Cuaca Ekstrem Tekan Produksi, Pemerintah Guyur Pasokan Cabai ke Daerah Defisit

Rayhan Nafi Ulwan • Dipublikasikan Rabu, 4 November 2026 | 10:57 WIB
Aneka cabai dijajakan di sebuah pasar di Jakarta. (Dok: Istimewa)
Aneka cabai dijajakan di sebuah pasar di Jakarta. (Dok: Istimewa)

 

RADAR JOGJA - Lonjakan harga berbagai jenis cabai yang terjadi di sejumlah wilayah tanah air belakangan ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan fenomena kemarau panjang yang mengganggu tingkat produktivitas petani.

Kondisi penurunan hasil panen tersebut kian diperberat oleh jalur rantai pasok antardaerah yang belum merata, sehingga disparitas harga di tingkat konsumen terpantau cukup signifikan.

Kenaikan paling tajam tercatat pada komoditas cabai rawit merah yang sempat menembus angka rata-rata Rp124.400 per kilogram atau naik sebesar 23,72 persen, jauh melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang dipatok sebesar Rp 57.000 per kilogram.

Baca Juga: KKP Angkat Kearifan Lokal Maritim Jadi Fondasi Ekonomi Biru di APCONF6

Lonjakan serupa turut melanda cabai merah keriting yang merangkak naik sekitar 21,17 persen hingga menyentuh kisaran Rp 101.900 sampai Rp 105.600 per kilogram.

Cabai merah besar yang mencapai Rp 91.250 per kilogram, kendati harga cabai rawit hijau sempat terpantau turun tipis ke level Rp 52.500 per kilogram.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa dinamika pergerakan harga komoditas hortikultura tersebut bermula dari kendala iklim yang mempengaruhi masa tanam dan panen di sentra-sentra produksi.

“Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca,” kata Budi seusai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga: Kepolisian Spanyol Buka Penyelidikan atas Meninggalnya Jesus De Miguel dari Tenerife

Guna meredam fluktuasi harga di daerah yang mengalami defisit pasokan, otoritas perdagangan bersama instansi terkait bergerak cepat dengan mengoptimalkan mekanisme fasilitasi distribusi dari wilayah yang mengalami surplus hasil panen.

“Walaupun demikian kan tetap ada yang surplus, karena cabai ini diproduksi di daerah tertentu. Makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman,” ujarnya.

Sebagai bentuk intervensi konkret di lapangan, pemerintah telah merealisasikan pengiriman pasokan cabai sebanyak 7 ton dari sentra pertanian di Jawa Timur menuju Halmahera guna menambal kekosongan stok dan menekan lonjakan harga di kawasan timur Indonesia.

Baca Juga: AFC Konfirmasi Penundaan Piala Asia 2027 di Arab Saudi, Ini Alasannya

“Kemarin kita ngirim (cabai) ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bappanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah,” kata Budi.

Langkah mitigasi distribusi serupa juga disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas komoditas pangan pokok lainnya, termasuk telur ayam ras yang sempat mengalami kenaikan di wilayah tertentu akibat hambatan logistik meski secara neraca nasional masih dalam kondisi surplus.

"Apalagi telur ini sekarang kan harga rerata nasional itu Rp26.400 per kg. Harga acuan kan Rp30.000. Artinya, sementara ada daerah tertentu yang distribusinya agak susah itu naik. Sehingga kita akan kirim ke daerah-daerah yang harganya lebih tinggi sehingga harga menjadi stabil," pungkas Budi.

 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
menteri perdagangan budi santoso pasokan cabai produksi Cuaca Ekstrem defisit