dan semak belukar  di bibir maupun tebing saluran. Ini untuk mencegah penyempitan penampang saluran. Menghilangkan potensi sarang hama atau hewan liar. Normalisasi saluran dengan mengangkat sedimen lumpur dan sampah yang mengendap di dasar drainase. Pendangkalan akibat sedimentasi seringkali menjadi penyebab utama air meluap saat intensitas hujan tinggi.

Bidang SDAD Dinas PUPESDM DIY juga menggelar rapat Koordinasi Tata Pengaturan Air (KTPA) bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Wilayah Sleman Timur di sekretariat P3A Trimulyo Sejati, Dusun Sribit, Sendangtirto, Berbah, Sleman.

Pertemuan menjadi forum koordinasi antara pemerintah dan petani dalam rangka pengelolaan air irigasi serta penyusunan rencana masa tanam. Di tengah keterbatasan anggaran pada 2026 kegiatan pemeliharaan rutin jaringan irigasi tetap dilakukan. Upaya ini demi menjaga fungsi jaringan irigasi agar tetap optimal dalam mendukung kegiatan pertanian.

Baca Juga: Terapkan Nilai-Nilai Hamemayu Hayuning Bawana

Sekadar diketahui P3A Sleman Timur meliputi sejumlah DI. Yakni DI Sidoharjo, DI Klampok, DI Sekarsuli, DI Dadapan, dan DI Madugondo. Lalu DI Kuton, DI Semoyo dan DI Kucir. Dalam koordinasi itu dibahas perubahan luasan lahan di beberapa daerah irigasi seperti DI Sidoraharjo dan DI Klampok. Ada penurunan luas lahan akibat alih fungsi lahan.

Di bagian lain, Dinas PUPESDM DIY bersama Satpol PP DIY melaksanakan kegiatan operasi nonyustisi dengan meninjau saluran irigasi di DITrini dan DI Pendowo. Operasi itu dalam rangka memastikan setiap aliran air tetap berfungsi dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian. Ini sejalan dengan amanat Perda DIY No. 7 Tahun 2022 tentang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Irigasi. (kus)

Editor : Jihad Rokhadi
Komisi C DPRD DIY PUPESDM DIY irigasi embung