RADAR JOGJA – Aktivitas Gunung Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali berdampak pada perjalanan udara masyarakat. Bandara Wunopito di Lewoleba ditutup sementara setelah sebaran abu vulkanik gunung api tersebut mengganggu wilayah operasional penerbangan.
Penutupan Bandara Wunopito berlaku mulai Kamis, 17 September 2026 pukul 07.23 WITA. Berdasarkan informasi terbaru AirNav Indonesia, operasional bandara diperkirakan baru dapat dibuka kembali pada Jumat, 18 September 2026 pukul 07.00 WITA.
Penutupan tersebut dilakukan karena adanya abu vulkanik Gunung Lewotolok di ruang udara sekitar wilayah penerbangan. Kondisi seperti ini menjadi perhatian dalam penerbangan karena dapat mengganggu keselamatan pesawat.
Bagi masyarakat yang sudah memiliki jadwal penerbangan dari atau menuju Lewoleba, kondisi tersebut tentu membuat rencana perjalanan harus kembali disesuaikan. Penumpang perlu menunggu informasi terbaru mengenai operasional bandara sebelum berangkat.
Baca Juga: Bongkar Kasus 2018–2019, Kejari Purworejo Sita Dokumen Penting dari Kantor Perumda Aneka Usaha
AirNav Indonesia terus memantau perkembangan kondisi ruang udara di sekitar Gunung Lewotolok. Informasi mengenai operasional penerbangan juga akan diperbarui sesuai dengan perkembangan aktivitas gunung dan kondisi abu vulkanik.
Penutupan bandara akibat aktivitas gunung api bukan pertama kali terjadi di wilayah tersebut. Sebelumnya, Bandara Wunopito juga sempat mengalami penutupan karena sebaran abu vulkanik Gunung Lewotolok. AirNav melakukan pembaruan informasi penerbangan mengikuti kondisi di lapangan dan hasil pemantauan keselamatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak hingga ke sektor transportasi. Bukan hanya masyarakat yang tinggal di sekitar gunung yang perlu memperhatikan perkembangannya, tetapi juga warga yang sedang melakukan perjalanan melalui jalur udara.
Bagi penumpang, informasi mengenai status penerbangan menjadi hal penting sebelum menuju bandara. Jadwal yang sudah direncanakan dapat berubah ketika kondisi ruang udara dinilai belum aman untuk penerbangan.
Baca Juga: Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Sudah Petakan Kekuatan Dewa United
Sementara itu, masyarakat di sekitar Lembata juga perlu tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Lewotolok. Informasi terbaru mengenai aktivitas gunung dan kondisi penerbangan dapat berubah sesuai hasil pemantauan.
Untuk sementara, Bandara Wunopito masih menunggu perkembangan kondisi abu vulkanik sebelum kembali melayani penerbangan. Pembukaan kembali bandara akan mengikuti informasi keselamatan penerbangan dan kondisi ruang udara di wilayah tersebut.
Aktivitas Gunung Lewotolok akhirnya tidak hanya menjadi persoalan vulkanik. Dampaknya juga bisa dirasakan dalam aktivitas sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan transportasi udara untuk bepergian dari maupun menuju Lembata.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber