Dalam kegiatan yang baru pertama kali di Kalimantan Selatan ini, Bank Mata Yogyakarta bekerja sama dengan Perkumpulan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Duke University (USA), Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM/RSUP Dr Sarjito, Kelompok Staf Medis (KSM) Mata RSUD Ulin Banjarmasin, dan RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh.
Baksos yang dipimpin Ketua Bank Mata Yogyakarta dr. Edy Wibowo, Sp.M (K), MPH ini, menyertakan tim dokter antara lain dr. Reny Setyowati, Sp.M., dr. Syam Suharyono, Sp.M., dr. Mohammad Nafis Sabirin Mara, Sp.M, dan Lloyd Williams, MD, PhD (Duke University).
Juga dibantu dokter-dokter mata dari Perdami Kalsel, para dokter mata di RSUD Ulin Banjarmasin, dan RSUD dr.H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.
Untuk hari pertama kegiatan (10/04/2025), sebanyak delapan pasien dengan rentang umur 15 tahun hingga 70 tahun, berhasil ditransplantasi kornea yang berlangsung di ruang operasi RSUD Ulin Banjarmasin.
Pada hari kedua (11/04/2025), berhasil mengoperasi 10 pasien, terdiri dari delapan pasien cangkok kornea, dan dua pasien lagi pemasangan lensa yang berlangsung di ruang operasi RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Para pasien menerima cangkok mata gratis.
Untuk kelancaran kegiatan baksos tersebut, tim dokter juga didampingi pengurus Bank Mata Cabang Yogyakarta lainnya.
Mereka, antara lain Inneke Yonilestari, SE., MM (Pengurus dan Anggota Bidang Penyuluhan, Pembinaan Calon Donor dan Calon Resipien), Murti Cahyana Putra, SE (Pengurus dan Kesekretariatan), dan Ades Hendra Maryadi, A.Md (Pengurus dan Kesekretariatan).
Ketua Bank Mata Yogyakarta, dr. Edy Wibowo, Sp.M (K)., MPH menuturkan, kergiatan ini dilakukan di Banjarmasin, karena di Banjarmasin belum pernah dilakukan transplantasi kornea. Selain itu, juga ada keinginan untuk membentuk Bank Mata Cabang Kalimantan Selatan.
Dijelaskan, di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin memiliki potensi yang tinggi terhadap kebutaan kornea.
“Di sini (Banjarmasin) penduduknya banyak yang berkegiatan lapangan, seperti sebagai petani, nelayan, dan sejenisnya, sehingga risiko-risiko untuk kebutaan kornea itu sangat tinggi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jogja.
Oleh karena itu, di Banjarmasin dipillih sebagai tempat pelaksanaan bakti sosial transpalansi kornea tersebut, sekaligus bersosialisasi.
“Di samping itu, teman-teman dokter mata yang ada di Banjarmasin ini, sejak awal sangat proaktif dan menyambut positif kegiatan baksos ini,” tandasnya.
Dokter Edy mengaku puas dengan kegiatan ini, karena proses transplantasi berjalan lancar.
“Kami bangga dengan kerja keras tim. Dan kami patut bersyukur, karena dengan telah berhasil mentransplantasi kornea ini, berarti pula bahwa kita telah berhasil menyambung hidup para pasien tersebut, untuk bisa melihat,” paparnya.
“Selain melakukan transplantasi kornea, di sini juga dilakukan pelatihan-pelatihan, baik untuk perawat sebagai asisten, maupun untuk dokter spesialis mata,” jelasnya.
Yang juga penting dari baksos ini, dokter spesialis mata dari Duke University (AS), Lloyd Williams, MD, PhD mengenalkan teknik – teknik baru dalam melakukan transplantasi kornea. “Sehingga, ini sangat bermanfaat bagi kita para dokter mata,” katanya.
Pasca kegiatan bansos ini, para pasien yang telah mendapat cangkok kornea tersebut, selanjutnya dalam pemantauan tim dokter hingga beberapa bulan ke depan.
