RADAR JOGJA - Gebrakan baru yang tengah dibuat oleh Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat adalah mengusulkan vasektomi sebagai syarat bagi penerima bantuan sosial.
Hal ini menuai banyak pro dan kontra bagi sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Barat.
Namun, bagaimana pandangan medis terhadap proses vasektomi sebagai upaya pengendalian kelahiran?
Berdasarkan BCMJ A Doctor of BC Publication, vasektomi sendiri telah ada dan dilakukan pria sejak dua ratus tahun silam.
Setiap tahunnya, sekitar enam persen pria yang sekiranya 500.000 orang di Amerika Serikat menjalani Vasektomi.
Di Kanada, sekitar lima belas persen pria menjalani vasektomi.
Secara medis, adapun beberapa hal fundamental yang harus diperhatikan dalam prosedur vasektomi yang meliputi hal-hal berikut.
1. Pria harus menjalani penilaian kesuburan setelah vasektomi berupa anamnesis (wawancara medis) secara menyeluruh dan pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah ada penyebab infertilitas tambahan.
2. Pemeriksaan terhadap riwayat kesuburan pria perihal kehamilan dan anak-anak yang dimiliki sebelumnya.
3. Pemeriksaan riwayat operasi inguinal (khususnya, operasi hernia), waktu sejak vasektomi, dan fungsi ereksi dan ejakulasi juga harus dinilai.
4. Penggunaan obat-obatannya saat ini dan baru-baru ini juga harus ditinjau secara menyeluruh, dengan fokus pada penggunaan steroid anabolik atau suplemen testosteron.
5. Diskusi tentang perencanaan keluarga pasangan kemungkinan besar diperlukan, dan harus mencakup jumlah anak yang diinginkan dan keinginan masa depan untuk kemandulan.
Sedangkan di Indonesia sendiri , vasektomi mulai diperkenalkan sejak tahun 1970-an Di Tanah Air. (Umi Jari Widayah)
Editor : Meitika Candra Lantiva