RADAR JOGJA - Setiap tanggal 3 Juli, Indonesia beramai-ramai menggaungkan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia.
Namun faktanya, kantong plastik sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Kantong plastik salah satu kebutuhan utama sehari-hari saat berbelanja.
Meski anjuran menggunakan kantong kain atau kantong plastik yang bisa dipakai berulang kali, namun belum banyak yang sadar terhadap hal ini.
Terutama untuk bungkus makanan, maupun sekadar packaging barang.
Kantong plastik sudah menjadi kebutuhan yang membumi.
Tapi penggunaan kantong plastik yang terus menerus, mulai berdampak pada lingkungan sekitar.
Seperti yang kita lihat, masyarakat mulai kesulitan membuang sampah.
Di tempat pengelolaan sampah, sering kali overload.
Sampah organik dan anorganik bercampur menjadi satu.
Sehingga menyulitkan dalam pengelolaan.
Sampah anorganik termasuk kantong plastik yang semestinya bisa didaur ulang menjadi sulit dikelola dan akhirnya menumpuk mencemari lingkungan bersama timbunan sampah organik.
Baca Juga: Kisah Anne Boleyn: Dari Ratu Inggris hingga Dipenggal di Tower of London
Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah juga masih kurang.
Ditambah, kebijakan pemerintah terkait sampah, pengelolaan sampah juga belum maksimal.
Pada peringatan Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia, menjadi warning untuk menumbuhkan kesadaran dalam mengelola sampah.
Paling sederhana yang bisa dilakukan dengan memilah sampah.
Selain Hari Bebas Kantong Plastik Sedunia, tanggal ini bertepatan juga dengan hari lahirnya kampanye Zero Waste Europe yang terbentuk sejak 2008 lalu dan diperkuat regulasi Uni Eropa pada 2015.
Baca Juga: Aston Villa Ajukan Banding ke CAS Agar FIFA Cabut Larangan Pendaftaran Brian Majo
Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik Belum Optimal
Berdasarkan survei jejak pendapat (Jakpa) pada Mei 2026 dengan 1.373 responden, menunjukkan gap yang layak dipertanyakan: mengapa kampanye pengurangan plastik selama ini fokus di minimarket dan supermarket, padahal keduanya hanya menyumbang 20–26% pemakaian?
Berbeda dengan urutan teratas penggunaan kantong plastik sampah rumah tangga (71%) yang nyaris tidak tersentuh kebijakan apapun.
Alasannya mendasarnya adalah belum ada pengganti kantong plastik yang lebih murah dan praktis dalam hal fungsional.
Plastik sendiri juga menjadi penyumbang terbesar kedua dengan porsi 20,49% dari jumlah sampah nasional tahun 2025 yang berjumlah 25,14 juta ton.
Sebagai tindak lanjut, selain meneruskan kampanye pengurangan kantong plastik di minimarket dan supermarket, harus digaungkan pula solusi pengganti kantong plastik.
Apakah mengganti plastik dengan bioplastik, memanfaatkan bahan dari alam seperti daun pisang dan kulit jagung, atau sekadar memakai ulang goodie bag yang tersedia di rumah.
Editor : Meitika Candra Lantiva