Oleh : Ridho Al Arsiy & Yuspi Amalia Pratiwi - Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mataram
FEMINISME sering juga diartikan sebagai sebuah tindakan yang terbentuk dari perkumpulan ide gagasan yang diakibatkan oleh ketidaksetaraan, ketidakadilan, penindasan serta diskriminasi terhadap perempuan. Perkembangan dari masa ke masa membuat tuntutan dari feminisme ialah untuk melahirkan sebuah visi tentang masyarakat yang demokratis, adil dan sejahtera.
Seiring berjalannya waktu dan masifnya globalisasi, media sosial secara progresif berkembang dan menjadi alat yang ampuh untuk mendistribusikan informasi, berbagi ide, dan mempromosikan gerakan sosial. Salah satu fenomena yang menarik adalah munculnya aktivis feminisme di media sosial yang mengambil peran dalam membawa perubahan menuju kesetaraan gender dalam pembangunan.
Aktivis feminisme menggunakan platform-platform ini untuk membangun kesadaran tentang isu-isu yang berkaitan dengan gender, mengkritik ketidakadilan sosial, serta memperjuangkan perubahan yang lebih inklusif dan adil bagi semua orang. Media sosial memberikan kesempatan bagi kaum feminis untuk mengekspresikan pandangan mereka secara luas dan menjangkau audiens yang besar. Mereka dapat menggunakan berbagai media, seperti teks, gambar, dan video, untuk mengirimkan pesan mereka dengan cara yang kreatif dan menarik.
Dalam beberapa kasus, aktivis feminis ini berhasil menciptakan komunitas online yang nyata, seperti protes, penggalangan dana, dan membuat petisi. Trend paling populer adalah #MeToo yang menyebar di media sosial. Gerakan itu dimulai pada 2017 setelah kasus pelecehan seksual yang melibatkan produser ternama Hollywood.
Ribuan wanita dari berbagai belahan dunia berbagi pengalaman pelecehan seksual dan ancaman lainnya menggunakan tagar #MeToo. Gerakan #MeToo dapat dikategorikan sebagai revolusi dari kaum feminis untuk melawan segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan. Trend ini memanfaatkan media sosial untuk membela perempuan yang dinilai telah dilecehkan, baik itu berbentuk kekerasan seksual maupun perundungan.
Gerakan ini kemudian mendorong munculnya lebih banyak akun-akun dan gerakan baru di sosial media yang memiliki tujuan yang sama. Gerakan-gerakan yang muncul ini menunjukkan betapa kuatnya suara kolektif melalui media sosial dalam mengangkat isu gender dan mengadvokasi perubahan sosial yang lebih baik.
Gerakan-gerakan ini juga menyoroti tingkat dan dampak pelecehan seksual, dan mengubah cara masyarakat memandang korban. Melalui media sosial, perempuan dari berbagai latar belakang dan pengalaman dapat berbagi cerita, saling mendukung secara emosional, dan menyuarakan kebutuhan akan perubahan.
Gerakan ini juga mendorong masyarakat untuk mencela budaya yang membenarkan dan memaafkan pelecehan seksual, dan menekankan pentingnya menghormati batasan pribadi dan mendukung para korban.
Trend ini semakin popular dikalangan perempuan Indonesia, aktivitas melalui media sosial ini pun menarik banyak perhatian warga dunia maya sehingga memberikan dampak dan efek domino terhadap pola pikir dan kedudukan kaum perempuan. Dengan pengaruh yang cukup signifikan dan memberikan dampak positif kepada kaum perempuan, trend #MeToo kerap digunakan sebagai instrumen untuk menyuarakan kesetaraan gender.
Indonesia sendiri, kini baru viral sebuah tagar #YourStoryIsHeard dalam bentuk komunitas untuk menyuarakan kaum perempuan untuk pemenuhan hak dan perlindungan yang dimilikinya. Basis gerakan dari komunitas ini adalah melalui media sosial dengan cara memberikan edukasi kepada anak-anak muda dengan cara kreatif. Gerakan ini tentunya memiliki maksud dan tujuan seperti mengambil atensi dari warga dunia maya agar perempuan selalu mendapatkan perhatian dalam seluruh aspek kehidupan sosial maupun pada proses pembangunan.
