RADAR JOGJA – Tangis keluarga pecah, teriakan panik masih terngiang.
Banjir bandang yang melanda Denpasar, Bali, Rabu (10/9/2025), menyapu pemukiman warga dan meninggalkan duka mendalam.
Sembilan orang tewas, sementara enam lainnya masih hilang terseret arus.
Hujan deras sejak dini hari membuat beberapa sungai di Denpasar meluap.
Air datang begitu cepat, menghantam rumah warga di bantaran Tukad Badung dan sejumlah titik lain.
Banyak warga tak sempat menyelamatkan barang-barang, bahkan keluarga mereka.
“Saya hanya bisa lari keluar rumah bawa anak. Motor, pakaian, semua hanyut,” ungkap Komang Oka Sudiastawa, warga setempat dengan mata berkaca-kaca kepada wartawan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Denpasar melaporkan, hingga malam, proses evakuasi masih berlangsung.
Tim SAR gabungan diterjunkan untuk mencari enam korban hilang yang diduga terbawa arus deras.
Namun, kondisi lapangan sulit karena derasnya aliran sungai dan lumpur tebal.
Selain korban jiwa, tercatat 474 rumah rusak akibat terjangan banjir.
Jalanan utama tergenang, beberapa jembatan kecil runtuh, dan fasilitas umum ikut porak-poranda.
Pemerintah Kota Denpasar pun menetapkan status darurat bencana banjir agar penanganan lebih cepat.
“Prioritas utama kami adalah menyelamatkan korban dan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak,” tegas Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara
Pemerintah Provinsi Bali bersama BNPB menyiapkan bantuan tak terduga (BTT).
Rumah rusak berat, pedagang kecil, hingga fasilitas umum yang terdampak akan mendapat santunan sesuai tingkat kerusakan.
Kini, warga yang selamat masih trauma. Mereka mengungsi di balai banjar dan gedung sekolah, menunggu kabar baik dari anggota keluarga yang belum ditemukan.
“Semoga saja cepat ketemu. Kami masih berharap,” lirih Made, warga setempat yang kehilangan adiknya saat banjir datang. (Ahmad Hatim Wafa)