Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

"Lima Kesalahan" Purbaya: Panduan Menjadi Pejabat yang Dibenci Demi Kebaikan

Kusno S Utomo • Selasa, 28 Oktober 2025 | 22:10 WIB
Nazaruddin, pemerhati masalah sosial, politik dan hukum.
Nazaruddin, pemerhati masalah sosial, politik dan hukum.
 
 
Oleh: Nazaruddin, pemerhati masalah sosial, politik dan hukum
 
RADAR JOGJA - Menteri Keuangan Purbaya adalah contoh sempurna betapa berbahayanya seorang pejabat yang mengambil jabatan terlalu serius.
 
Bukannya mengikuti pakem abadi birokrasi, yaitu smooth sailing tanpa riak.
 
Ia justru memilih menjadi martir sistem. Kisahnya adalah sebuah tragedi komedi, di mana kejujuran adalah dosa paling fundamental. 
 
Berikut adalah lima "kesalahan" fatal yang seharusnya ia hindari jika ingin pensiun dengan tenang dan tanpa musuh.
 
Baca Juga: Ciptakan Iklim Investasi, Pemkab Kulon Menyusun Kajian Teknis dan Hukum Pemanfaatan Ruang RTRW
 
​Kesalahan Pertama: Buka Kotak Pandora Pengaduan Rakyat (Siapa Suruh Rajin?)
 
Purbaya ini sungguh tidak tahu diri. Untuk apa ia repot-repot membuka kanal pelaporan langsung bagi rakyat yang "teraniaya" oleh pegawai pajak dan bea cukai? Hasilnya?
 
Ribuan laporan masuk dalam dua hari! Tentu saja, itu membuat kepanikan di kalangan pemain inti. 
 
Purbaya gagal paham: kedamaian sejati negara ini bukan terletak pada bersihnya sistem, tapi pada kemampuan menutupi kekotoran itu secara elegan.
 
Anda mengubah bisik-bisik di warung kopi menjadi "fakta yang tak terbantahkan" di meja atasan. Sungguh sebuah tindakan yang tidak profesional dan mengganggu ketenangan kolektif!
 
Baca Juga: Lamine Yamal itu Wonderkid atau Wonderkidding?
 
​Kesalahan Kedua: Anti-Main Aman dalam Penggeledahan (Bikin Gaduh Itu Dilarang!).
 
Saat ada penggeledahan di kantor bea cukai, normalnya, pejabat tinggi akan melontarkan kalimat sakti seperti: "Kami hormati proses hukum, namun asas praduga tak bersalah harus dijunjung tinggi." Kalimat manis ini meredam, menenangkan, dan memberi sinyal bahwa semuanya akan baik-baik saja.
 
Tapi Purbaya? Ia justru bilang tak akan melindungi pegawai nakal! Di negeri yang menghargai ketenangan di atas segalanya, ketegasan model Purbaya ini dianggap "membuat gaduh". 
 
Seolah-olah, lebih baik membiarkan kebobrokan bersemi dalam sunyi daripada memperbaikinya dengan ribut-ribut.
 
Baca Juga: Pesan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X Pada Hari Sumpah Pemuda: Pemuda Wajib Menjadi Garda Terdepan Pertarungan Algoritma
 
​Kesalahan Ketiga: Membongkar Dapur Negara (Mengapa Harus Jujur?).
 
Ini adalah kesalahan Purbaya yang paling menunjukkan ketidakmampuannya berpolitik: terlalu terbuka soal keuangan negara.
 
Ia berani bicara di depan publik tentang kondisi subsidi dan kompensasi energi di PLM dan Pertamina, bahkan menegaskan bahwa semua tagihan sudah dilunasi.
 
​Mengapa ini salah besar? Karena di ranah kebijakan publik, angka tidak pernah sekadar angka.
 
Angka adalah lahan basah, adalah negosiasi kepentingan, dan seringkali, adalah alat tawar-menawar. 
 
Baca Juga: Pesan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X Pada Hari Sumpah Pemuda: Pemuda Wajib Menjadi Garda Terdepan Pertarungan Algoritma
 
Ketika Purbaya membuka "Lunas!" di depan umum, ia secara efektif menutup pintu negosiasi yang seringkali dimainkan di belakang layar, di mana ketidakjelasan angka bisa menjadi sweet spot untuk lobi dan alokasi dana yang "fleksibel". 
 
Ia telah menyingkap tabir mitos bahwa selalu ada yang kurang dalam anggaran BUMN besar, mitos yang sangat nyaman untuk dijaga.
 
Dengan kejujuran kalkulatif ini, ia bukan hanya mengganggu birokrasi, tetapi juga merusak ekosistem ketidakpastian yang selama ini menghidupi banyak pihak. 
 
Purbaya, Anda seharusnya tahu, dalam politik anggaran, sedikit misteri jauh lebih menguntungkan daripada transparansi total.
 
Baca Juga: Laka di Rongkop, Gunungkidul Renggut Tiga Korban Jiwa, Truk Molen Diduga Lewati Garis Marka
 
​Kesalahan Keempat: Menghilangkan Zona Nyaman (Tutup Pintu Rezeki Terlarang!).
 
Purbaya benar-benar keterlaluan dalam implementasi. 
 
Kebijakan baru bea cukai dan pengawasan impor diperketat untuk menutup kebocoran penerimaan negara. 
 
Kebijakan ini jelas mengguncang stabilitas mereka yang biasa bermain di celah hukum. 
 
Ia menutup pintu-pintu gelap satu per satu. Ia seolah berteriak, "Enak saja kalian main-main dengan uang rakyat!" Padahal, membiarkan beberapa pintu tetap terbuka adalah semacam "kompromi damai" yang sudah lama dipahami.
 
Purbaya telah mengubah kompromi menjadi konfrontasi, dan wajar jika namanya kini menjadi sasaran empuk.
 
Baca Juga: Mendapatkan Peran Sentral Bersama BOSA di DBL Yogyakarta Meskipun Berstatus Rookie, Criscito Forlantino: Dinikmati Aja
 
​Kesalahan Kelima: Membiarkan Rakyat Mulai Percaya Padanya (Dosa Paling Fatal!).
 
Ini adalah puncak dari semua "kesalahan" Purbaya.
 
Ia mulai didengar. Bukan oleh para elit yang seharusnya ia layani dengan kode etik tidak tertulis, tetapi oleh rakyat kecil.
 
Menurut para pemain di atas sana, ini adalah ancaman eksistensial. 
 
Pejabat yang jujur dan didukung rakyat adalah musuh terbesar kekuasaan lama, karena itu berarti sistem lama akan kehilangan legitimasinya. 
 
Serangan, fitnah, dan penyudutan yang kini ia terima hanyalah konsekuensi logis.
 
Baca Juga: Brendan Rodgers Mundur Sebagai Manajer Celtic Setelah Awal Musim Yang Buruk
 
​Purbaya harusnya sadar: di negeri yang terbiasa hidup di bawah selimut kompromi, kejujuran hanyalah senjata yang melukai diri sendiri. 
 
Ia berusaha memperbaiki sistem yang sengaja dibuat nyaman oleh mereka yang takut kehilangan kuasa. 
 
Mungkin dia tidak salah, tapi dia adalah seorang idealis yang berani di waktu yang salah.
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Menteri Keuangan Purbaya #Nazaruddin #Kesalahan #pejabat #kritik