RADAR JOGJA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak para pelajar di wilayahnya untuk mulai membiasakan diri berjalan kaki atau bersepeda ke sekolah sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Ajakan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan siswa-siswi dari SMPN 1 Panawangan di kantornya, yang turut diabadikan dalam video unggahan kanal YouTube resminya “Kang Dedi Mulyadi Channel” pada 28 April 2025.
Pertemuan ini terjadi setelah viralnya sebuah video yang memperlihatkan sekelompok siswi SMPN 1 Panawangan berjalan kaki bersama sepulang sekolah.
Momen ini kemudian dinilai sebagai contoh positif dalam membentuk kebiasaan beraktivitas fisik di kalangan pelajar.
“Himbauan untuk jalan kaki ke sekolah atau naik sepeda bagi mereka yang jaraknya masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dan bersepeda,” ujar Dedi dalam kesempatan tersebut.
Dalam penjelasannya, Dedi menyampaikan menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya kasus penyakit serius di kalangan remaja, seperti diabetes dan gangguan ginjal.
Ia menilai bahwa pola konsumsi berlebihan terhadap minuman manis dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor utama.
“Ini sekarang tuh ancaman terbesar bangsa Indonesia itu penyakit gula. Konsumsi anak-anak muda sekarang, kalian ini, pasti minumnya teh rata-rata minuman kemasan. Terus kemudian jarang gerak, akibatnya apa, banyak usia muda udah gula, kemudian gagal ginjal,” katanya.
Lebih jauh, Dedi menyoroti tingkat kebugaran pelajar Indonesia yang menurutnya masih tertinggal dibandingkan pelajar di negara-negara Asia lainnya.
“Generasi kita kalah sama Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. Kebugaran anak Indonesia itu kalah, dan gangguan penyakitnya sangat tinggi. Masih muda sudah sakit,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur yang sering disapa ‘Kang Dedi’ itu juga memperkenalkan program pendidikan baru yang akan diterapkan di sekolah-sekolah di Jawa Barat.
Sebagai bagian dari upaya perbaikan kualitas pendidikan di Jawab Barat, program ini berfokus pada pengelompokan siswa berdasarkan minat dan hobi, dengan tujuan menciptakan lingkungan belajar yang relevan sesuai dengan bakat masing-masing siswa.
“Kang Dedi punya program baru loh. Anak SMP sudah dibikin kelas berdasarkan hobi. Yang hobi bola volley, satu kelas. Yang hobinya nyanyi, bikin novel, sastra, pokoknya tukang melamun, itu mah model ieu, ruang satu kelas seni. Yang pengen jadi tentara, dan pengen jadi polisi, satu kelas,” ucapnya di hadapan siswa-siswi SMPN 1 Panawangan.
Menurutnya, pendekatan ini diharapkan dapat membantu mengurangi potensi konflik antarminat dalam satu ruang belajar dan memberi ruang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan bakatnya.
“Nah sekarang itu bikin kacau kalau yang hobi bikin novel bareng sepak bola. Nu hiji hayang main bola, nu hiji yang novel, kan teu nyambung,” jelasnya.
Untuk diketahui, sejak awal masa jabatannya, Dedi dikenal aktif mengeluarkan beberapa kebijakan pendidikan yang mengundang kontroversi.
Seperti pelarangan kegiatan study tour dan wisuda di sekolah, penyediaan sekolah swasta gratis bagi siswa tidak mampu, serta pengalokasian anggaran pendidikan sebesar Rp 600 miliar untuk pembangunan fasilitas pendidikan.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari visi “Jabar Istimewa”, yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pemerintah provinsi dalam mewujudkan pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jawa Barat. (Fadel Muhammad)
Editor : Meitika Candra Lantiva