Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa mengatasi krisis ini membutuhkan komitmen bersama yang kuat dari seluruh negara.
Dilangsir dari BMKG, Dwikorita menyampaikan hal tersebut dalam High Level Panel bertajuk Bandung Spirit di agenda World Water Forum (WWF) di Bali.
Baca Juga: 4 Zodiak Ini Paling Anti Diperintah! Cari Tahu Apakah Kamu Salah Satunya!
Ia memaparkan data analisis peta global yang menunjukkan bahwa debit rata-rata air sungai pada tahun 2022 yang dikategorikan normal hanya 38%.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak negara di dunia mengalami kekeringan.
Lebih lanjut, Dwikorita juga memberikan penjelasan bahwa perubahan iklim mencakup berbagai aspek, termasuk peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan, kenaikan permukaan air laut, serta dampaknya terhadap lingkungan dan manusia.
Baca Juga: Korlantas Luncurkan SIM C1, Diperuntukan Bagi Pengendara dengan CC Sebesar Ini..
Ia menegaskan bahwa penanganan krisis air ini harus disertai komitmen politik yang kuat, karena jika tidak, dampaknya akan sangat besar dan dapat memicu konflik.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk belajar dari apa yang telah dilakukan oleh The Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC) UNESCO, di mana selama 20 tahun telah berhasil mengatasi ketakutan akan bahaya tsunami yang dapat melanda setiap negara.
Dwikorita juga menekankan pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi krisis air.
Baca Juga: Akibat Pengemudi Mengantuk, Tabrak Dua Mobil dan Satu Motor di Jalan Affandi Gejayan Sleman
Baca Juga: Gaji Pelatih Liga Inggris Terungkap, Kieran McKenna dari Ipswich Town Merangsek ke Barisan Teratas
Baca Juga: Resmi Promosi, Leicester Terancam Sanksi Pengurangan Poin, Segini Kisaran Poin yang Akan Berkurang…
Ia berharap pendekatan di dalam pemerintahan dapat menjadi pendorong yang lebih kuat untuk negara-negara anggota dalam menindaklanjuti segala kebijakan yang telah dibuat demi kepentingan bersama.
Krisis air akibat perubahan iklim merupakan masalah global yang membutuhkan solusi bersama.
Komitmen politik yang kuat, integrasi sains dan teknologi, serta kearifan lokal menjadi kunci utama dalam mengatasi krisis ini.
Editor : Bahana.