“Pasca transplantasi ini, para penerima cangkok korenea masih dalam pemantatauan kami hingga beberapa bulan ke depan. Semoga hasilnya sesuai dengan harapan kita semua. Mereka bias kembali melihat,” pungkasnya. (*/jko/iwa)
Sejarah Baru di Ulin dan Ansal
BAGI RSUD Ulin Banjarmasin, dan RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh (Ansal) Banjarmasin, kegiatan transplantasi kornea ini merupakan kali pertama.
Sehingga, boleh dibilang sebagai prestasi atau sejarah baru. Apalagi kegiatan ini merupakan kolaborasi yang melibatkan dokter dari luar negeri, dari Duke University Amerika Serikat.
Direktur RSUD Ulin Banjarmasin, dr.Diauddin, M.Kes diwakili Plt.Wadir Medik dan Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin, Dr. dr. Agung Ary Wibowo, Sp.B.,KBD mengakui bahwa kegiatan transplantasi kornea ini merupakan yang pertama kali, sekaligus sebagai pilot projek.
“Untuk kali pertama ini, ada delapan pasien yang dilakukan operasi cangkok kornea mata, dengan kriteria memperbaiki penglihatan, dan memperbaiki kerusakan kornea yang disebabkan oleh infeksi bakteri,” jelasnya.
Ia mengaku bangga dengan terwujudnya penyelenggaraan operasi cangkok kornea ini. “Harapannya, setelah kegiatan ini, semoga RSUD Ulin mampu menyelenggarakan operasi secara mandiri, dan berkelanjutan,” tandasnya..
Terpisah, Direktur RSUD Ansal Banjarmasin, dr. Among Wibowo., M.Kes.,Sp.S., juga mengakui bahwa tindakan medis berupa cangkok kornea ini merupakan yang pertama kali. “Luar biasa, kami sangat bangga atas kegiatan ini,” tegasnya.
Dia menerangkan, dalam transplantasi kornea ini, terdapat 10 pasien yang menjalani operasi. “Mereka terdiri dari delapan pasien cangkok kornea, dan dua lainnya pemasangan lensa,” katanya.
Sepuluh pasien ini, sebelumnya telah menjalani fase screening, dan dinyatakan memenuhi kriteria program. Beberapa diantaranya merupakan pasien poli mata RS Ansal Banjarmasin, sebagian lagi pasien jemput bola.
“Mereka kemudian dirawat inap, sebelum akhirnya menjalani operasi. Sepuluh pasien ini, rata-rata usia produktif,” tandasnya.
Dokter spesialis transplantasi kornea dari Duke University Amerika Serikat, Lloyd Williams, MD, PhD datang langsung untuk terlibat dalam baksos ini. Tak hanya melakukan operasi, ia juga membawa kornea mata yang disumbangkan untuk pasien di Kalsel.
Lloyd mengatakan, kesadaran masyarakat di Amerika untuk mendonorkan organ tubuhnya, tak terkecuali kornea mata, sangat tinggi.
“Di Amerika sudah tersistematis sejak membuat dokumen identitas, atau pun saat pengurusan lisensi mengendara. Di sana, saat mengurus identitas, kita sudah diberi pertanyaan apakah bersedia donor organ,” tuturnya.
Lloyd merasa antusias mengikuti jalannya operasi di RSUD Ulin dan RSUD Ansari Saleh ini. Menurutnya, membantu orang yang memiliki keterbatasan penglihatan, memberi kepuasan tersendiri.
“Dengan cara ini, kita seperti bisa mengubah jalan hidup seseorang,” ujarnya.
Dia mencontohkan, dari yang dia ingat, ada pasien yang telah mengalami kebutaan selama 10 tahun.
“Satu pasien yang paling saya ingat, dia buta selama 10 tahun. Pasca kami transplantasikan kornea, kemudian dia bisa melihat lagi, dan mampu mengenali wajah ketiga anaknya,” tuturnya.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Kalsel yang juga dokter spesialis mata RSUD Ulin, Muhammad Ali Faisal menambahkan, di Kalimantan Selatan, untuk kasus kelainan kornea ini, biasanya akibat kecelakaan kerja.
Sehingga, diharapkan masyarakat Kalsel lebih berhati-hati, dan sebisa mungkin jika mengalami hal serupa, secepatnya untuk memeriksakan ke dokter spesialis mata. (*/jko/iwa)
Editor : Bahana.