Studi ini mengidentifikasi 15 indikator stres dan menempatkan Jakarta di peringkat kedua sebagai kota paling stres di dunia, hanya di bawah Kiev, Ukraina.
Dilangsir dari @infipop, penelitian menunjukkan bahwa orang yang tinggal di kota besar memiliki risiko depresi hampir 40% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan.
Faktor penyebabnya antara lain kesenjangan sosial, diskriminasi, dan minimnya interaksi sosial.
Kesulitan mengakses alam dan ruang hijau di kota besar dapat memperburuk kesehatan mental.
Hal ini karena alam memiliki efek menenangkan dan membantu mengurangi stres.
Kurangnya privasi dan keamanan di kota juga menjadi faktor penentu.
Dibandingkan dengan penduduk desa, orang kota lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, PTSD, dan bahkan skizofrenia.
Stimulasi berlebihan dan gaya hidup yang serba cepat di kota diduga menjadi pemicunya.
Polusi udara dan kebisingan di kota besar dapat mengganggu kualitas tidur, meningkatkan hormon stres, dan berakibat pada kesehatan fisik dan mental.
Penelitian menunjukkan bahwa penduduk kota lebih rentan terhadap insomnia dan kurang tidur.
Kehidupan di kota besar memang menawarkan banyak peluang, namun di sisi lain, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan jiwa.
Memahami faktor-faktor risikonya dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi kunci untuk menjaga kesehatan mental di tengah hiruk pikuk kehidupan kota.
Editor : Bahana.