JOGJA – Program Pendidikan Khusus Kejogjaan (PKJ) segera diluncurkan oleh Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X pada 4 Mei 2026.
Kebijakan berbasis kearifan lokal ini akan diterapkan di seluruh jenjang pendidikan untuk menguatkan pendidikan karakter di tengah gempuran arus globalisasi.
"Launching Insya Allah dilaksanakan di tanggal 4 Mei,dari dana keistimewaan (Danais) ikut support," ujar Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Keistimewaan DIY Nugraha Wahyu Winarma dalam Rembag Kaistimewan bertema “Pendidikan Khas Kejogjaan: Keistimewaan Jogja dalam Mendidik Generasi” Jumat (24/4/2026).
Dalam rangka mengisi keistimewaan DIY, pendidikan menjadi salah satu fokus sasaran program Paniradya Keistimewaan.
Tujuannya untuk menyiapkan generasi mendatang agar bisa menghargai dan melestarikan budaya Jogja.
Salah satunya melalui PKJ yang akan segera diluncurkan.
Baca Juga: Kesadaran Kesehatan Mental Masyarakat Meningkat, Perasaan Malu dan Rikuh 'Berobat' Mulai Terkikis
"Harapannya tata nilai bisa tumbuh dan lestari bahkan diturunkan hingga generasi mendatang," katanya.
Ia juga melaporkan bahwa Danais telah menyasar pemenuhan infrastruktur pengetahuan berupa penyusunan dan pencetakan buku pedoman bagi sekolah-sekolah di seluruh kabupaten dan kota di DIY.
Sejak 2022, ada dua buku, yakni Pendidikan Khusus Kejogjaan secara umum dan satunya sesuai level jenjang pendidikan yang didukung oleh Danais.
"Memang belum semuanya tercetak, tapi target kami adalah semua sekolah minimal sudah punya 1-2 buku.
Nah, itu sudah kita lakukan dari tahun 2023 sampai dengan 2025, dan Alhamdulillah di 2025 sudah selesai semua," jelasnya.
Monitoring dan evaluasi akan terus dilakukan pasca-PKJ diluncurkan secara menyeluruh.
Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Non-subsidi Ancam Operasional Bus Sekolah Gratis di Gunungkidul
Hal itu untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan PKJ. "Nanti kami rencanakan bersama supaya ini bisa lebih sempurna lagi," ucapnya.
Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Mutu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Suci Rohmadi mengatakan, sejatinya penanaman pendidikan karakter sudah ada sebelumnya di setiap sekolah.
Namun, belum maksimal. Munculnya kebijakan PKJ ini berfungsi sebagai penguat dengan mengusung kearifan lokal.
"Nanti yang diulas seperti nilai luhur, tradisi, artefak, dan sebagainya," bebernya.
Media sosial serta derasnya informasi memudahkan generasi muda mengakses bahkan meniru budaya-budaya luar hingga tak terbendung.
"PKJ itu untuk membentengi itu, budaya kita syarat dengan nilai luhur," katanya.
Ketua Dewan Pendidikan DIY Sutrisno Wibowo menjelaskan, inisiatif PKJ ini berakar langsung dari visi Gubernur DIY.
Ideologi dan tata nilai kebudayaan lokal diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan fondasi utama bagi para peserta didik dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang perguruan tinggi.
”Ngarsa Dalem itu kan inspirasi utama dalam Pendidikan Khas Kejogjaan ketika beliau pidato pengukuhan Dr. Honoris Causa tahun 2019 di UNY," ujarnya.
Baca Juga: Sekolat Pertanian Bantul Tak Hanya Sasar Siswa di Sekolah, Rencananya Bakal Menyasar Pemuda di Lingkup Kapanewon
Ada tiga filosofi utama yang disampaikan HB X saat pidato tersebut berkaitan dengan perlunya pendidikan berbasis budaya yang diberi 'ruh' Jogja.
Filosofi pertama adalah Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti.
Konsep tersebut kemudian digodok oleh Dewan Pendidikan bersama Disdikpora DIY sejak 2020 dan mulai diwujudkan pada 2022.
Sutrisna menambahkan, efektivitas program ini telah terlihat dari hasil uji coba di sejumlah sekolah.
Dari pengukuran karakter dengan rentang nilai 1 hingga 5, sekolah-sekolah yang telah menerapkan PKJ mencatatkan rata-rata nilai 4,1 atau masuk dalam kategori sangat baik.
"Nanti kita harapkan setelah proses uji coba ini selesai, kita laksanakan di sekolah, dan Insya Allah tanggal 4 Mei nanti Ngarsa Dalem, Bapak Gubernur akan meresmikan PKJ berlaku di seluruh DIY.
Baca Juga: Jateng Perkuat Regenerasi Petani dan Inovasi Demi Jaga Ketahanan Pangan
Mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, sampai perguruan tinggi. Dan bukunya sudah siap, termasuk e-book-nya yang bisa diunduh," jelasnya.
Kepala Sekolah SD Negeri Kasihan Harsiana Wardani menambahkan, ada dua pilar utama strategi implementasi PKJ selama menerapkannya.
Pertama, internalisasi karakter dengan mengintegrasikan seluruh mata pelajaran dengan PKJ, baik itu intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.
Sekolah tersebut juga menerapkan kebijakan Kamis Budaya dengan mengajak siswa untuk memakai busana Jawa Gagrak Ngayogyakarta setiap hari Kamis.
Kebijakan tambahan Kamis Pon yang memang sudah terlaksana.
Selain itu, para siswa juga diajak untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa saat di lingkungan sekolah di hari tersebut.
"Dari 06.30 hingga 07.00 kami juga membunyikan gamelan yang ditabuh oleh para siswa, kami juga punya poster kawruh budaya," ujarnya. (oso/wia)
Editor : Herpri Kartun