Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

PSS Sleman Jangan Mampir Ngombe di Super League

Ananto Priyatno • Sabtu, 9 Mei 2026 | 21:12 WIB
(Direktur Radar Jogja)
(Direktur Radar Jogja)

 

 

 

 

DERU ratusan sepeda motor mendadak memenuhi areal parkir Stadion Manahan. Ribuan orang berbaju hijau berkumpul sembari menyanyikan yel-yel. Teriknya matahari Kota Solo seperti yang menurunkan volume nyanyian mereka. Sembari bernyanyi mereka berjalan tertib menuju pintu masuk tribun timur Stadion Manahan.

            Di dalam stadion pemandangan begitu menyejukkan mata. Ribuan massa berkostum hijau itu memenuhi seluruh tribun timur Manahan. Saat itu, tibun timur belum beratap seperti saat ini. Dari seberang barat terlihat ribuan pasang tangan membentangkan kertas hijau kuning yang membentuk keroegrafi “PSS Sleman”. Ya, itulah Slemania. Pendukung fanatik PSS Sleman.

            Kala itu medio 2004, PSS bertandang ke Stadion Manahan. Mereka mendukung timnya menghadapi tuan rumah Persijatim Solo FC. Kekompakan suporter Sleman ini menjadi suguhan yang cukup menarik di laga itu. Meski laga berakhir sama kuat 1-1, tapi akhir pertandingan berlangsung aman.

Itulah kali pertama saya melihat bentuk dan wujud pendukung PSS. Maklum, saya baru saja menempati desk olahraga di Radar Solo. Sebelumnya, saya masih jadi wartawan ndeso di Radar Banyumas. Begitu pindah tugas ke Radar Solo, barulah saya menjadi jurnalis sepak bola sesungguhnya. Liputannya klub kasta tertinggi sepak bola tanah air. Mohon maaf sebelumnya, saya masih ndeso banget. Liputan saya di Radar Banyumas, hanya tim-tim Divisi IIB semacam Persibas Banyumas, PSCS Cilacap, Persekat Tegal, Persip Pekalongan dan Persibara Banjarnegara.

Liputannya pun tak tentu. Maklum kala itu, Divisi IIB masih belum regular. Diputar menunggu jadwal turun dari Pengda PSSI Jateng. Kalau tak ada Divisi II liputan saya lebih ngenes lagi. Tarkam pun menjadi alternatif paling utama. Ini lantaran, saya harus memenuhi kewajiban. Setor minimal tiga berita setiap hari. Kalau tidak, bisa jadi kendil di rumah ngguling.

Gara-gara kerap blusukan ke tarkam-tarkam, nama Radar Banyumas ikut terkerek. Banyak panitia tarkam yang senang diliput. Saya pun sempat kelabakan. Soalnya, lokasi lapangan antara satu tarkam dengan yang lainnya terpaut belasan kilometer. Akhirnya, untuk mencari skala prioritas saya bikin kerja sama dengan panitia tarkam. Bentuknya, panitia harus beli koran yang nantinya dibagikan ke penonton jika ingin diliput. Eh, ternyata banyak dari pengelola tarkam yang antusias. Imbasnya, ternyata cukup ampuh. Oplah Radar Banyumas ikut naik gara-gara liputan tarkam.

Kembali ke PSS. Kini setelah 22 tahun berlalu. Tak disangka saya menjadi sangat akrab dengan PSS. Sebab, sejak 2021 saya ditugaskan ke Radar Jogja. Tapi bukan sebagai jurnalis lagi. Kendati saya tidak liputan lagi tapi tetap saya PSS mampu menarik animo saya. Gairah untuk mengikuti sepak bola Indonesia kembali tumbuh

Jujur saya sempat sakit hati dan setengah mati rasa dengan sepak bola tanah air. Tepatnya, kala sepak bola dalam negeri hancur lebur dengan segudang  konspirasi. Hal –hal aneh kerap muncul. Telinga saya seakan menjadi wajar kala mendengar adanya kebusukan, kecurangan, kongkalikong di belakang lapangan. Tangan – tangan besar yang tak tampak, terasa sangat mencengkeram sepak bola tanah air kala itu.

Awalnya, saya tak percaya dengan isu, desas-desus itu. Tapi lama-lama kok isu-isu itu menjadi kenyataan. Perasaan dikhianati pelan-pelan merayap di benak saya. Kerja keras liputan, blusukan, hingga mengejar narasumber demi menyajikan berita yang bagus bagi pembaca, terasa tak berarti.

Namun, setelah perbaikan di tubuh PSSI, pelan tapi pasti kegemaran saya terhadap sepak bola tanah air mulai tumbuh. Apalagi saat diminta teman-teman Radar Jogja untuk menjadi narasumber di program siniar Podcast Mainbola. Hampir setiap pekan saya cuap-cuap ngomongin PSS Sleman. Mulai dari mengomentari pembentukan skuad, hingga tetek bengek lainnya.

Lama-lama hati ini terasa mulai dekat dengan PSS. Saat PSS degradasi, entah kenapa saya ikut sedih. Puncaknya pekan lalu, PSS kembali promosi ke SuperLeague. Di saat bersamaan PSIM Jogja juga bertahan di SuperLeague. Jadilah DIJ, punya dua tim di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Nyaris setiap pekan saya mengikuti perkembangan PSS. Tanpa terasa ikatan batin mulai muncul. Saya sekarang punya satu tim idola. Sebelumnya, saya lama mengikuti Persibas Banyumas. Pindah ke Solo saya rutin mengikuti Persijatim Solo FC. Juga tak ketinggalan Persis Solo sebagai klub asli kota itu.

Saya masih ingat, beberapa senior jurnalis di Radar Solo berpesan agar saya tak lupa liputan Persis Solo. Meski saat itu Persis masih di Divisi IIA, tapi secara histioris tim ini punya tempat tersendiri di hati penggila bola Solo. Ada yang unik kala itu. Saat saya liputan Persijatim, banyak kolega wartawan yang hadir.

Sebaliknya, kala saya meliput Persis tak ada satu pun teman jurnalis. Tapi saya tak pernah malas meliput Persis. Tak heran kala, Persis promosi ke Divisi Utama 2006 silam, koran Radar Solo menjadi satu pegangan utama para penggemar bola di Solo. Soalnya, mereka tahu jika Radar Solo-lah yang mengikuti perkembangan Persis mulai dari Divisi IIA.

Kini saya pun paham benar dengan PSS Sleman. Bagaimana tidak, hampir setiap pekan saya harus membahasnya di siniar. Dan uniknya, selama saya menjadi narasumber di Mainbola, PSIM dan PSS kembali ke kasta tertinggi sepak bola tanah air.

Bagi PSS promosi kali ini terasa sangat manis. Sepertinya pihak klub benar-benar jitu membuat roadmap dan planning agar tim ini bisa promosi. Tentu ini menjadi kabar bahagia bagi pecinta PSS. Harapan agar musim depan PSS tidak mampir ngombe di SuperLeague bisa tercapai. Eman-eman sih, kalau PSS tidak bertahan lama di SuperLeague. Semua aspek yang dibutuhkan menjadi klub besar ada di PSS.

Kini tak hanya Slemania yang mendukung PSS. Ada kelompok supporter PSS yang tengah naik daun pamornya. Namanya BCS. Dua kelompok supporter inilah yang membuat PSS menjadi tim yang punya nilai besar. Secara finansial, kedua elemen pendukung ini bisa menjadi modal kuat PSS menjadi klub yang sehat.

Editor : Heru Pratomo
#mampir ngombe #PSS #PSIM #PSS Sleman #persis