Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan di Bulan Ramadan 2026, Apa Alasan di Baliknya?

Magang Radar Jogja • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:42 WIB
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis (MBG).

RADAR JOGJA - Rencana pemerintah untuk tetap menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 2026 memunculkan beragam tanggapan di masyarakat.

Ada yang menilai kebijakan ini kurang tepat karena jam belajar di sekolah lebih singkat selama bulan puasa.

Sebagian lainnya menganggap program tersebut tidak lagi relevan ketika anak-anak tidak makan di siang hari.

Namun dari sisi kesehatan, MBG dianggap penting untuk menjaga kebutuhan gizi anak tetap berjalan sepanjang tahun, termasuk saat berpuasa.

Manfaat Kesehatan di Bulan Puasa

Dalam perspektif kesehatan, berpuasa tidak berarti tubuh berhenti membutuhkan asupan gizi.

Anak-anak tetap memerlukan energi, protein, vitamin, mineral, dan cairan agar fungsi tubuh dan kemampuan berpikir tetap berjalan dengan baik.

Selama Ramadan, risiko kelelahan, kurang cairan, dan penurunan konsentrasi justru bisa meningkat apabila pola makan tidak diatur dengan tepat.

Dokter medis sekaligus edukator kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Muhammad Fajri Adda’i, menilai bahwa keberlanjutan MBG selama Ramadan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar pembagian makanan.

Menurutnya, program ini dapat membantu memastikan anak tetap memperoleh asupan nutrisi yang seimbang selama menjalani puasa.

“Penting untuk menjaga stabilitas energi, konsentrasi belajar, daya tahan, dan sistem tubuh kita berjalan dengan baik. Jadi kita butuh nutrisi yang penting untuk menjaga kemampuan berpikir, kemampuan fisik beraktivitas supaya tidak lemas, tidak gampang terkena gula darah rendah, serta tidak kekurangan cairan di sekolah, juga mendukung aktivitas sehari-hari selama sepanjang bulan puasa,” kata dr Fajri, dikutip dari neraca.co.id.

Lebih lanjut, dr Fajri sarankan MBG lebih tepat diberikan saat sahur dibandingkan berbuka.

Asupan makanan bergizi di pagi hari dapat membantu anak bertahan sepanjang hari saat berpuasa.

Selain itu, peran guru dinilai penting dalam memberikan edukasi sederhana, seperti mengingatkan anak agar tidak berlebihan mengonsumsi gorengan dan makanan manis saat berbuka.

Tujuannya agar anak tetap sehat, fokus belajar, dan memiliki kebiasaan makan yang lebih baik selama Ramadan.

BGN Pastikan MBG Berlanjut dengan Fokus Kelompok Rentan

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa arah kebijakan MBG pada 2026 semakin difokuskan pada kelompok paling rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.

Kelompok ini berada dalam fase 1.000 hari pertama kehidupan, masa yang sangat menentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa upaya pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan.

Oleh karena itu, MBG tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga ibu dan anak balita sebagai prioritas utama.

“Di 2026 ini kita akan utamakan di 1.000 hari pertama kehidupan. Oleh sebab itu di hari libur, di Ramadan, program kita akan tetap jalan karena target utama kita adalah ibu hamil, menyusui dan anak balita karena golden time period-nya pendek sekali. Di situlah stunting dicegah kemudian otak berkembang,” terang Dadan, dikutip dari Antara.

Dengan fokus tersebut, program MBG akan tetap berjalan meskipun memasuki bulan Ramadan atau saat sekolah libur.

Pemerintah ingin memastikan tidak ada ibu hamil dan balita yang terlewat dari pemenuhan gizi, mengingat periode ini sangat singkat dan tidak bisa diulang.

Dorong Aktivitas Ekonomi Lokal

Selain aspek kesehatan, pelaksanaan MBG juga berdampak pada aktivitas ekonomi di daerah.

Pada 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 335 triliun untuk program ini.

Anggaran tersebut tidak hanya digunakan untuk pemenuhan gizi, tetapi juga berpengaruh pada pergerakan ekonomi lokal.

Pelaksanaan MBG membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari.

Hal ini membuka peluang bagi petani, peternak, nelayan, pedagang, serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk terlibat dalam rantai pasok.

Di sejumlah daerah, dapur-dapur MBG dilaporkan menambah tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan produksi dan distribusi makanan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya berdampak pada penerima manfaat, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja di tingkat lokal.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan tetap menjadi bagian dari kebijakan pemenuhan gizi yang berjalan secara nasional.

Seiring pelaksanaannya, program ini memunculkan berbagai pandangan terkait kebutuhan kesehatan masyarakat, pelaksanaan di lapangan, serta dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan.

Ke depan, evaluasi dan penyesuaian pelaksanaan menjadi hal penting agar tujuan pemenuhan gizi dapat tercapai tanpa mengabaikan kondisi dan dinamika yang ada di masyarakat. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#berpuasa #Ramadan 2026 #Makan Bergizi Gratis #Gizi anak #Kebijakan