Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Polemik Ijazah Jokowi, Beda Antara Otentik dan Identik

Kusno S Utomo • Sabtu, 24 Mei 2025 | 20:17 WIB
 
Oleh Nazaruddin
Pengamat Hukum dan Kebijakan Publik
 
Pada 22 Mei 2025, Bareskrim Polri mengumumkan hasil uji laboratorium forensik terhadap ijazah Jokowi.  
 
Pengujian mencakup bahan kertas, teknik cetak, tinta tulisan tangan, cap stempel, dan tanda tangan dekan serta rektor. 
 
Hasilnya menunjukkan bahwa ijazah tersebut identik dengan dokumen pembanding dari tiga rekan seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM.
 
Baca Juga: Pelatih Inter Miami Javier Mascherano: Perpanjangan Kontrak Lionel Messi Akan Membawa Ketenangan
 
Yang harus diberi catatan adalah ijazah jokowi identik dengan ijazah tiga teman seangkatan.
 
Mestinya yang harus dibuktikan oleh Bareskrim Polri adalah keotentikan ijazah Jokowi 
 
Baca Juga: Napoli Raih Scudetto Kedua Dalam Tiga Musim Setelah Taklukkan Cagliari
 
1. Identik ≠ Otentik
 
Identik artinya sama secara bentuk atau isi. Dalam konteks ini:
 
• Ijazah Jokowi memiliki bentuk, cap, tanda tangan, tinta, dan jenis kertas yang sama atau sangat mirip dengan tiga ijazah teman seangkatannya.
 
Otentik artinya asli dan sah berasal dari sumber resmi, bukan tiruan, bukan fabrikasi, dan bukan hasil rekayasa. 
 
Baca Juga: Update Klasemen Akhir Papan Atas BRI Liga 1, Dewa United Segel Tempat di Asia, Persebaya Gagal di Tiga Besar
 
Otentisitas mencakup:
• Asal dokumen dari instansi resmi (UGM)
• Proses penerbitannya sesuai prosedur akademik dan administratif
• Data dalam dokumen sesuai dengan rekam jejak dan arsip institusi.
 
Catatan penting: Sesuatu bisa identik secara fisik, tetapi belum tentu otentik secara historis dan administratif.
 
2. Kritik terhadap Metodologi Pembandingan Bareskrim
 
Bareskrim Polri menyatakan bahwa:
“Ijazah Jokowi identik dengan ijazah milik tiga teman seangkatannya.”
 
Baca Juga: Ghina Raihanah: Adik Tsania Marwah Cantik Berprestasi, Lolos Seleksi Jadi Calon Menantu Najwa Shihab
 
Namun kritiknya adalah:
 
• Tiga teman pembanding tersebut juga menyimpan dokumen yang sudah dipertanyakan, terutama pada lembar pengesahan skripsi yang sama-sama: 
 
• Tidak memiliki tanda tangan para dosen penguji.
 
• Menggunakan font digital (diduga dari software modern, tidak sesuai dengan era 1980-an).
 
Artinya, jika ketiga dokumen pembanding juga mencurigakan, maka pembandingan dengan mereka tidak bisa membuktikan keotentikan, karena bisa jadi:
 
Seluruhnya berasal dari sumber fabrikasi yang sama.
 
Baca Juga: Jurgen Klopp Mengaku Kesal dengan Penggemar Liverpool Karena Mencemooh Trent Alexander-Arnold
 
3. Bagaimana Seharusnya Uji Keotentikan Dilakukan?
 
Untuk membuktikan keotentikan, seharusnya:
 
• Sampling lebih luas, bukan hanya tiga orang, tetapi; secara acak dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan atau lulusan 1985.
 
• Dari berbagai program studi, pembimbing, dan latar belakang.
 
• Verifikasi silang dengan arsip institusi, seperti: Buku induk mahasiswa, transkrip akademik, daftar peserta wisuda, notulensi sidang skripsi, tanda tangan dosen penguji di dokumen asli dan audit forensik skripsi fisik, untuk mengecek tinta, metode pengetikan, dan pencetakan, apakah sesuai dengan teknologi yang tersedia pada 1985.
 
Baca Juga: Tinggalkan Manchester United, Scott McTominay Bawa Napoli Juara Serie A, MVP Lagi, Setan Merah Gak Menyesal?
 
• Wawancara atau kesaksian saksi sejarah seperti dosen, dekan, atau pegawai administrasi masa itu.
 
4. Kesimpulan
 
• Klaim bahwa ijazah Jokowi “identik” dengan tiga teman seangkatan tidak otomatis membuktikan bahwa ijazah itu “otentik.”
• Bila ketiga pembanding itu sendiri cacat secara historis dan forensik, maka pembandingan tersebut justru memperkuat kemungkinan fabrikasi sistemik.
• Untuk memastikan otentisitas, diperlukan verifikasi menyeluruh yang melibatkan data administratif, sampling acak, dan audit lintas dokumen. (eNZet)
 
Editor : Meitika Candra Lantiva
#nasruddin #polemik ijazah jokowi #joko widodo #ijazah jokowi #bareskrim polri #Pengamat hukum dan Sosial Politik Nasruddin