RADAR JOGJA - Di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, terdapat pertambangan emas dan tembaga raksasa yang dikenal sebagai Proyek Tujuh Bukit.
Tidak banyak yang tahu, di balik proyek ini berdiri Sandiaga Uno, melalui konglomerasi Saratoga Investama, bersama sejumlah tokoh nasional lainnya.
Skala Operasi dan Potensi
Tambang ini dikelola oleh dua anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk, yakni PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Damai Suksesindo (DSI), dengan masing-masing memiliki izin usaha pertambangan seluas 4.998 ha dan 6.623 ha.
Berdasarkan dokumen resmi, potensi sumber daya di lapisan oksida mencakup sekitar 19,28 miliar pound tembaga dan 28 juta ounce emas, lebih besar daripada Newmont Batu Hijau yang hanya punya 6,3 miliar pound tembaga.
Peran Sandiaga Uno dan Saratoga
Sandiaga Uno, melalui Saratoga Investama Sedaya Tbk, memegang sekitar 19–21% saham MDKA perusahaan induk tambang ini.
Sejumlah tokoh penting juga ikut ambil bagian: Boy Thohir (kakak Menteri BUMN Erick Thohir), Edwin Soeryadjaya, dan Yenny Wahid (putri Gus Dur), menjadikan perusahaan ini terasa sebagai konstelasi bisnis-politik besar.
Respons terhadap Isu Lingkungan dan Keuangan
Tujuh Bukit sempat mencuat ke publik ketika terjadinya keretakan heap leach pad pada 12 September 2020, yang berpotensi mencemari lingkungan dan menghantam harga saham MDKA.
Proyek ini bahkan disebut-sebut oleh media seperti Majalah Tambang, sebagai “tambang kedua terbesar setelah Freeport”.
Kontroversi dan Dukungan Politik
Kehadiran sejumlah figur publik dan politikus di struktur pemegang saham dan komisaris MDKA menimbulkan spekulasi soal koneksi antara proyek tambang dan politik.
Jaringan antara Sandiaga yang kini menjadi Menteri, Erick Thohir, Yenny Wahid, dan Boy Thohir memperlihatkan sinergi antara modal, politik, dan akses izin tambang.
Implikasi Ekonomi Lokal
Untuk Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, proyek ini juga mendapat dukungan finansial, setelah IPO.
Dana segar dari saham terbesar mengalir ke pemerintah daerah, dengan nilai estimasi hingga Rp 500 miliar, meskipun proporsi kepemilikan golden share kini turun.
Proyek Tujuh Bukit bukan sekadar tambang, ini adalah simbol ikatan antara investasi besar, politik, dan ekonomi lokal.
Dengan Sandiaga Uno sebagai salah satu pemegang saham utama, proyek ini menonjol dari segi potensi ekonomi dan tantangan lingkungan.
Meski dinilai sebagai tambang emas terbesar kedua di Indonesia, pengawasan terhadap dampak ekologis dan transparansi kebijakan publik seharusnya menjadi fokus berkelanjutan. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva