JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik berdampak pada meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap masker. Lonjakan permintaan tersebut mulai berpengaruh terhadap ketersediaan hingga harga masker di sejumlah wilayah.
Imbauan penggunaan pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar ruangan turut mendorong masyarakat memburu masker, terutama setelah abu vulkanik dilaporkan mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan sekitarnya.
Peningkatan permintaan salah satunya terlihat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Pedagang melaporkan penjualan masker mengalami kenaikan. Bahkan, ratusan boks masker disebut telah terjual dalam waktu relatif singkat.
Masker jenis respirator, seperti KN95, menjadi salah satu produk yang banyak dicari masyarakat. Di sejumlah platform perdagangan daring, harga masker KN95 juga menunjukkan variasi yang cukup lebar.
Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, Ini Kesaksian Penumpang yang Selamat
Kenaikan harga di tengah lonjakan permintaan tidak serta-merta dapat diartikan sebagai praktik permainan harga. Namun, situasi darurat tetap perlu diantisipasi karena dapat memicu pembelian secara berlebihan atau panic buying. Jika tidak terkendali, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan stok masker cepat menipis di tingkat ritel.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) sebelumnya menerima pengaduan terkait fenomena panic buying masker setelah erupsi Anak Krakatau. Pemerintah dinilai perlu memperkuat pengawasan terhadap distribusi masker, mulai dari gudang hingga pedagang di tingkat konsumen.
Langkah tersebut penting untuk memastikan pasokan tetap tersedia sekaligus mencegah terjadinya kelangkaan akibat distribusi yang tidak merata.
Di sisi lain, kapasitas produksi masker dalam negeri sebenarnya masih cukup besar. Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) memperkirakan kapasitas terpasang industri masker nasional mencapai sekitar 200 juta hingga 250 juta lembar per bulan.
Namun, tingkat utilisasi produksi saat ini masih berada di kisaran 8–10 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri dalam negeri masih memiliki ruang untuk meningkatkan produksi apabila kebutuhan pasar mengalami lonjakan.
Dengan demikian, kenaikan harga maupun kekosongan stok di sejumlah toko lebih mungkin berkaitan dengan lonjakan permintaan yang terjadi secara mendadak serta persoalan distribusi di tingkat ritel.
Masyarakat pun diimbau membeli masker sesuai kebutuhan dan tidak melakukan penimbunan. Pembelian secara wajar dapat membantu menjaga ketersediaan produk sehingga masyarakat lain yang membutuhkan tetap dapat memperolehnya.
Pemerintah juga melakukan koordinasi dengan distributor untuk memastikan distribusi masker tetap berjalan. Kementerian Kesehatan menyebut koordinasi tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan menyusul munculnya informasi mengenai kenaikan harga masker setelah erupsi Anak Krakatau.
Baca Juga: Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpusnas Tegaskan Buku Tetap Relevan di Era Digital
Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak bencana alam tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan. Gangguan atau perubahan kebutuhan yang terjadi secara tiba-tiba juga dapat merembet ke sektor ekonomi.
Ketika permintaan terhadap barang tertentu meningkat drastis, ketersediaan stok, kelancaran distribusi, dan stabilitas harga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.