RADAR JOGJA - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, meresmikan dimulainya operasional proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di Karawang, Jawa Barat (30/6/2025).
Proyek ini menjadi langkah besar dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi baterai kendaraan listrik di kawasan Asia dan dunia.
Dalam proyek berskala besar ini, Indonesia membangun ekosistem lengkap dari hulu ke hilir mulai dari pengolahan bahan baku nikel, pembuatan sel baterai, perakitan modul, hingga fasilitas daur ulang.
Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, BUMN strategis, dan mitra internasional dari Korea Selatan dan Tiongkok.
Presiden Prabowo menyampaikan bahwa proyek ini adalah wujud nyata dari visi Indonesia untuk menjadi negara industri maju dan mandiri secara energi.
Ia menekankan pentingnya tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.
“Kita tidak boleh hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hari ini, kita membuktikan bahwa Indonesia mampu menjadi produsen industri bernilai tambah tinggi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Proyek ini juga menjadi sarana untuk mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kompetensi tenaga kerja, dan melibatkan pelaku industri nasional dalam pengembangan sektor strategis ini.
Melansir dari laman Instagram @presidenrepublikindonesia, proyek yang mencakup area seluas 3.023 hektar ini memiliki nilai investasi sebesar 5,9 miliar dolar Amerika Serikat dari hulu hingga hilir.
Serta diproyeksikan menyerap hingga 8.000 tenaga kerja, sehingga akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung.
Fasilitas tahap awal mencakup:
• Pabrik sel baterai berkapasitas 10 GWh per tahun
• Smelter nikel berbasis teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching)
• Pusat riset dan pengembangan teknologi baterai
• Fasilitas pelatihan vokasi dan sertifikasi tenaga kerja untuk sektor kendaraan listrik
Dengan nilai investasi awal lebih dari USD 3 miliar, proyek ini ditargetkan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung dalam lima tahun ke depan, menjadikannya salah satu proyek energi terbarukan terbesar di Asia Tenggara.
Seluruh proses industri dalam proyek ini dirancang mengikuti prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Mulai dari penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, hingga transparansi dalam rantai pasok menjadi bagian dari standar operasional utama.
Peresmian proyek ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mendukung transisi global menuju energi bersih dan kendaraan rendah emisi.
Pemerintah menargetkan produksi baterai skala industri dimulai pada 2027, seiring dengan roadmap Net Zero Emissions Indonesia pada 2060.
Proyek industri baterai Karawang dikembangkan di atas lahan seluas lebih dari 400 hektare, di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Perindustrian, serta BUMN seperti PT PLN, PT Pertamina, dan PT Indonesia Battery Corporation (IBC). (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva