Kesalahan Pertama: Buka Kotak Pandora Pengaduan Rakyat (Siapa Suruh Rajin?)
Purbaya ini sungguh tidak tahu diri. Untuk apa ia repot-repot membuka kanal pelaporan langsung bagi rakyat yang "teraniaya" oleh pegawai pajak dan bea cukai? Hasilnya?
Ribuan laporan masuk dalam dua hari! Tentu saja, itu membuat kepanikan di kalangan pemain inti.
Purbaya gagal paham: kedamaian sejati negara ini bukan terletak pada bersihnya sistem, tapi pada kemampuan menutupi kekotoran itu secara elegan.
Anda mengubah bisik-bisik di warung kopi menjadi "fakta yang tak terbantahkan" di meja atasan. Sungguh sebuah tindakan yang tidak profesional dan mengganggu ketenangan kolektif!
Kesalahan Kedua: Anti-Main Aman dalam Penggeledahan (Bikin Gaduh Itu Dilarang!).
Saat ada penggeledahan di kantor bea cukai, normalnya, pejabat tinggi akan melontarkan kalimat sakti seperti: "Kami hormati proses hukum, namun asas praduga tak bersalah harus dijunjung tinggi." Kalimat manis ini meredam, menenangkan, dan memberi sinyal bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi Purbaya? Ia justru bilang tak akan melindungi pegawai nakal! Di negeri yang menghargai ketenangan di atas segalanya, ketegasan model Purbaya ini dianggap "membuat gaduh".
Seolah-olah, lebih baik membiarkan kebobrokan bersemi dalam sunyi daripada memperbaikinya dengan ribut-ribut.
Kesalahan Ketiga: Membongkar Dapur Negara (Mengapa Harus Jujur?).
Ini adalah kesalahan Purbaya yang paling menunjukkan ketidakmampuannya berpolitik: terlalu terbuka soal keuangan negara.
Ia berani bicara di depan publik tentang kondisi subsidi dan kompensasi energi di PLM dan Pertamina, bahkan menegaskan bahwa semua tagihan sudah dilunasi.
Mengapa ini salah besar? Karena di ranah kebijakan publik, angka tidak pernah sekadar angka.
Angka adalah lahan basah, adalah negosiasi kepentingan, dan seringkali, adalah alat tawar-menawar.
Ketika Purbaya membuka "Lunas!" di depan umum, ia secara efektif menutup pintu negosiasi yang seringkali dimainkan di belakang layar, di mana ketidakjelasan angka bisa menjadi sweet spot untuk lobi dan alokasi dana yang "fleksibel".
Ia telah menyingkap tabir mitos bahwa selalu ada yang kurang dalam anggaran BUMN besar, mitos yang sangat nyaman untuk dijaga.
Dengan kejujuran kalkulatif ini, ia bukan hanya mengganggu birokrasi, tetapi juga merusak ekosistem ketidakpastian yang selama ini menghidupi banyak pihak.
Purbaya, Anda seharusnya tahu, dalam politik anggaran, sedikit misteri jauh lebih menguntungkan daripada transparansi total.
Kesalahan Keempat: Menghilangkan Zona Nyaman (Tutup Pintu Rezeki Terlarang!).
Purbaya benar-benar keterlaluan dalam implementasi.
Kebijakan baru bea cukai dan pengawasan impor diperketat untuk menutup kebocoran penerimaan negara.
Kebijakan ini jelas mengguncang stabilitas mereka yang biasa bermain di celah hukum.
Ia menutup pintu-pintu gelap satu per satu. Ia seolah berteriak, "Enak saja kalian main-main dengan uang rakyat!" Padahal, membiarkan beberapa pintu tetap terbuka adalah semacam "kompromi damai" yang sudah lama dipahami.
Purbaya telah mengubah kompromi menjadi konfrontasi, dan wajar jika namanya kini menjadi sasaran empuk.