Oleh : M. Afnan Hadikusumo*
Pendahuluan
Globalisasi telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memahami budaya, pendidikan, dan identitas sosial. Perkembangan teknologi, arus informasi yang semakin cepat, serta perubahan gaya hidup modern menghadirkan tantangan baru bagi berbagai tradisi lokal. Salah satu warisan budaya yang mengalami proses adaptasi tersebut adalah pencak silat, termasuk Perguruan Seni Bela Diri Tapak Suci.
Pencak silat tidak lagi hanya dipandang sebagai seni mempertahankan diri, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai filosofis, pendidikan, dan sosial. Pengakuan UNESCO pada tahun 2019 terhadap pencak silat sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity memperkuat posisi pencak silat sebagai bagian dari identitas budaya dunia.
Dalam konteks tersebut, Tapak Suci mengalami transformasi peran. Perguruan ini tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik bela diri atau pencapaian prestasi olahraga, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembentukan karakter, pelestarian budaya, dan gerakan sosial berbasis kemanusiaan. Seorang pesilat modern tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuan fisiknya, tetapi juga berdasarkan kontribusi sosial yang diberikan kepada masyarakat.
Salah satu kekuatan utama Tapak Suci terletak pada pendekatan pendidikan karakter. Tradisi pencak silat selalu menempatkan kemampuan fisik dalam kerangka etika, pengendalian diri, dan tanggung jawab moral. Kemampuan bertarung bukan tujuan utama, tetapi menjadi sarana untuk membentuk individu yang disiplin, berani, rendah hati, dan mampu menggunakan kemampuannya secara bijaksana.
Baca Juga: PSS Sleman Berduka, Mantan Pelatih M. Basri Wafat
Hidayat (2023) menjelaskan bahwa pencak silat memiliki dimensi pendidikan karakter yang menjadikan pengendalian diri sebagai fondasi utama. Pesilat tidak hanya dilatih agar kuat secara fisik, tetapi juga dibentuk untuk memiliki sikap menghormati orang lain dan mampu mengendalikan emosi.
Nilai tersebut semakin relevan dalam menghadapi berbagai persoalan sosial generasi muda, seperti kekerasan remaja, bullying, dan melemahnya kontrol sosial. Tapak Suci dapat menjadi ruang pendidikan alternatif yang menggabungkan olahraga, budaya, dan pembinaan moral.
Dengan modal jaringan yang telah menjangkau 36 provinsi di Indonesia serta memiliki 24 perwakilan wilayah di berbagai negara, Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, tidak salah jika Tapak Suci mengembangkan fungsi sosialnya dengan mengaktualisasikan gagasannya melalui pendirian Akademi Tapak Suci. Akademi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat latihan bela diri, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan bagi kelompok rentan seperti korban bullying, anak yatim, dan masyarakat kurang mampu. Melalui pelatihan bela diri dan pembinaan karakter, peserta diharapkan memiliki kepercayaan diri, kemampuan perlindungan diri, serta karakter yang lebih kokoh.
Lestari (2025) menunjukkan bahwa pembinaan melalui Tapak Suci berpotensi mengurangi perilaku negatif remaja karena menyediakan lingkungan yang positif, disiplin, serta komunitas
yang mendukung perkembangan psikososial. Dengan demikian, Tapak Suci dapat berperan sebagai benteng budaya sekaligus benteng sosial dalam menghadapi perubahan zaman.
Transformasi Tapak Suci juga terlihat dari meningkatnya keterlibatan anggotanya dalam kegiatan kemanusiaan. Dalam masyarakat modern, seorang pesilat tidak cukup hanya memiliki kemampuan melindungi diri, tetapi juga harus mampu hadir ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan.
Keterlibatan anggota Tapak Suci dalam kegiatan sosial dan penanganan bencana melalui sinergi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menunjukkan perubahan orientasi tersebut. Anggota perguruan tidak hanya menjadi praktisi bela diri, tetapi juga menjadi bagian dari kekuatan sosial yang membantu masyarakat dalam situasi darurat.
Aktivitas kemanusiaan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai bela diri dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Disiplin, kerja sama, keberanian, dan ketahanan mental yang diperoleh melalui latihan menjadi modal penting dalam kegiatan sosial.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep modal sosial yang dikembangkan oleh Coleman (1988) dan Putnam (2000). Modal sosial menjelaskan bahwa hubungan sosial, kepercayaan, serta jaringan komunitas dapat menjadi kekuatan kolektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Dalam konteks Tapak Suci, jaringan antaranggota menjadi sumber daya sosial yang memungkinkan perguruan berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan.
Dengan demikian, identitas pesilat mengalami perluasan makna. Pesilat tidak hanya hadir di arena pertandingan, tetapi juga berada di tengah masyarakat sebagai individu yang memberikan manfaat.
Konsep pesilat modern dapat dipahami melalui tiga kekuatan utama, yaitu kekuatan jasmani, kekuatan rohani, dan kepedulian sosial. Ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa Tapak Suci bukan hanya perguruan olahraga, tetapi juga ruang pembentukan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara kemampuan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Namun, perkembangan Tapak Suci di era globalisasi juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah risiko komersialisasi yang dapat menggeser nilai filosofis bela diri menjadi sekadar hiburan atau kompetisi. Jika tidak dikelola dengan baik, nilai pendidikan dan moral dalam pencak silat dapat melemah.
Selain itu, fanatisme kelompok juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. Identitas perguruan harus menjadi sumber kebanggaan tanpa menciptakan sikap eksklusif atau konflik dengan kelompok lain. Tapak Suci perlu tetap terbuka terhadap kerja sama dan perkembangan masyarakat global.
Digitalisasi menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga keberlanjutan Tapak Suci. Pemanfaatan teknologi digital dapat digunakan untuk mendokumentasikan sejarah perguruan, menyebarkan nilai-nilai pendidikan, menyediakan materi latihan daring, serta memperkenalkan budaya pencak silat kepada generasi muda.
Transformasi digital bukan berarti menggantikan latihan fisik secara langsung, tetapi menjadi sarana untuk memperluas jangkauan nilai-nilai Tapak Suci kepada masyarakat yang lebih luas.
Kesimpulan
Tapak Suci di era globalisasi mengalami transformasi peran yang signifikan. Perguruan ini tidak lagi hanya menjadi tempat mempelajari teknik bela diri, tetapi berkembang menjadi institusi pendidikan karakter, penjaga budaya, dan gerakan kemanusiaan.
Kekuatan utama Tapak Suci terletak pada kemampuannya menggabungkan nilai-nilai tradisi dengan kebutuhan zaman. Melalui pendidikan karakter, pemberdayaan sosial, pemanfaatan teknologi digital, dan keterlibatan dalam aksi kemanusiaan, Tapak Suci menunjukkan bahwa bela diri memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan menghadapi lawan.
Kemenangan terbesar seorang pesilat modern bukan hanya ketika mampu memenangkan pertandingan, tetapi juga ketika kemampuan yang dimilikinya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan masyarakat luas.
*Ketua Umum Perguruan Seni Beladiri Tapak Suci. Mahasiswa Pascasarjana Prodi Ketahanan Nasional UGM
Editor : Bahana.