Fenomena ini berbeda dengan gelombang panas yang terjadi di negara lain, seperti Thailand dan Kamboja.
Cuaca panas di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kondisi maritim, peralihan musim, dan posisi semu matahari.
Meskipun demikian, masyarakat tetap harus menjaga kesehatan dan minum air putih yang cukup selama cuaca panas berlangsung.
Dilangsir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa cuaca panas yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah akibat gelombang panas atau heatwave.
Fenomena ini berbeda dengan gelombang panas yang melanda negara lain di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Kamboja, yang memiliki suhu jauh lebih tinggi.
Cuaca panas di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
Kondisi maritim
Indonesia memiliki laut yang hangat dan topografi pegunungan.
Hal ini menyebabkan naiknya gerakan udara, sehingga membantu mendinginkan permukaan secara periodik dan mencegah kenaikan temperatur secara ekstrem.
Peralihan musim
Saat ini, Indonesia sedang mengalami periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Peralihan musim ini menyebabkan berkurangnya pembentukan awan dan curah hujan, sehingga berakibat pada pemanasan permukaan dan suhu udara yang lebih panas.
Posisi semu matahari
Pada akhir April dan awal Mei, posisi semu matahari berada di atas lintang 10 derajat Lintang Utara, yang bertepatan dengan wilayah Asia Tenggara daratan.
Hal ini menyebabkan penyinaran matahari yang lebih terik dan memperparah kondisi panas.
Hingga awal Mei 2024, baru 8% wilayah Indonesia (56 Zona Musim atau ZOM) yang telah memasuki musim kemarau.
Pada periode hingga satu bulan ke depan, beberapa wilayah lain diprediksi akan memasuki musim kemarau. Namun, sekitar 76% wilayah Indonesia lainnya masih dalam periode musim hujan.
Cuaca panas di Indonesia saat ini bukanlah gelombang panas, melainkan fenomena alam biasa yang terjadi pada periode peralihan musim.
Editor : Bahana.