RADAR JOGJA - Belakangan ini fenomena embun membeku kembali terjadi di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Bahkan sepekan lalu suhu udara tembus di angka minus enam derajat celcius.
Suhu ekstrem ini menyebabkan seluruh tanaman pertanian membeku, tertutup lapisan es.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena embun beku atau embun upas di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, berpotensi terjadi lebih sering selama musim kemarau tahun 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi musim kemarau yang diprediksi lebih kering dibandingkan dua tahun terakhir.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto, menjelaskan bahwa suhu nol derajat Celsius hingga minus yang kerap dikaitkan dengan embun upas bukan merupakan suhu udara, melainkan suhu minimum pada permukaan rumput yang diukur menggunakan alat khusus.
“Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput,” kata Guruh.
Ia menerangkan peluang kemunculan embun upas akan semakin besar apabila karakter musim kemarau berada di bawah kondisi normal atau lebih kering.
Menurut prakiraan BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus dan kondisi kering masih berlanjut hingga September, sehingga potensi terbentuknya embun beku semakin meningkat.
Selain lebih kering, musim kemarau tahun ini juga diprediksi memiliki suhu yang lebih dingin dibandingkan 2024 maupun 2025.
Karakteristik cuacanya disebut hampir menyerupai musim kemarau 2023 yang juga ditandai dengan kemunculan embun upas di kawasan Dieng.
“Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September ‘mbediding’ (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa,” ujar Guruh.
BMKG mengimbau wisatawan yang ingin menyaksikan fenomena tersebut agar mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian berlapis, mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal yang tahan angin.
Pengunjung juga dianjurkan menggunakan kupluk, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, serta sepatu yang nyaman untuk menghadapi suhu dingin di kawasan pegunungan.
Baca Juga: Siap Tepati Janji, Marc Cucurella akan Tato Wajah Pelatih Spanyol Luis De La Fuente di Tubuhnya
Bagi wisatawan yang memiliki riwayat asma, sinusitis, maupun alergi terhadap udara dingin, BMKG menyarankan membawa obat-obatan pribadi atau inhaler.
Selain itu, kondisi udara yang cenderung kering selama musim kemarau membuat pelembap kulit dan bibir menjadi perlengkapan yang disarankan untuk dibawa selama berada di Dieng.
Guruh menambahkan, embun upas umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan paling mudah diamati sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 WIB di area lapangan Kompleks Candi Arjuna, sebelum mencair saat matahari mulai meninggi.
Editor : Meitika Candra Lantiva