Batik IKN Tak Cukup Jadi Ciri Khas, Perajin Didorong Bisa Tembus Pasar Lebih Luas

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 13:43 WIB
Perajin mengembangkan motif batik dan wastra khas Nusantara dalam kegiatan pendampingan pengembangan produk batik IKN. Sumber:Humas Otorita IKN
Perajin mengembangkan motif batik dan wastra khas Nusantara dalam kegiatan pendampingan pengembangan produk batik IKN. Sumber:Humas Otorita IKN 

 RADAR JOGJA – Batik dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai diarahkan tidak hanya menjadi produk yang memiliki ciri khas daerah. Di balik pengembangan motif yang membawa cerita tentang Nusantara, para perajin juga didorong agar mampu menghasilkan produk yang punya nilai jual dan dapat diterima pasar yang lebih luas.

Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan bagi perajin batik dan wastra di sekitar IKN. Otorita IKN bersama Bank Indonesia memberikan pelatihan yang berlangsung pada 15–17 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan perajin, mulai dari pengembangan produk hingga melihat peluang pasar.

Selama ini, pengembangan batik IKN memang tidak berhenti pada persoalan motif. Produk yang dihasilkan juga perlu memiliki kualitas dan tampilan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dengan begitu, batik yang membawa identitas Nusantara tidak hanya menarik untuk dilihat, tetapi juga mempunyai peluang untuk menjadi produk yang benar-benar dibeli dan digunakan masyarakat.

Otorita IKN menilai perajin perlu membangun kekuatan usaha secara lebih menyeluruh. Keterampilan membuat batik menjadi salah satu modal, tetapi masih perlu dilengkapi dengan kemampuan mengembangkan produk, bekerja sama, serta melihat kebutuhan pasar.

Baca Juga: Siswa Angat Bicara di Medsos, Dugaan Pelecehan Seksual SMA Negeri 1 Sentolo Kulon Progo Terbongkar

Hal tersebut menjadi penting karena batik IKN nantinya diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat yang berada di sekitar kawasan Nusantara. Produk tersebut juga diarahkan agar bisa menjangkau pasar nasional hingga membuka peluang ke pasar global.

Bank Indonesia turut mendorong peningkatan daya saing para perajin. Pendampingan dilakukan agar pelaku usaha tidak hanya fokus pada proses produksi, tetapi mulai memahami bagaimana produk dapat dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.

Salah satu bagian yang menarik adalah pengembangan motif yang membawa identitas IKN dan cerita Nusantara. Sebelumnya, Otorita IKN dan Bank Indonesia juga telah menggelar workshop pengembangan motif bagi kelompok perajin batik dan wastra. Pendampingan tersebut menjadi langkah awal untuk mengolah kekayaan budaya di kawasan sekitar IKN menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi.

Bagi perajin, tantangannya kemudian bukan hanya membuat batik dengan motif yang berbeda. Mereka juga perlu memikirkan bagaimana motif tersebut diterjemahkan menjadi produk yang sesuai dengan selera masyarakat saat ini.

Hal ini membuat batik IKN berada di antara dua kebutuhan. Di satu sisi, identitas budaya tetap harus dipertahankan. Di sisi lain, produk harus bisa mengikuti perkembangan pasar agar tidak hanya berhenti sebagai karya yang dipajang atau menjadi cendera mata.

Baca Juga: Kemarau Panjang Landa Kokap Kulon Progo, PLN Gerak Cepat Salurkan Air Bersih

Jika pengembangan tersebut berjalan konsisten, batik IKN berpeluang menjadi salah satu bagian dari ekosistem ekonomi kreatif di kawasan Nusantara. Produk budaya pun bisa memiliki fungsi yang lebih luas, bukan hanya sebagai simbol identitas, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi para perajin lokal.

Dengan demikian, perjalanan batik IKN masih cukup panjang. Motif khas menjadi langkah awal, sedangkan kualitas produk, kreativitas, pemasaran, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen menjadi bagian yang menentukan agar batik tersebut benar-benar bisa dikenal dan digunakan lebih banyak orang.

(Maria Margaretha Nirong Gedo) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Batik IKN Nusantara Perajin kalimantan Batik