Gunung Anak Krakatau Erupsi Lava Pijar Merah, Dentuman Resahkan Warga Sekitar

Perawati • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 10:35 WIB
CCTV Gunung Anak Krakatau (Dok.  MAGMA Indonesia)
CCTV Gunung Anak Krakatau (Dok. MAGMA Indonesia)

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda melonjak drastis. Gunung api setinggi 157 mdpl di wilayah Kabupaten Lampung Selatan tersebut dilaporkan mengalami erupsi secara terus-menerus sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui sistem MAGMA Indonesia Kementerian ESDM mengonfirmasi bahwa erupsi beruntun ini merupakan fenomena lava fountain atau air mancur lava pijar.

Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, luapan lava pijar berwarna merah menyala terlihat jelas menyembur dari kawah gunung sekitar pukul 00.21 WIB. Di tengah gulungan ombak Selat Sunda yang cukup kencang, sebuah kapal yang membawa rombongan pemancing tampak terombang-ambing dan bergegas menjauhi area gejolak vulkanik tersebut.

Pengamatan visual mencatat, semburan lava pijar merah disertai gumpalan asap kawah berwarna kelabu hingga hitam pekat membumbung setinggi 400 meter ke udara.

Baca Juga: Dosen UNY Sebut, Olahraga Ultra Cycling  Latih Ketahanan Mental, Disiplin dan Manajemen Stres

Gemuruh dan dentuman keras dari letupan air mancur lava ini terdengar meluas hingga ke berbagai daerah. Selain terpantau dari Pos GAK Pasauran, suara dentuman dilaporkan terdengar oleh warga di Kalianda, Cikande, Serang, hingga kawasan Cisarua dan Bandung.

Kencangnya suara gemuruh tersebut juga memicu beragam respons warganet di media sosial. Salah seorang pengguna akun @llvrn3 mengeluhkan suara dentuman erupsi yang masih terdengar nyaring dari kediamannya pada Sabtu (5/9) pagi. "Suaranya sampai sekarang masih kedengaran, sampai rumahku di Banten," tulisnya dalam kolom komentar unggahan video erupsi tersebut.

Dampak erupsi turut memicu sebaran abu vulkanik yang bergerak ke arah barat laut menuju Kabupaten Tanggamus. Warga di sepanjang pesisir Tanggamus, khususnya wilayah Kota Agung, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi paparan hujan abu tipis.

Dari sisi kegempaan, Magma Indonesia mencatat satu kali gempa letusan beramplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi continuous tremor yang cukup panjang, mencapai 21.600 detik atau sekitar 6 jam.

Guna mengantisipasi bahaya yang kian meningkat, Magma Indonesia mengeluarkan rekomendasi tegas. Masyarakat, nelayan, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau serta dianjurkan mengosongkan seluruh aktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.

Editor : Bahana.
Anak Krakatau gunung krakatau anak krakatau meletus Selat Sunda