RADAR JOGJA - Baru-baru ini video seorang penceramah waria viral di media sosial.
Penceramah itu bernama Shuniyya Ruhama.
Dengan mengenakan pakaian putih dengan jilbab senada, Ustadzah Shuniyya membahas cara menghadapi suami ketika kesal.
Lalu siapakah Shuniyya Ruhama?
Shuniyya Ruhama juga dikenal sebagai Eko Purnomo, merupakan seorang transgender yang aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial di Indonesia.
Ia pernah menjadi pembicara dalam acara keagamaan yang diselenggarakan oleh komunitas Nahdlatul Ulama (NU), yang kemudian memicu berbagai tanggapan dari masyarakat.
Latar Belakang Pendidikan dan Aktivitas
Shuniyya adalah alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Ia menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude.
Selama masa kuliah, Shuniyya aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa, termasuk di himpunan mahasiswa jurusan dan lembaga pers mahasiswa.
Selain itu, Shuniyya juga dikenal sebagai pembatik yang peduli terhadap pelestarian batik khas Kendal.
Ia memiliki bengkel batik di Weleri, Kendal, dan produknya telah dikenal hingga mancanegara.
Perjalanan Identitas dan Dakwah
Dalam bukunya yang berjudul Jangan Lepas Jilbabku: Catatan Harian Seorang Waria, Shuniyya menceritakan perjalanan hidupnya sebagai seorang transgender yang memilih untuk mengenakan jilbab dan aktif dalam kegiatan keagamaan.
Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Yayasan Putri Waria Indonesia, yang fokus pada pemberdayaan komunitas transgender.
Shuniyya terlibat dalam bimbingan keagamaan bagi komunitas transgender di Paguyuban Waria Kendal.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman keagamaan dan mendekatkan diri kepada Tuhan bagi para anggotanya.
Kontroversi dan Tanggapan Masyarakat
Keterlibatan Shuniyya dalam kegiatan keagamaan, terutama sebagai pembicara dalam acara NU, menimbulkan berbagai reaksi.
Beberapa pihak mengkritik penggunaan gelar "ustadzah" untuk Shuniyya, mengingat identitas gendernya.
Namun, ada juga yang melihat kehadiran Shuniyya sebagai bentuk inklusivitas dan upaya untuk merangkul berbagai kalangan dalam dakwah Islam.
Kegiatan dakwah yang dilakukan Shuniyya dianggap sebagai langkah positif dalam menyebarkan nilai-nilai keagamaan kepada komunitas yang sering terpinggirkan.
Status Pernikahan
Shuniyya Ruhama diketahui menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Muhammad Yusuf, yang kerap mendampingi dan diduga berperan sebagai manajer dalam berbagai kegiatan dakwahnya.
Dalam sebuah wawancara pada tahun 2012, Shuniyya menyebutkan bahwa hubungan tersebut telah berlangsung selama enam tahun dan berharap menjadi hubungan terakhirnya.
Namun, tidak terdapat informasi publik yang dapat dikonfirmasi mengenai status pernikahan resmi antara Shuniyya Ruhama dan Muhammad Yusuf.
Demikian pula, tidak ada data yang menunjukkan bahwa Shuniyya memiliki anak.
Shuniyya Ruhama adalah sosok yang kompleks, dengan perjalanan hidup yang mencerminkan perjuangan identitas dan keinginan untuk berkontribusi dalam masyarakat melalui dakwah dan seni.
Keberadaannya menimbulkan diskusi penting tentang inklusivitas, identitas gender, dan peran dalam komunitas keagamaan di Indonesia.
Bagaimana menurutmu? (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva