Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar Pengolahan Cokelat di Gunungkidul, Lima Anggota TNI dari Poso Ikut Program Transmigrasi 

Rizky Wahyu Arya Hutama • Minggu, 2 November 2025 | 03:05 WIB
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mulyadi saat memberikan pembekalan kepada para calon transmigran di BBPPM Jogjakarta, Sabtu (1/11).
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mulyadi saat memberikan pembekalan kepada para calon transmigran di BBPPM Jogjakarta, Sabtu (1/11).

SLEMAN - Sebanyak lima anggota TNI yang masih aktif ikut ambil bagian sebagai peserta calon transmigran angkatan IV dan V tahun 2025 di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (BBPPM) Jogjakarta.

Keterlibatan ini menandai adanya dimensi baru dalam program yang kini berorientasi sebagai strategi pembangunan nasional dan menjaga keutuhan NKRI.

 

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mulyadi menjelaskan, lima anggota TNI yang berasal dari Angkatan Darat (AD) aktif, termasuk anggota Danramil dari Poso, Sulawesi Tengah.

Mereka membersamai 70 calon transmigrasi lain untuk bertransformasi menjadi warga transmigran yang disiapkan untuk memberdayakan lahan di kawasan baru.

 

"Ini sangat spesial dan kami apresiasi. Jadi, program ini telah menerima warga dari militer, dan nanti dari Kepolisian juga akan ada," katanya saat mengunjungi acara pelatihan calon transmigrasi angkatan IV dan V tahun 2025 di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Jogjakarta, Sabtu (1/11) sore.

 

Viva menjelaskan sinergi antara program transmigrasi dan institusi militer ini bukanlah hal yang baru. Akan tetapi hal itu merupakan pengembangan dari program khusus yang pernah ada di masa lalu. 

Menurut Viva keterlibatan TNI aktif bisa ini membawa peran ganda yang strategis. Selain bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan pribadi melalui pengolahan lahan kosong. Ini jyga sama seperti transmigran lainnya, mereka juga mengemban tugas krusial dalam menjaga keutuhan bangsa.

 

"Mereka akan diberikan lahan satu hingga dua hektar dan jaminan hidup selama satu hingga 1,5 tahun, serta pembinaan selama lima tahun hingga lahan HPL mereka berubah menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM)," lontarnya. 

 

Meski begitu, Viva mengatakan, jika di lokasi penempatan nanti. Para transmigran itu nanti diminta untuk memelihara kebersamaan, soliditas, dan rasa hormat antara warga transmigran dan masyarakat lokal.

Tak hanya itu, secara khusus, mereka juga ditugaskan untuk dapat menjaga wilayah NKRI dari sisi pertahanan non-militer di kawasan baru.

 

"Ini bagus untuk tetap menjaga keragaman budaya dan menjaga NKRI, karena ini adalah menjadi bagian dari produk program transmigrasi untuk peningkatan kesejahteraan bersama," beber Viva. 

 

Selain itu, Viva juga menekankan supaya para transmigran mampu menjalankan empat amanat dari Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan tugas mereka nanti. Empat amanat utama itu adalah, pertama harus menjaga NKRI. 

Dengan perpindahan penduduk dari tempat yang padat ke longgar, seperti di daerah terdepan dan terluar. Maka transmigran ikut mengamankan kedaulatan wilayah bangsa.

 

Lalu, amanat kedua, bisa menciptakan kesejahteraan rakyat dengan berbagai program yang telah disiapkan Kementrian. Setelah itu, amanat ketiga yakni mendukung program swasembada pangan. Sebab selama ini kawasan-kawasan transmigrasi adalah sentra produksi tanaman pangan terutama beras. Yang keempat menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru.

 

"Sekarang ini dari pemerintahan Presiden Soekarno sampai Presiden Prabowo, program transmigrasi telah melahirkan desa definitif sebanyak 1.567 desa, 464 kecamatan, 116 kabupaten/kota, dan 3 provinsi, yaitu Provinsi Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, dan Provinsi Papua Selatan," ungkap Viva.

Baca Juga: Lansia Asal Mantrijeron Bebas Biaya Operasi Katarak di Kedua Mata Berkat BPJS Kesehatan

Sementara Kepala BBPPM Jogjakarta Tunggak Santosa menjelaskan dalam dalam memberikan pelatihan kepada calon transmigran kali ini. Pihaknya tidak hanya melakukan teori kepada para calon transmigran, tapi juga melakukan praktik. 

 

"Jadi, kami coba  pengolahan cokelat di Gunungkidul itu. Jadi, di Poso itu komoditas cokelat, hanya saja mereka hanya memanen terus dijual. Jadi, tanpa ada olahan, supaya punya ekonomi yang lebih, sehingga kami ajari untuk olahannya," tegasnya. (ayu).

Editor : Heru Pratomo
#BBPPM Yogyakarta #viva yoga #Gunungkidul #Pengolahan #anggota tni #Wakil Menteri Transmigrasi #transmigrasi #cokelat