RADAR JOGJA - Jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat (Februari 2025), Dedi Mulyadi telah mencuri perhatian dengan kebijakan revolusioner terkait pekerjaan rumah (PR) siswa, yang ia terapkan saat menjadi Bupati Purwakarta (2008–2018).
Dalam Surat Edaran No. 421.7/2014/Disdikpora, Dedi melarang pemberian PR akademis dan menggantinya dengan tugas kreatif dan produktif.
"Kita ini terlalu memikirkan akademis, tapi sisi kreativitas dan produktivitas tidak ada. Cukup saja hal yang akademis itu dihabiskan di sekolah, jangan dibawa ke rumah sebagai PR," ungkap Dedi melalui kanal YouTube prbadinya.
Contohnya, siswa dari keluarga peternak diminta menghitung luas kandang kambing atau membuat puisi tentang hewan peliharaan mereka, mengintegrasikan pelajaran matematika dan bahasa Indonesia dengan kehidupan nyata.
Kebijakan ini mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
"Saya kira itu baik. Memang seharusnya seperti itu," tuturnya.
Namun, pendekatan ini juga menuai kritik dari beberapa kalangan yang khawatir akan dampaknya terhadap kesiapan siswa menghadapi ujian dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Penelitian dari Stanford University menunjukkan bahwa PR berlebihan dapat menyebabkan stres dan masalah kesehatan pada siswa.
Sebagai Gubernur, Dedi belum secara eksplisit menyatakan akan menerapkan kebijakan serupa di tingkat provinsi.
Namun, visinya untuk "Jabar Istimewa" menekankan pendidikan berkualitas yang berorientasi pada pengembangan karakter dan keterampilan praktis.
Pendekatan Dedi terhadap PR mencerminkan pandangannya bahwa pendidikan harus lebih dari sekadar latihan akademik.
Baca Juga: Jawa Pos - Radar Jogja edisi Sabtu, 26 April 2025
Ia percaya bahwa tugas-tugas praktis dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kehidupan mereka, sekaligus mengurangi stres yang disebabkan oleh PR tradisional.
Dengan pendekatan ini, Dedi Mulyadi tidak hanya menantang norma pendidikan konvensional, tetapi juga membuka diskusi tentang bagaimana pendidikan dapat lebih relevan dan bermakna bagi siswa di era modern.(Affan Yunas Hakim)
Editor : Meitika Candra Lantiva