RADAR JOGJA - Susu ikan tengah dipertimbangkan sebagai pengganti susu sapi dalam program makanan bergizi gratis yang digagas oleh presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Susu ikan menjadi perhatian setelah diusulkan sebagai alternatif pengganti susu sapi.
Usulan ini awalnya disampaikan oleh Direktur Utama Holding Pangan ID FOODS Sis Apik Wijayanto dalam rapat kerja bersama DPR RI.
Rencana ini tentu saja mendapat kritikan, terutama dari para ahli gizi.
Salah satunya disampaikan dr. Tan Shot Yen. Dia menekankan bahwa sumber protein tidak harus dari susu.
Namun bisa juga daging sebagai protein hewani dan kacang-kacangan sebagai protein nabati.
Di samping itu, susu ikan harus melalui beberapa tahap pemrosesan untuk menjadi bubuk, yang menjadikannya termasuk pangan ultra-proses.
Susu ikan adalah cairan yang diperoleh dari proses ekstrasi atau pengolahan ikan, bukan susu biologis dari mamalia, produk ini dihasilkan dari ikan tertentu.
Pemerintah menilai bahwa nilai gizi susu ikan setara dengan susu sapi.
Susu ikan diklaim mengandung berbagai nutrisi penting seperti EPA, DHA, dan Omega-3 yang tinggi, bebas dari alergen, serta memiliki tingkat penyerapan protein yang mencapai 96 persen dan mudah diserap oleh tubuh.
Sekedar untuk diketahui, produksi susu sapi perah di Indonesia di lansir dari laman bps.go.id angkanya mencapai 123.903,80 liter pada 2023. Atau dengan total nilai Rp 819.970.150.
Sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, kebutuhan susu di Indonesia saban tahunnya mencapai 4,3 juta ton.
Kontribusi susu dalam negeri terhadap kebutuhan susu nasional baru sekitar 22,7 persen. Sisanya masih dipenuhi impor.
Harapannya pada tahun 2025 target pemenuhan kebutuhan susu nasional dari susu segar dalam negeri bisa mencapai 60 persen. (Ahmad Fatkhurohman)
Editor : Meitika Candra Lantiva