Hari Kunjung Perpustakaan 2026, Perpusnas Tegaskan Buku Tetap Relevan di Era Digital

Safinatun Najah • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 16:14 WIB
Sumber: Pinterest
Sumber: Pinterest

JAKARTA – Kemajuan teknologi digital telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari dan mendapatkan informasi. Di tengah kemudahan mengakses internet, media sosial hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), buku dan perpustakaan dinilai tetap memiliki peran penting sebagai sumber pengetahuan.

Hal tersebut menjadi salah satu pesan yang disampaikan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) dalam memperingati Hari Kunjung Perpustakaan yang jatuh pada 14 September 2026.

Tahun ini, Perpusnas mengusung tema “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.” Tema tersebut menyoroti peran buku dalam menjaga pengetahuan, pengalaman, serta memori kolektif masyarakat di tengah derasnya informasi digital.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengatakan Hari Kunjung Perpustakaan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengajak masyarakat mendatangi gedung perpustakaan.

Baca Juga: Wajah Baru Lalawuh Sunda Jogja dari Kolam Biasa ke Lautan Hortensia

Menurutnya, peringatan tersebut juga menjadi ruang bagi pustakawan dan para pegiat literasi untuk melihat kembali kondisi serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam memperoleh dan memahami informasi.

Perpustakaan, lanjutnya, tidak lagi cukup hanya berperan sebagai tempat menyimpan maupun meminjam koleksi buku. Perpustakaan perlu berkembang menjadi ruang literasi yang aktif, terbuka, relevan, serta mampu mengikuti kebutuhan masyarakat.

Perubahan teknologi membuat informasi dapat diperoleh dengan sangat cepat. Hanya dengan menggunakan telepon pintar, masyarakat bisa mencari berbagai informasi melalui mesin pencari, media sosial, hingga platform berbasis AI.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan baru. Melimpahnya informasi tidak selalu diikuti dengan kualitas informasi yang dapat dipercaya. Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah, memeriksa, serta memahami informasi sebelum menjadikannya sebagai rujukan.

Dalam situasi tersebut, buku dinilai masih mempunyai keunggulan tersendiri. Berbeda dengan informasi yang kerap disajikan secara singkat di ruang digital, buku memungkinkan sebuah topik dibahas secara lebih mendalam sehingga pembaca dapat memahami suatu persoalan secara lebih utuh.

Penulis novel Rahasia Salinem, Wisnu Suryaning Adji, dalam Gelar Wicara Hari Kunjung Perpustakaan 2026 menyebut sifat komprehensif sebagai salah satu kelebihan buku.

Menurutnya, buku memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami sebuah fenomena secara lebih menyeluruh dengan tempo yang sesuai kemampuan masing-masing.

Di sisi lain, Perpusnas juga terus mendorong transformasi layanan perpustakaan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Modernisasi layanan perpustakaan sekolah antara lain dilakukan melalui penerapan sistem otomasi, katalog daring, hingga penggunaan kode batang untuk mempermudah proses peminjaman buku.

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi dan buku tidak harus dipertentangkan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat akses terhadap koleksi perpustakaan menjadi lebih mudah, sementara buku tetap menjadi salah satu medium penting untuk memperdalam pengetahuan.

Baca Juga: Cahaya Misterius dan Dentuman Gegerkan Gorontalo, Diduga Meteor Sepanjang 10 Meter

Di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh informasi, buku dan perpustakaan diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi. Bukan hanya menyimpan pengetahuan dari masa lalu, tetapi juga membantu masyarakat memahami berbagai persoalan secara lebih mendalam dan kritis.

Momentum Hari Kunjung Perpustakaan 2026 pun menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca, memahami, dan menyaring pengetahuan tetap dibutuhkan.

Editor : Bahana.
Hari Kunjung Perpustakaan 2026 Perpusnas buku perpustakaan literasi digital