Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Viral Tagar BoikotTrans7, Apa Yang Terjadi Sebenarnya?

Magang Radar Jogja • Selasa, 14 Oktober 2025 | 18:46 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA- Trans7 menuai kritik keras usai menayangkan sebuah program yang dinilai menyinggung perasaan para kiai dan kalangan santri di lingkungan pesantren.

Tagar #BoikotTrans7 kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Hingga Selasa (14/10/2025) pagi, tagar tersebut menempati posisi keempat trending topic dengan lebih dari 4.100 unggahan warganet.

Viralnya tagar #BoikotTrans7 bermula dari penayangan program XPOSE di Trans7.

Dalam salah satu episodenya, acara tersebut menampilkan judul yang dianggap provokatif, yaitu “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”.

Judul itu langsung menuai perhatian karena dinilai menyinggung kehidupan santri di pesantren.

Cuplikan dari episode tersebut kemudian tersebar luas di berbagai platform media sosial, seperti X (Twitter), Instagram, dan TikTok.

Banyak warganet merasa tayangan itu tidak pantas dan melanggar etika penyiaran karena menampilkan pesan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman tentang dunia pesantren.

Tak butuh waktu lama, reaksi keras pun bermunculan dari masyarakat, khususnya kalangan santri dan kiai.

Mereka menilai program itu telah merendahkan martabat santri serta melecehkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi di lingkungan pondok pesantren.

Dalam tayangan itu, penonton diperlihatkan sejumlah adegan yang menggambarkan kehidupan di pesantren.

Salah satunya menunjukkan para santri berjalan jongkok saat mendekati kiai, serta cuplikan ketika sang kiai turun dari mobil.

Sebagai bentuk protes, banyak pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap Trans7 dengan menggunakan tagar #BoikotTrans7 yang kini ramai di berbagai platform.

Banyak pihak menilai bahwa narasi dalam program Trans7 tersebut tidak pantas dan menyesatkan.

Tayangan itu dianggap menampilkan citra seolah-olah para kiai hidup bermewah-mewahan serta meminta uang dari santri dan jamaahnya.

Narasi seperti ini dinilai merugikan karena bisa menimbulkan persepsi negatif terhadap lembaga pesantren.

Selain itu, tayangan tersebut juga dianggap menggambarkan pesantren sebagai tempat dengan hubungan kuasa yang tidak sehat dan cenderung eksploitatif.

Sejumlah tokoh masyarakat dan kalangan pesantren pun menegaskan bahwa tayangan semacam ini berpotensi menodai kehormatan kiai serta mengabaikan nilai-nilai luhur pendidikan agama yang selama ini dijaga di lingkungan pondok.

Setelah menuai gelombang kritik, Trans7 akhirnya angkat bicara. Stasiun televisi itu meminta maaf kepada masyarakat karena tayangan programnya dinilai menyinggung kalangan pesantren.

"Sehubungan dengan tayangan/pemberitaan mengenai Pondok Pesantren liboryo yang telah ditayangkan di program Xpose Uncensored Trans 7 pada tanggal 13 Oktober 2025, kami telah melakukan review dan tindakan-tindakan atas keteledoran yang kurang teliti sehingga merugikan Keluarga Besar PP. Lirboyo, Dengan segala kerendahan hati menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap kiai dan keluarga, para pengasuh, santri, serta alumni Pondok Pesantren Lirboyo, khususnya di bawah naungan PP. Putri Hidayatul Mubtadiaat. Kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat luas atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan," demikian keterangan resminya yang di unggah di @officialtrans7.
Lebih lanjut dinyatakan Trans7, pihaknya telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung melalui Gus Adib, salah satu putra KH. Anwar Mansyur, atas kejadian ini.

Meski telah menyampaikan permohonan maaf, banyak pihak berharap kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Penulis: Adella Haviza

Editor : Bahana.
#Boikot trans7 #Viral