RADAR JOGJA - Kasus hilangnya tumbler merek Tuku milik penumpang Commuter Line (KRL), Anita, terus menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Namun, yang membuat publik geram bukan soal harga barang tersebut, melainkan nasib seorang pekerja, Argi Budiansyah, yang disebut-sebut terancam kehilangan pekerjaan karena postingan viral soal hilangnya tumbler itu.
Dalam percakapan WhatsApp yang beredar, Argi yang bekerja sebagai petugas pelayanan di PT KAI Commuter mengaku posisinya kini berada di ujung tanduk setelah unggahan Anita memicu perhatian luas warganet
"Sekarang pekerjaan saya di ujung tanduk (diberhentikan) karena bapak/istri bapak posting di salah satu media sosial. Demi Allah pak, bukan saya yang ambil tumbler tersebut," tulis Argi kepada Alvin, suami Anita.
Meski menegaskan bahwa ia bukan pelaku pencurian, Argi bahkan sempat menawarkan diri mengganti tumbler secara pribadi dengan membelinya lewat marketplace. Namun, tawaran tersebut tak ditanggapi.
Tumbler yang dipersoalkan diketahui merupakan Tumbler Stainless Handle 350 ml dari brand kopi Tuku.
Di gerai resmi, harga produk ini dipasarkan sekitar Rp225 ribu, sementara di marketplace harganya bisa mencapai Rp310 ribu.
Jika dinilai dari angka semata, harga tersebut mungkin bukan hal besar bagi sebagian orang.
Namun, dibandingkan dengan risiko hilangnya pekerjaan seorang pekerja yang hidup dari gaji bulanan, nilai itu terasa tak sebanding.
Barang seharga beberapa ratus ribu berpotensi menjadi alasan hilangnya mata pencaharian seseorang yang menjadi tumpuan keluarga, sebuah kontras yang memunculkan diskusi hangat di ruang publik.
Di tengah ramainya komentar mengenai tumbler, banyak netizen justru menyoroti ketimpangan antara nilai material barang dan harga sebuah pekerjaan.
Bagi banyak orang, kasus ini bukan lagi bicara kehilangan barang pribadi, tapi soal keadilan, empati, serta martabat pekerja lapangan yang kerap menjadi pihak paling rentan ketika isu viral meledak di media sosial.
'"Gara-gara tumbler sampai menghilangkan mata pencaharian dan pekerjaan orang lagi, dia gak tau dampak dari dipecatnya seseorang yang punya keluarga." tulis salah salah satu warganet pada Instagram Radar Jogja yang menampilkan video klarifikasi Anita dan suami.
Kini, publik menunggu sikap resmi dari pihak KAI Commuter mengenai status Argi, sementara kasus ini menjadi pengingat keras tentang bagaimana media sosial bisa menyelamatkan atau sebaliknya menghancurkan kehidupan seseorang dalam hitungan jam.
Kasus ini menyentil realitas zaman digital, reputasi dan masa depan seseorang bisa ditentukan oleh satu unggahan. Harga tumbler yang hanya Rp225 ribu sangat tidak sepadan dibandingkan harga dari sebuah pekerjaan dan martabat manusia.
Muhtar Dinata