RADAR JOGJA - Di balik hiruk pikuk kawasan padat penduduk di Jawa Barat, tersembunyi sebuah struktur geologi yang sudah terbentuk sejak jutaan tahun silam yaitu patahan Citarik.
Patahan aktif ini membentang sejauh kurang lebih 250 kilometer, dari kawasan Pelabuhanratu di Sukabumi hingga ke wilayah pesisir utara Bekasi.
Meski namanya tak sepopuler Sesar Lembang atau Sesar Cimandiri, Patahan Citarik menyimpan potensi laten yang tidak bisa diabaikan.
Jejak Purba yang Masih Bergerak
Diperkirakan mulai aktif sejak 15 juta tahun lalu pada masa Miosen, Patahan Citarik memiliki karakteristik pergerakan strike-slip sinistral, yaitu bergerak mendatar ke arah kiri.
Namun, hingga kini, laju pergerakannya masih belum diketahui secara pasti.
Dalam kajian geologi, jenis pergerakan ini sering kali menjadi pemicu gempa bumi mendatar, seperti yang terjadi di Patahan San Andreas di California.
Bukti fisik keberadaan patahan ini bisa dilihat dari bentuk morfologi di sepanjang jalurnya.
Salah satu yang paling kentara adalah rekahan dan kelurusan perbukitan di wilayah Gunung Salak, yang dipercaya terbentuk akibat peran aktif patahan ini dalam proses pembentukan gunung tersebut.
Ciri serupa juga terlihat di kawasan Citeureup, Bogor, mempertegas garis lurus panjang patahan ini di permukaan bumi.
Membelah Wilayah Padat Penduduk
Yang membuat Patahan Citarik menjadi perhatian khusus adalah jalurnya yang melewati kawasan urban dengan kepadatan tinggi, seperti Kota Bogor, Cileungsi, Gunung Putri, hingga Bekasi.
Ketiga segmen patahan, Segmen Selatan, Tengah, dan Utara.
Masing-masing memiliki karakteristik kegempaan yang berbeda.
Segmen Selatan, yang membentang dari Pelabuhanratu hingga Kota Bogor, tercatat sebagai bagian yang paling aktif secara seismik.
Di wilayah ini, gempa-gempa kecil dan swarm earthquakes (gempa yang terjadi dalam gerombolan) kerap terjadi meski tak selalu dirasakan oleh masyarakat.
Riwayat Gempa dari Masa ke Masa
1833 (Jakarta) dan 1852 (Bogor): Dua gempa tercatat terjadi di dua kota ini, namun sayangnya tak ada data akurat mengenai kekuatannya.
Peneliti Irsyam dan kawan-kawan (2010) menyebutkan kemungkinan besar keduanya berkaitan dengan aktivitas Patahan Citarik.
9 Februari 1975: Gempa dengan magnitudo 5,6 mengguncang kawasan sekitar Gunung Salak, dengan kedalaman sekitar 27 km.
Getarannya dirasakan cukup kuat, mencapai skala MMI VI di wilayah Pamijahan, dan MMI V di Kabandungan, Ciampea, Bogor, Ciawi, dan Leuwiliang. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva