SLEMAN - Pemberian bantuan beasiswa sangat penting sebagai jaring pengaman sosial yang bisa memutus rantai kemiskinan. Bantuan ini juga membuka akses pendidikan.
Menjamin keberlanjutan belajar hingga mempersiapkan generasi muda meraih pekerjaan lebih baik di masa depan.
“Pemberian beasiswa pendidikan menengah ini penting untuk menekan angka tidak sekolah,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prabu Semendawai
Anton mencatat masih ada 5.023 anak tidak sekolah per 13 Mei 2026. Mereka berada di Kabupaten Bantul sebanyak 1.168 anak, Sleman 1.309, Gunungkidul 1.700, dan Kabupaten Kulon Progo 566 anak, ditambah Kota Yogyakarta sejumlah 280 anak.
Ada berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Mulai dari anak yang memang tidak mau sekolah, pernikahan dini, hingga faktor ekonomi sehingga anak harus bekerja.
"Pendidikan adalah hak semua orang, termasuk masyarakat tidak mampu," tandas Anton saat menjadi narasumber Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY di Gedung Serbaguna Dusun Kragilan, Sinduadi, Mlati, Sleman, pada Selasa (26/5/2026).
Anton menilai sosialisasi itu cukup krusial. Ini lantaran banyak masyarakat yang belum tahu berbagai fasilitas sudah disediakan Pemda DIY.
Program beasiswa pendidikan menengah mencakup beasiswa kartu cerdas, beasiswa retrieval, dan beasiswa jaminan kelangsungan pendidikan.
Sosialisasi yang masif menjadikan penyaluran beasiswa bisa tepat sasaran. Prioritasnya bagi mereka yang masuk desil satu dan desil dua sesuai data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN).
Hanya saja, Anton mengingatkan, pentingnya melihat realita di lapangan.
Dia mencontohkan saat ini sedang mendampingi siswa yang tidak bisa ikut ujian. Siwa ini hidup bersama kerabat yang masuk desil enam.
Secara data tidak layak dapat bantuan. Namun siswa tersebut anak yatim piatu. "Jangan sampai hanya terpatok pada desil satu dan dua, walau keduanya mutlak dapat bantuan," ujarnya.
Menurut Anton, kondisi perekonomian saat ini memang jadi tantangan tersendiri. Bisa jadi orang yang dari kelas menengah lalu turun atau orang tua siswa yang bekerja justru terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Banyak dari para pekerja di DIY uangnya habis ketika mendapatkan gaji. Mayoritas juga tidak memiliki tabungan yang cukup di bank untuk bisa bertahan.
Baca Juga: Momentum Idul Adha, Jasa Penggilingan Daging di Kulon Progo Laris Manis
Sinergi bantuan pemerintah pusat, provinsi dan dinilai penting. Misalnya, siswa yang berada di kalangan ekonomi bawah bisa disalurkan lewat sekolah rakyat bentukan Presiden Prabowo Subianto.
Lalu beasiswa pemerintah provinsi bisa membantu siswa yang belum terakomodasi. "Saya sudah berkunjung ke sekolah rakyat di Sleman dan Bantul. Itu spektakuler karena mejanya bagus dan makanannya terjaga," katanya.
Anton berharap ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah, orang tua, dan sekolah.
Ini agar bisa menumbuhkan motivasi bag siswa dalam menempuh pendidikan. Menuntaskan persoalan pendidikan bukan hal gampang. Sebab, banyak faktor yang memengaruhi.
Staf Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Andiyanto Eko S menjelaskan, beasiswa diberikan dalam rangka menjamin keberlangsungan belajar bagi peserta didik dari keluarga kurang mampu.
Tujuannya, meningkatkan angka partisipasi pendidikan. "Beasiswa ini juga bisa dibatalkan jika siswa terlibat tindak kriminal atau pindah sekolah keluar DIY," terangnya. (del/kus)
Editor : Herpri Kartun