RADAR JOGJA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah direalisasikan di tengah kepemimpinan Prabowo-Gibran sejatinya lahir dengan niat mulia untuk memastikan anak-anak Indonesia.
Khususnya para pelajar, mendapatkan asupan gizi yang baik melalui menu makanan yang sehat dan terjamin kualitasnya.
Namun, alih-alih dipuji, pelaksanaan program ini justru diwarnai rentetan kasus keracunan massal yang membuat publik resah.
Per akhir September 2025, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengantongi data sekitar 6.452 kasus keracunan menu MBG.
Sementara, data versi pemerintah yang dihimpun Badan Gizi Nasional (BGN) dan BPOM mencatat jumlah total korban keracunan MBG kisaran 5 ribu orang.
Maraknya kasus keracunan MBG ini memicu kritik dari berbagai pihak, mulai dari politisi, pemerhati pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, hingga media.
Mereka menyoroti aspek kehigienisan serta SOP Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam situasi resah ini, perhatian publik mengarah ke lembaga penyelenggara MBG, Badan Gizi Nasional (BGN).
Pertanyaan publik muncul, sejauh mana Badan Gizi Nasional (BGN) memiliki kapasitas dan kesiapan untuk menangani program sebesar MBG, bagaimana mekanisme pengawasan bahan baku, proses masak, hingga distribusi dilakukan? Lalu bagaimana soal evaluasi kasus keracunan dan penindakan terhadap pihak yang lalai?
Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian tertuju pada sosok pimpinan BGN, Dadan Hindayana, yang langsung menjadi sorotan utama.
Publik mempertanyakan bagaimana latar belakang seorang ahli serangga dalam memimpin lembaga yang berfokus pada gizi nasional?
Profil Dadan Hindayana
Dadan Hindayana yang lahir di Garut pada 10 Juli 1967 kini menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.
Menariknya, jalur akademis yang Dadan tempuh tidak berangkat dari ilmu gizi, melainkan entomologi, cabang ilmu biologi yang berfokus pada serangga.
Namanya sudah lama dikenal melalui riset dan berbagai publikasi ilmiah di bidang tersebut.
Dadan menamatkan pendidikan sarjananya di bidang Proteksi Tanaman di IPB pada 1990. Ia kemudian melanjutkan studi ke Jerman, meraih gelar magister Entomologi Terapan dari University of Bonn, sebelum akhirnya menyelesaikan pendidikan S3-nya di Leibniz Universität Hannover dengan fokus pada serangga dan proteksi tanaman.
Di luar aktivitas akademiknya sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB), Dadan juga dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau di Halmahera Barat, Maluku Utara.
Pada 2023 ia menerbitkan empat jurnal dengan jumlah sitasi penelitian mendekati seratus kali. Dari sejumlah riset yang digarapnya, salah risetnya pada 2017 di Berau, Kalimantan Timur yang kemudian diterbitkan dalam Jurnal Entomologi Indonesia (2023) dengan judul "Keanekaragaman dan peran fungsional serangga Ordo Cleopatra di area reklamasi pascatambang batu bara di Berau, Kalimantan Timur".
Dilantik Menjadi Kepala Badan Gizi Nasional
Pada 19 Agustus 2024, Presiden Joko Widodo melantik Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 94B Tahun 2024 tentang Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.
Sebagai Kepala BGN, Dadan mengemban peran untuk mengawasi program nasional di bidang gizi, termasuk saat ini mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Meski dilatarbelakangi rekam jejak akademik mumpuni, tantangan yang dihadapi BGN kini jauh lebih berat.
Publik menuntut BGN memperketat pengawasan, memastikan semua dapur penyedia memiliki sanitasi baik, sertifikasi serta menerapkan SOP keamanan pangan dengan disiplin.
Masyarakat mempertanyakan penyebab keracunan, siapa yang bertanggung jawab, serta langkah apa yang diambil agar kejadian ini tidak terus terulang.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Sumber: berbagai sumber