Muhammadiyah Resmi Gunakan Kalender Hijriah Global Tunggal, Awal Ramadan 2026 Jatuh pada 18 Februari
Jihad Rokhadi• Jumat, 26 September 2025 | 20:08 WIB
Muhammadiyah
JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah secara resmi mulai menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai acuan penetapan tanggal-tanggal penting dalam Islam. Dengan keputusan ini, Muhammadiyah telah menetapkan kalender ibadah hingga 30 tahun ke depan.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjelaskan bahwa KHGT mulai dipakai sejak 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Melalui kalender ini, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, bukan 19 Februari sebagaimana tercantum dalam kalender cetak sebelumnya. Dengan demikian, Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H ditetapkan pada Jumat, 20 Maret 2026.
“Kalender ini merupakan produk dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Mereka berharap negara-negara Islam menggunakan KHGT agar umat Islam memiliki kalender tunggal,” ujar Hamim, Kamis (25/9).
Pertimbangan Ilmiah dan Syariah
KHGT disusun dengan dasar astronomi modern dan kaidah syariah. Dua parameter utama yang digunakan adalah:
Ketinggian hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.
Sudut elongasi minimal 8 derajat 6 menit.
Meski pada perhitungan awal Ramadan 1447 H ketinggian hilal belum terpenuhi, ijtimak di Selandia Baru yang terjadi setelah pukul 24.00 UTC dinyatakan sah sehingga penetapan awal Ramadan diputuskan pada 18 Februari 2026.
Muhammadiyah menegaskan bahwa KHGT sudah memenuhi dua aspek penting, yakni kepatuhan syariah dan akurasi keilmuan. Bahkan, organisasi ini telah menyusun kalender berbasis KHGT hingga 30 tahun ke depan, meski secara teoretis perhitungan bisa dilakukan sampai 350 tahun ke depan.
Sejarah dan Adopsi KHGT
Keputusan menggunakan KHGT sejatinya sudah diambil dalam Muktamar Muhammadiyah 2015 di Makassar, namun baru diterapkan secara penuh pada 1447 H. Sistem ini sendiri diperkenalkan oleh OKI sejak 2008 dengan harapan menyatukan kalender umat Islam di seluruh dunia.
Saat ini, selain Indonesia, negara lain yang sudah mengadopsi KHGT adalah Turki. Namun, Arab Saudi dan sebagian besar negara Islam lainnya masih menggunakan metode kalender lokal.
Berbeda dengan Pemerintah
Di Indonesia, penentuan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha biasanya ditentukan melalui sidang isbat yang dilakukan pemerintah dengan melibatkan berbagai ormas Islam. Pemerintah mengakomodasi dua metode, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal langsung).
Dengan demikian, keputusan Muhammadiyah bisa saja berbeda dengan hasil sidang isbat pemerintah. Untuk Ramadan 1447 H, umat Islam di Indonesia berpotensi memulai puasa pada tanggal yang tidak sama.