RADAR JOGJA - Harga nikel global mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data pasar komoditas internasional, harga nikel kini berada di bawah USD 16.000 per metrik ton.
Data ini menunjukkan level terendah dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini mulai memberikan dampak serius bagi industri pertambangan dan pengolahan nikel, termasuk Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.
Per Kamis (5/6/2025), harga kontrak nikel yang paling banyak diperdagangkan di London Metal Exchange (LME) tercatat sebesar USD 15.380 per metrik ton.
Bahkan, pada April lalu, harga sempat jatuh ke titik terendah dalam lima tahun, yaitu USD 13.865 per ton.
Sebagai perbandingan, pada awal 2022, harga nikel sempat menyentuh rekor tertinggi lebih dari USD 48.000 per ton.
Penyebab Penurunan Harga
Penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu surplus pasokan (oversupply) dan melemahnya permintaan dari industri baterai kendaraan listrik (EV).
Dikutip dari Reuters.com, analis Macquarie, Jim Lennon, dalam konferensi industri logam yang diselenggarakan oleh Shanghai Metals Market di Jakarta, menjelaskan bahwa surplus pasokan global terutama dipicu oleh ekspansi masif produksi nikel di Indonesia.
Saat ini, Indonesia menguasai sekitar 63 persen pangsa pasar nikel dunia.
Lennon juga memperkirakan bahwa kondisi kelebihan pasokan ini akan berlanjut hingga tahun 2027–2028.
Sementara itu, dari sisi permintaan, industri baterai kendaraan listrik mulai beralih ke teknologi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak lagi memerlukan nikel sebagai bahan baku utama.
Lennon memperkirakan, pada 2030, permintaan nikel dari sektor baterai hanya akan mencapai 967.000 ton, turun tajam dari proyeksi sebelumnya sebesar 1,5 juta ton.
Sebagai perbandingan, pada 2024 lalu, sektor baterai hanya menyerap sekitar 518.000 ton nikel secara global.
Dampak Terhadap Industri Smelter Nasional
Ironisnya, meskipun Indonesia mendominasi pasokan nikel global, industri dalam negeri justru menghadapi tekanan berat akibat overproduksi dan penurunan harga.
Banyak proyek smelter baru, terutama di kawasan industri nikel di Sulawesi.
Hal ini justru memperparah kelebihan pasokan yang ada.
Sementara itu, proyeksi permintaan dari sektor baterai yang semula menjadi andalan, terus direvisi turun.
Diperkirakan sekitar 25 persen produsen nikel global kini beroperasi dalam kondisi merugi berdasarkan cash-cost basis.
Akibatnya, sejumlah smelter mulai mengurangi kapasitas produksi, bahkan menghentikan operasional secara total.
Ribuan Pekerja di Sulawesi Terdampak
Dampak paling nyata dari krisis ini dirasakan langsung di lapangan. Hingga pertengahan 2025, setidaknya empat perusahaan smelter besar di Sulawesi telah menghentikan operasionalnya.
Kawasan seperti Morowali dan Bantaeng, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri nikel nasional, terpaksa mengalami perlambatan aktivitas ekonomi.
Ribuan tenaga kerja, sebagian besar berusia muda, terdampak oleh kondisi ini.
Banyak dari mereka tertarik masuk ke sektor ini karena tawaran gaji tinggi, meski harus bekerja dalam kondisi yang berat dan berisiko.
Namun, situasi kini berubah drastis. Tanpa kepastian lapangan kerja, ancaman pengangguran dan kemiskinan semakin besar.
Masalah semakin kompleks karena mayoritas pekerja tidak dapat kembali ke sektor asal seperti pertanian dan perikanan, yang sudah rusak akibat dampak ekologis dari aktivitas pertambangan dan industrialisasi nikel.
Jika tidak ada langkah mitigasi yang jelas dari pemerintah dan pelaku industri, krisis sektor nikel akan terus memburuk.
Kondisi ini bukan hanya mengancam keberlanjutan industri strategis nasional.
Namun juga mengancam masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada rantai produksi nikel di Indonesia, khususnya di Sulawesi. (Jihan Pertiwi)