Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Misteri Sri Gusti Kanjeng Ratu Kidul: Sang Penguasa Laut Selatan dan Ibu Spiritual Raja-Raja Jawa

Magang Radar Jogja • Selasa, 7 Oktober 2025 | 04:15 WIB
Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Laut Selatan, simbol legenda dan budaya Jawa.
Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Laut Selatan, simbol legenda dan budaya Jawa.

RADAR JOGJA – Di balik gulungan ombak Samudra Hindia, masyarakat Jawa percaya akan keberadaan sosok gaib yang penuh wibawa dan misteri: Sri Gusti Kanjeng Ratu Kidul.

Tokoh legendaris ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan dan spiritualitas Jawa sejak berabad-abad silam.

Namanya disebut dalam berbagai naskah kuno, mulai dari Babad Tanah Jawi hingga Serat Centhini, menandakan betapa dalamnya pengaruh mitos sang ratu laut selatan terhadap perjalanan sejarah Mataram hingga dua keraton besar Jawa: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Asal-Usul dan Perbedaan dengan Nyi Roro Kidul

Meski sering disamakan dengan Nyi Roro Kidul, para ahli budaya menegaskan keduanya adalah dua sosok berbeda dalam mitologi Jawa.

Kanjeng Ratu Kidul diyakini sebagai ciptaan Dewa Kaping Telu, yang menempati alam kehidupan sebagai Dewi Padi atau Dewi Sri, lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Sementara itu, Nyi Rara Kidul digambarkan sebagai putri Kerajaan Sunda yang diusir karena fitnah ibu tirinya, lalu menghilang ke laut selatan dan berubah menjadi makhluk halus.

Dalam kepercayaan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan penguasa tertinggi Laut Selatan dan menjadi simbol kekuasaan spiritual para raja Jawa.

Ia diyakini hanya menampakkan diri untuk memberi pertanda atau peringatan atas peristiwa besar yang akan terjadi.

Ratu Laut Selatan dan Raja-Raja Mataram

Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram terekam dalam kisah Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam pada abad ke-16.


Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan, Panembahan Senopati bertapa di Pantai Parangkusumo hingga menggetarkan kerajaan gaib di dasar samudra.

Ratu Kidul datang menegur sang pangeran, namun kemudian terpikat oleh ketampanannya.

Dari pertemuan itulah lahir “perjanjian spiritual” antara dunia nyata dan dunia gaib: Sang Ratu menjadi pelindung kerajaan Mataram dan seluruh keturunannya.

Hingga kini, keyakinan itu tetap dijaga melalui ritual labuhan yang digelar di Pantai Parangtritis, Parangkusumo, hingga Paranggupito, Wonogiri.

Dalam upacara ini, keraton mempersembahkan sesaji sebagai bentuk penghormatan pada penguasa laut selatan.

Simbol Spiritualitas Keraton

Di lingkungan keraton, sosok ini dikenal dengan gelar Sri Gusti Kanjeng Ratu Ayu Kencono Sari.

Menurut catatan Karaton Surakarta Hadiningrat, ia dipercaya mampu berubah wujud, dari perempuan tua hingga gadis muda berparas elok, terutama saat bulan purnama tiba.


Sultan Hamengkubuwono IX bahkan pernah menuturkan pengalaman spiritualnya bertemu Sang Ratu, menggambarkannya sebagai perempuan muda bercahaya lembut yang hadir di antara aroma bunga laut dan semerbak dupa.

Bangunan Panggung Sanggabuwana di Surakarta dan Panggung Krapyak di Yogyakarta dipercaya menjadi tempat pertemuan spiritual antara raja dan sang ratu.

Keberadaannya menjadi simbol hubungan antara dunia manusia dan dunia gaib yang saling menjaga keseimbangan.

Nyi Roro Kidul: Sang Pengikut Setia

Dalam kepercayaan masyarakat, Nyi Roro Kidul dikenal sebagai pembantu setia Kanjeng Ratu Kidul.

Ia digambarkan menyukai warna hijau dan sering “mengambil” orang yang mengenakan busana hijau di pesisir selatan untuk dijadikan abdi.

Karena itu, larangan mengenakan pakaian hijau di pantai selatan, terutama di Parangtritis dan Pelabuhan Ratu masih diyakini hingga kini.

Pengalaman spiritual seorang pelaku tapa di Parangtritis pada tahun 1998 turut memperkuat kisah dua sosok ini.

Ia mengaku melihat dua perempuan mirip satu sama lain, Eyang Ratu Kidul berkulit kuning langsat dengan aura putih berkilau, dan Nyi Rara Kidul berkulit coklat dengan cahaya lembut seperti susu.

Kisah Ni Mas Ratu Anginangin dan Ajar Cemara Tunggal

Legenda Jawa juga mengenal figur lain, Ni Mas Ratu Anginangin, yang disebut dalam Serat Darmogandhul dan Serat Centhini.

Ia dipercaya sebagai ratu seluruh makhluk halus di Pulau Jawa dan bersemayam di dasar Laut Selatan, menjadi penguasa sebelum Kanjeng Ratu Kidul.


Sementara itu, cerita rakyat Jawa Barat menyebut nama R Ay Ajar Cemara Tunggal, tokoh spiritual dari Gunung Kombang yang berperan dalam pendirian Kerajaan Majapahit.

Ia diyakini berubah menjadi roh pelindung dari arah selatan menandakan keterkaitan antara legenda Majapahit dengan kekuatan laut mistik.

Dari Panembahan Senopati hingga Pangeran Diponegoro

Kisah kedekatan raja-raja Jawa dengan Ratu Kidul berlanjut hingga masa Pangeran Diponegoro.

Dalam Babad Dipanegara, disebutkan bahwa sang pangeran dua kali berjumpa dengan Ratu Kidul di Gua Langse, Parangtritis.

Pada pertemuan kedua, Ratu Kidul menawarkan bantuan dalam perang, namun Diponegoro menolak dengan alasan keyakinan spiritualnya: pertolongan sejati hanya datang dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sikap itu memperlihatkan bagaimana mitos dan spiritualitas Jawa berpadu dengan nilai-nilai religius yang tumbuh di tanah Mataram.

Warisan Mistik yang Menyatu dengan Budaya

Hingga kini, legenda Sri Gusti Kanjeng Ratu Kidul bukan sekadar kisah mistik, melainkan warisan budaya yang membentuk identitas spiritual masyarakat Jawa.


Ia adalah simbol keseimbangan antara kekuasaan manusia dan alam, antara dunia kasatmata dan dunia tak terlihat.

Meski zaman terus berubah, pesona sang Ratu Kidul tetap abadi di hati masyarakat Jawa menjadi pengingat bahwa laut selatan bukan sekadar wilayah alam, melainkan ruang spiritual yang dijaga dengan penghormatan dan kebijaksanaan leluhur. (Retno Anggi Kusuma Dewi)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#penguasa laut selatan #kasunanan surakarta #raja jawa #misteri #Kesultanan Yogyakarta #Babad Tanah Jawi #Sri Gusti Kanjeng Ratu Kidul #Ibu Spiritual