Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sound Horeg: Budaya Buatan yang Menimbulkan Polemik dan Kontroversi di Indonesia

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 18 Oktober 2024 | 23:03 WIB
Fenomena Sound Horeg.
Fenomena Sound Horeg.

RADAR JOGJA - Fenomena Sound Horeg tengah ramai diperbincangkan di Indonesia, memicu polemik dan kontroversi di kalangan masyarakat.


Sound Horeg, yang muncul di berbagai wilayah jawa timur merupakan kombinasi antara sound yang di angkut menggunkan Truk dengan skala besar serta diiringi musik Dj dan elemen modern, berhasil menarik perhatian banyak orang.


Namun, di balik daya tariknya, muncul berbagai tanggapan yang beragam, mencerminkan ketegangan antara inovasi budaya dan pelestarian tradisi.


Sound Horeg mulai dikenal sebagai bentuk hiburan yang menggabungkan alat musik teknologi terkini, menciptakan pertunjukan yang dinamis dan menarik.


Pertunjukan ini sering kali melibatkan elemen visual yang memukau, dan biasanya digelar di berbagai acara besar.


Namun, kehadirannya tak lepas dari kritik. Banyak kalangan menganggap Sound Horeg sebagai budaya buatan yang tidak mencerminkan kearifan lokal.


Pihak yang mendukung Sound Horeg berpendapat bahwa inovasi ini penting untuk menarik minat generasi muda terhadap budaya Indonesia.


Mereka melihat Sound Horeg sebagai cara efektif untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali musik tradisional dalam konteks yang lebih modern.


Pendukung juga menilai bahwa Sound Horeg dapat menjadi platform bagi para seniman muda untuk mengekspresikan kreativitas mereka.


Namun, kritik terhadap Sound Horeg datang dari berbagai kalangan.

Beberapa tokoh budaya dan seniman berpendapat bahwa fenomena ini berpotensi mengubah esensi musik tradisional yang seharusnya tetap dijaga.


Mereka khawatir bahwa generasi muda lebih mengenal Sound Horeg daripada nilai-nilai budaya yang telah ada selama bertahun-tahun.

Ada juga yang berargumen bahwa komersialisasi budaya dapat mengaburkan makna asli dari seni dan tradisi.


Media sosial menjadi arena bagi perdebatan ini, dengan berbagai opini yang saling bertentangan.


Banyak netizen yang menyuarakan pendapat mereka, baik yang mendukung maupun yang menentang Sound Horeg.


Seperti apa yang di suarakan salah satu postingan X@Candj09 “ Dianggap menganggu, Warung warga Dirusak karena mobil Sound Horeg mau lewat. Siapa yang salah nih, Mobil Sound Horeng atau Jalan terlalu sempit?"


Banyak juga netizen ya ng merespons postingan X tersebut dari @ngatmo88 menyebutkan “ Saya sebagai warga sana menikmati setiap dentuman sound horeg.

Saya harap netizenn memaklumi budaya yang kami ciptakan, “Alih alih mendapatkan support akun X@ngatmo88 mendapatkan banyak cecaran dari netizen banyak netizen yang menganggap tidak ada yang namanya budaya merusak fasilitas umum. Ujar salah satu netizen X@Emmanuelxx29337.


Diskusi ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap perubahan budaya yang cepat dan tantangan yang dihadapi dalam menjaga warisan budaya.


Beberapa lembaga pemerintah dan organisasi kebudayaan juga turut memberikan perhatian terhadap fenomena ini.


Ada yang mendorong perluasan pemahaman tentang pentingnya pelestarian budaya asli, sementara yang lain mendukung kreativitas dan inovasi sebagai bagian dari perkembangan seni.


Dengan demikian, Sound Horeg tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cermin dari dinamika sosial dan budaya Indonesia.


Dalam menghadapi polemik ini, penting bagi semua pihak untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif, mencari solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian tradisi.


Sebagai bagian dari warisan budaya, keberadaan Sound Horeg diharapkan dapat menjadi jembatan, bukan penghalang, bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia. (Bintang Agung Bakti Pratama)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Budaya #kontroversi #sound horeg #fenomena #perdebatan #polemik