Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

HUT ke-26 Radar Jogja Integritas, Kepercayaan dan Istimewa

Ananto Priyatno • Rabu, 1 April 2026 | 06:00 WIB

(Direktur Radar Jogja)
(Direktur Radar Jogja)
 ANTREAN panjang kendaraan menuju arah pintu tol Purwomartani masih terbayang di mata. Sedapnya opor dan ketupat masih terasa di lidah. Hiruk pikuk Lebaran masih nyata. Masih ada sisa-sisa teman yang mengucap minal aidzin walfaidzin. Tak terasa 1 April menjelang. Ya, hari ini  Radar Jogja genap berusia 26 tahun. 
Panjang jalan yang sudah dilewati media ini. Pahit, manis, suka, duka, sedih senang, mengiringi perjalanan Radar Jogja. Mungkin tak banyak yang mengira umur Radar Jogja bisa sampai 26 tahun. Tapi, nyatanya sampai kini Radar Jogja masih eksis. Tekanan teknologi tak membuat kami goyah. Bahkan, perkembangan teknologi membuat kami semakin kuat.
 
Kata orang pintar media tak akan pernah mati. Hanya sarananya saja yang berganti. Kami sadar itu. Mungkin hanya segelintir media cetak yang masih bertahan hidup saat ini. Tapi, penyebabnya tak bisa digeneralisasi. Banyak yang menuduh teknologi, terutama internet yang membunuh koran. Tapi itu tak sepenuhnya benar. Laiknya setiap kali revolusi industri baru lahir, pasti industri lama menjadi pergunjingan. Kemajuan teknologi digital melahirkan platform-platform penyedia informasi baru.
 
Yang paling keras adalah platform media sosial. Ini yang banyak merebut jatah dari media konvensional, terutama cetak. Banyak media konvensional yang tumbang akibat derasnya perkembangan medsos. Dan, Radar Jogja sekali lagi sadar betul. Tak mudah untuk berkompetisi dengan media jenis ini. Tapi, kami yakin itu tak menjadi masalah. 
 
Dulu, pensil menjadi alat tulis utama. Kemudian teknologi melahirkan alat tulis yang lebih canggih dan praktis. Pulpen atau pena. Namun, apakah pensil kemudian mati? Sepertinya kini masih banyak pensil yang kita jumpai. Pensil sepertinya menjadi contoh kecil dari sulitnya barang lama yang masih bertahan hidup. Pulpen atau pena, ternyata tak sepenuhnya bisa menggantikan pensil.
 
Memang, si pensil ini berjuang keras mencari celah yang tak bisa diperankan pulpen atau pena. Sama dengan media cetak. Radar Jogja juga berjuang mencari celah yang tak bisa dimasuki media sosial. 
 
Dari awal berdiri Radar Jogja terus menjaga integritas dan kepercayaan pembaca. Jalur inilah yang telah menjadi celah Radar Jogja. Arus informasi yang kini kian bebas, pelan tapi pasti akan menemukan jalannya. Teknologi digital, terutama medsos memang mempercepat arus informasi. Di lain pihak ada sisi gelap dari teknologi digital. 
 
Terbaru, kita masih syok menyaksikan betapa menderitanya para pemudik yang nyasar ke areal persawahan di Purwomartani. Demi menjangkau gerbang tol fungsional, mereka malah keblasuk masuk jalan persawahan. Para pemudik ini mengikuti jalur Google Maps yang diyakini valid. Tapi nyatanya malah nyasar-nyasar.
 
Ini mungkin salah satu bukti, jika teknologi digital tak selalu benar dan presisi. Bahkan artificial intelligent (AI) yang kini marak pun mulai menuai beragam keluhan. Banyak informasi yang disajikan tidak valid. Ini semakin membuka mata bahwa tak selamanya teknologi ini benar.
 
Masih dibutuhkan sosok manusia di balik teknologi. Inilah kelebihan Radar Jogja. Kami tak menyangkal kerja-kerja redaksi banyak dibantu teknologi. Tapi, kontrol manusia tetap nomor satu. Arus informasi  yang didapat redaksi pasti akan diverifikasi kebenarannya. Banyak langkah yang ditempuh tim redaksi untuk memastikan kebenaran informasi.
 
Orang awam yang tak pernah masuk industri media, gampang menciptakan konklusi jika media mainstream akan sulit bergerak di tengah impitan medsos. Tapi, Radar Jogja membuktikan sebaliknya. Pada 2025 performa Radar Jogja ternyata tumbuh luar biasa. Angka-angka semuanya hijau. Padahal banyak orang bilang tahun lalu adalah masa sulit bagi industri.
 
Kini di usia 26 tahun, banyak hal yang akan dilakukan Radar Jogja. Apalagi, ruang lingkup media ini berada di kota yang dinamika ekonominya sangat stabil. Inilah keistimewaan Jogja. Kota ini menyimpan potensi besar bagi media. Ini yang membuat kami optimistis di usia ke-26 Radar Jogja akan semakin Istimewa. (laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#media cetak #radar jogja #Media Online #26 tahun #revolusi industri