RADAR JOGJA - Belakangan ini sebuah konten joget yang diduga buatan sekumpulan para petani dan buruh menjadi viral di kalangan warganet.
Pasalnya, konten joget tersebut menuai kontroversi setelah diketahui aksi warga tersebut yang meninggalkan pekerjaannya sebagai petani disebabkan tergiur oleh cuan yang lebih menguntungkan.
Aksi tersebut diduga berasal dari pengguna bernama sadbor yang kini tengah ramai kasus akan dirinya yang rupanya mempromosikan judi online dari kontennya tersebut.
Banyak netizen menanggapi konten viral ini dengan miris seraya menambahkan spekulasi akan penggambaran contoh kemiskinan struktural yang terjadi di Indonesia.
Seorang pengguna X dengan nama @ggodlife memperlihatkan bagaimana sudut pandang seseorang yang beralih profesi untuk membuat konten di tiktok alih – alih mempertahankan pekerjaan mereka sebaagi petani, buruh dan pekerjaan lain yang identik dengan masyarakat kelas bawah.
“melihat fenomena satu desa petani yang live di Tiktok, sejujurnya gue mendukung mereka, atau para ibu – ibu yang joget di Tiktok. Bukan karena mereka malas, tapi karena itu cara mereka mengubah nasib. Selama ini, mungkin jadi petani, kerja dari pagi sampai sore, nggak membawa perubahan berarti dalam hidup mereka,” ucapnya dalam caption yang tertera.
Dia juga menambahkan kenyataan akan kemiskinan struktural tentang bagaimana usaha keras tidak akan membuahkan hasil apabila penghasilan yang telah diatur tidak berubah atau tidak sesuai dengan usaha keras tersebut.
Menurutnya, pemerintah harus lebih peduli terhadap orang – orang seperti mereka. Upaya menyejahterakan para petani, para buruh, dan pekerjaan kelas bawah lain patut menjadi agenda pemerintah kedepannya.
Fenomena para buruh dan petani yang beralih profesi merupakan buah hasil dari lingkungan yang sulit tanpa perubahan.
Membuat konten live di Tiktok menjadi opsi yang dinilai menjanjikan bagi mereka. Sebab, mereka melihat banyak buktinya di sekitar.
Hasil saweran dari konten tersebut lebih cukup daripada penghasilan mereka selama menjadi pekerja lapangan.
Dan inilah yang dikhawatirkan masyarakat sebagai gejala “ngemis online.”
Pemerintah diharap memperhitungkan kembali regulasi pemasukan pekerjaan tani yang merupakan pondasi sumber daya dalam negeri agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva