Sang ayah, Abdul, mengungkapkan firasat sang anak sebelum kejadian kecelakaan maut tersebut terjadi.
Menurut Abdul, Intan anaknya sempat meneleponnya beberapa jam sebelum kecelakaan.
Intan meminta ayahnya untuk menjemputnya pada jam 10 malam dan memintanya untuk menggelar kasur dirumah karena ingin tidur bertiga dengan kedua orang tuanya sepulang dari kegitanya itu.
Lalu sebelum kejadian Intan juga sempat pamit untuk tidur saat menelepon orang tuanya.
Tak lama setelah itu, Abdul mendapat kabar duka tentang kecelakaan maut yang menimpa bus rombongan yang ditumpangi oleh anaknya yaitu SMK Lingga Kencana dan Intan menjadi salah satu korbannya.
Kepergian Intan yang mendadak ini tentunya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.
Kecelakaan bus maut yang terjadi di Ciater ini menjadi pelajaran penting bagi pihak sekolah untuk selalu memastikan keamanan dan kelayakan kendaraan yang digunakan untuk mengangkut para siswa karena kelayakan bus menjadi salah satu hal penting dan juga untuk menjaga keselamatan penumpang.
Editor : Bahana.