Selain itu, aktivis feminisme di media sosial juga telah membantu mengubah persepsi masyarakat tentang peran gender dan menggempur stereotip yang melekat pada perempuan dan laki-laki. Mereka mempromosikan pemikiran bahwa semua orang, terlepas dari jenis kelamin mereka, memiliki hak yang sama untuk hidup, bekerja, dan berpartisipasi dalam pembangunan. Dengan menyebarkan informasi dan cerita inspiratif tentang perempuan yang sukses di berbagai bidang, aktivis feminisme berusaha membuktikan bahwa kesetaraan gender adalah sesuatu yang dapat dicapai.
Aktivis feminisme di media sosial juga terus mengadvokasi kebijakan publik yang lebih inklusif dan adil. Mereka memanfaatkan platform ini untuk membahas isu-isu seperti kesenjangan upah, akses pendidikan, kekerasan dalam rumah tangga, dan diskriminasi seksual. Dengan mengumpulkan bukti dan fakta yang relevan, serta memobilisasi dukungan melalui kampanye online, mereka berupaya untuk mempengaruhi pembuat kebijakan dan mendapatkan perubahan yang signifikan.
Dalam perubahan sosial dan pembangunan terdapat beberapa pengaruh dari gerakan feminis atau revolusi yang dilakukan oleh kaum feminisme melalui media sosial ini, antara lain :
Kesadaran dan pendidikan: Media sosial memberikan kesempatan kepada kaum feminis untuk menyebarkan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang isu-isu terkait gender, seperti kesetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan, intimidasi seksisme, dan diskriminasi. Dengan berbagi cerita, foto, video, dan meme, mereka dapat menciptakan kesadaran yang lebih besar dan mengubah pemahaman mengenai hal ini.
Organisasi dan aksi kolektif: Aktivis menggunakan platform ini untuk mengumpulkan dukungan, mengumpulkan massa, dan mengatur aksi kolektif seperti protes, kampanye online, dan petisi. Hal ini memungkinkan mereka menciptakan tekanan sosial pada perusahaan dan pemerintah untuk mempromosikan perubahan hukum untuk mendukung kesetaraan gender.
Ruang aman dan solidaritas: Media sosial memberikan ruang bagi para perempuan dan individu yang mendukung feminisme untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan menyediakan dukungan emosional satu sama lain. Ini penting karena seringkali perempuan menghadapi pelecehan, ancaman, dan penghinaan ketika mereka mengungkapkan pandangan feminis mereka di dunia nyata. Media sosial dapat menjadi tempat yang lebih aman untuk berbicara tentang isu-isu ini, membangun solidaritas, dan memperkuat pergerakan.
Pengaruh politik dan perubahan kebijakan: Gerakan feminis di media sosial telah berhasil mempengaruhi agenda politik dan merangsang perubahan kebijakan. Dengan menggunakan kampanye online yang kuat, aktivis feminis telah mampu menggerakkan perubahan dalam undang-undang, regulasi, dan kebijakan yang mendukung hak-hak perempuan. Mereka dapat mempengaruhi opini publik, memobilisasi pemilih, dan menekan pemerintah untuk mengambil tindakan yang lebih progresif dalam hal kesetaraan gender.
Aktivis feminisme di media sosial dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membangun kesadaran, memperjuangkan perubahan sosial, dan mengadvokasi kesetaraan gender dalam pembangunan. Melalui penggunaan platform-platform ini, mereka dapat memobilisasi dukungan, menyebarkan informasi, menciptakan solidaritas, dan mempengaruhi agenda politik. Meskipun tantangan dan hambatan masih ada, peran mereka dalam merangsang perubahan dan menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi perempuan tidak dapat diabaikan. (Dwi)
Tim : Adinda Noura Ayuningsih, Rizky Akbar Danuarta, Rana Patangga Arundaya, Aranung Hirabela Badjideh
Editor : Dwi Agus.