Beda 30 Poin dalam Sepekan: Kenapa Survei SMRC dan IDM soal Prabowo Bisa Jomplang?

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:21 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto. (Tangkapan Youtube Sekretariat Negara)
Presiden RI Prabowo Subianto. (Tangkapan Youtube Sekretariat Negara)

 


RADAR JOGJA - Publik sempat dibuat bingung oleh dua survei kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto yang muncul hampir bersamaan, tapi hasilnya jauh berbeda.

Pada Minggu (26/7/2026), lembaga riset independen Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis angka kepuasan hanya 51,1 persen, anjlok dari 81,2 persen di November 2025.

Belum sepekan berselang, Kamis (30/7/2026), Indonesia Development Monitoring (IDM) merilis angka yang nyaris berkebalikan yaitu 81,5 persen kepuasan.

Dua survei ini sama-sama mengambil data di lapangan pada waktu yang nyaris sama, SMRC 5-19 Juli, IDM 11-20 Juli. 

Baca Juga: Shayne Pattynama Akui Timor Leste Beri Perlawanan Sengit, Timnas Indonesia Diminta Tak Cepat Puas

Metodenya memang berbeda, tapi apakah sejauh itu perbedaannya?

SMRC mewawancarai 749 orang, sebagian lewat telepon.

IDM mewawancarai 1.640 orang, semuanya tatap muka langsung.

Secara teori, wawancara tatap muka memang cenderung menghasilkan jawaban lebih "manis" karena orang segan menjawab negatif di depan pewawancara.

Tapi biasanya efeknya tidak sampai membuat selisih besar, 30 poin.

Baca Juga: Resmi! PSS Sleman Rekrut Moussa Bagayoko, Ini Profil dan Rekam Jejaknya

Jika melihat bagian lain dari kedua survei, soal penilaian kondisi ekonomi misalnya.

SMRC mencatat hanya 15,7 persen yang bilang ekonomi baik, 49,4 persen bilang buruk.

IDM mencatat cuma 10,1 persen bilang baik, 27,2 persen bilang buruk, sisanya memilih jawaban netral atau biasa saja.

Dua-duanya sama-sama menunjukkan publik tidak terlalu puas soal ekonomi.

Terlihat di titik inilah kedua survei relatif sepakat, hanya punya selisih minim.

Baca Juga: Mantan Kapolda DIY Suwondo Nainggolan Kenang Nasirun, Sebut Jadi Jembatan Polri Memahami Masyarakat Jogja


Kesenjangan semacam ini membuka pertanyaan penting: kalau persepsi ekonomi riil tidak jauh berbeda antara dua survei, kenapa kesimpulan akhir soal "puas atau tidak puas" pada kinerja presiden bisa berselisih sedemikian jauh?

Salah satu kemungkinannya terletak pada bagaimana pertanyaan kepuasan itu sendiri dirumuskan dan diposisikan dalam kuesioner, sesuatu yang tidak bisa dipastikan tanpa membaca kuesioner lengkap kedua lembaga.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani sendiri mengingatkan bahwa dengan margin of error 3,7 persen pada surveinya, publik tidak bisa serta-merta menyimpulkan angka kepuasan atau ketidakpuasan sebagai fakta mutlak.

Baca Juga: Perdana Menteri Inggris Andy Burnham Serukan Pengunduran Diri Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA


Bukan soal survei mana yang benar.

Angka kepuasan ternyata bisa jauh lebih fleksibel dan kompleks di saat bersamaan. 

Dibanding data-data pendukung di baliknya seperti soal ekonomi.

Sehingga ia menekankan agar tidak mudah menyimpulkan survei politik, hanya dengan melihat angka headline-nya. 




Editor : Meitika Candra Lantiva
Survei SMRC dan IDM survei kepuasan terhadap kinerja Presiden Direktur Eksekutif SMRC Prabowo Subianto prabowo