Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau?

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 22:50 WIB
Tangkapan layar video TikTok Okezone yang menampilkan perubahan daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi pada awal September 2026. (TikTok)
Tangkapan layar video TikTok Okezone yang menampilkan perubahan daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau setelah aktivitas erupsi pada awal September 2026. (TikTok)

RADAR JOGJA – Bentang alam di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, kembali berubah setelah aktivitas erupsi pada awal September 2026. Hasil pemantauan citra satelit menunjukkan adanya penambahan daratan dengan luas mencapai 32,8 hektare di kawasan gunung api tersebut.

Temuan ini kemudian menarik perhatian karena sebelumnya beredar informasi mengenai kemunculan daratan baru sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Fenomena tersebut bahkan memunculkan dugaan di masyarakat mengenai kemungkinan lahirnya “cucu Krakatau”.

Namun, kemunculan daratan baru tidak otomatis berarti terbentuk gunung api baru. Berdasarkan analisis Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perubahan bentang alam tersebut berkaitan dengan material vulkanik yang keluar selama aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Evaluasi menggunakan citra satelit Sentinel memperlihatkan adanya penambahan daratan pada sektor barat laut hingga barat-barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau. Perubahan itu berkaitan dengan penumpukan material piroklastik serta aliran lava dari rangkaian erupsi yang berlangsung pada 4 hingga 6 September 2026.

Baca Juga: 630 Personel TNI-Polri Amankan Pilur Serentak Gunungkidul, 230 TPS Jadi Sasaran

Selain penambahan daratan pada tubuh utama gunung, citra satelit juga memperlihatkan dua bentukan seperti gumuk atau pulau kecil di sekitar kawasan Anak Krakatau. Keduanya berada di sisi barat laut dan tenggara dari tubuh gunung.

Badan Geologi masih menyebut keberadaan dua bentukan tersebut sebagai hasil interpretasi sementara. Artinya, bentuk yang terlihat dari citra satelit belum cukup untuk memastikan apakah kedua daratan itu memiliki karakter sebagai gunung api tersendiri.

Rangkaian erupsi yang berlangsung sekitar 25 jam diduga berperan dalam terbentuknya endapan tersebut. Material vulkanik yang keluar kemudian terakumulasi di sejumlah bagian kawasan hingga menyebabkan perubahan bentuk daratan.

Interpretasi awal juga menunjukkan adanya jalur bukaan yang memanjang dari arah barat laut menuju tenggara. Material dari aktivitas vulkanik tersebut kemudian dapat mencapai permukaan dan menumpuk di lokasi tertentu.

Meski demikian, proses tersebut masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Badan Geologi berencana membandingkan kondisi kawasan melalui citra satelit sebelum dan sesudah erupsi, kemudian melakukan verifikasi secara langsung di lapangan.

Baca Juga: Banyak Sarjana Menganggur, Zuly Qodir Sebut Dampak Ketidakseimbangan Lulusan dan Daya Serap Pasar

Karena itu, penyebutan daratan baru tersebut sebagai “cucu Krakatau” belum dapat dianggap sebagai fakta geologi. Kemunculan endapan vulkanik saja belum menjadi bukti bahwa telah terbentuk gunung api baru yang berdiri sendiri.

Masyarakat juga diminta tidak mendekati kawasan tersebut hanya karena penasaran dengan kemunculan daratan baru. Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada status Level II atau Waspada. Rekomendasi keselamatan menetapkan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Khusus untuk dua gumuk yang terdeteksi di sekitar gunung, masyarakat juga diminta menjaga jarak setidaknya 1 kilometer. Kondisi kedua bentukan tersebut masih menunggu pemeriksaan lapangan sehingga belum dapat dipastikan tingkat kestabilannya.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat terus mengubah bentang alam di sekitarnya. Daratan yang tampak seperti pulau baru memang menarik perhatian, tetapi penentuan apakah nantinya berkembang menjadi pusat aktivitas vulkanik baru tetap membutuhkan kajian geologi dan pemantauan lebih lanjut.

(Maria Margaretha Nirong Gedo) 

Sumber: Badan Geologi Kementerian ESDM, 24 September 2026.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Anak Krakatau Daratan tambah Penambahan Luas